JAKARTA – Dalam rangka menyongsong usia 5 abad yang jatuh pada tahun 2027, DKI Jakarta semakin signifikan bertransformasi menjadi kota global dan berbudaya. Tak mau ketinggalan, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memberikan kontribusi kepada Jakarta melalui Southeast Asia–China Cultural Studies Center-IKJ (SACCI).
SACCI akan menjadi pusat kajian internasional yang fokus pada hubungan budaya antara negara-negara di ASEAN dan China. Peluncuran SACCI ini dilakukan bertepatan dengan seminar internasional yang digelar secara hibrida di Kampus IKJ, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (12/8/2025).
Rektor IKJ Prof Syamsul Maarif mengatakan, ide pembentukan SACCI berawal dari kunjungannya ke China sekitar tiga bulan lalu untuk menandatangani MoU dengan sejumlah perguruan tinggi di sana.
“Kalau hanya mengirim mahasiswa ke IKJ, itu kan skalanya pendidikan saja. Padahal penelitian dan pengembangan kajian budaya juga penting. Untuk itu, kita dirikan SACCI ini untuk mengkaji kolaborasi ASEAN-China dari berbagai aspek, khususnya budaya dan seni,” kata Syamsul.
Menurutnya, pusat kajian ini akan berkantor di Jakarta, tepatnya di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM). Selain akademisi dari IKJ, beberapa dosen dari Universitas Indonesia juga terlibat, meskipun dengan perspektif berbeda. Syamsul menambahkan, keberadaan SACCI juga akan menjadi sarana pelestarian budaya Betawi yang memiliki keterkaitan erat dengan budaya China. “Di IKJ ada Pusat Studi Betawi. Jakarta ini kan dipengaruhi dua budaya besar yakni China dan Arab. Pengaruh China terasa cukup kental, termasuk di musik Betawi,” bebernya.
Ia menambahkan, pelaksanaan seminar yang mengusung tema ‘Cultural Continuities and Innovations in Southeast Asia–China Relations’ dihadiri peserta dari berbagai negara, termasuk Vietnam, baik secara langsung maupun daring. “Pihak Kedutaan Besar China turut hadir di acara tersebut melalui First Secretary dan Third Secretary,” bebernya.
Syamsul menegaskan, keberadaan SACCI sejalan dengan branding Jakarta sebagai kota global. “IKJ berkontribusi dalam ekosistem kebudayaan Jakarta. Pusat kajian ini bukan hanya untuk IKJ, tapi juga untuk Pemprov DKI dan bahkan nasional,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Puspla Dirdjaja optimistis keberadaan SACCI akan memberikan dampak positif, khususnya dalam peningkatan kualitas pendidikan di IKJ serta memperluas jangkauan internasional kampus seni tersebut.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Mudah-mudahan IKJ dan kebudayaan di Jakarta ini tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri melalui karya-karyanya,” harapnya. Ia memastikan, program SACCI dapat bersinergi dengan kegiatan promosi seni dan budaya yang dijalankan Pemprov DKI. “Prinsipnya kami mendukung IKJ ikut memperkuat promosi Dinas Kebudayaan,” imbuh Puspla.
Menurutnya, melalui dukungan semua pihak, Pemprov DKI berharap budaya Betawi semakin dipromosikan melalui berbagai cara, baik oleh IKJ maupun elemen masyarakat lainnya,” pungkasnya. (jo)







Komentar