oleh

Dinkes Kota Bogor Sebut Korban Keracunan Massal Diduga Makan Nasi Boks Basi

BOGOR – Dinas Kesehatan Kota Bogor merilis, jika 93 warga Bogor Selatan, Kota Bogor yang keracunan, diduga berasal dari nasi boks di mana bumbu pada telur sudah mulai basi karena rasanya sudah asam. Dugaan ini berdasarkan hasil wawancara dengan para keluarga, saat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor melakukan investigasi penyebab warga yang keracunan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) lantaran banyak warganya yang mengalami keracunan usai memakan nasi boks. Tercatat 93 warga mengalami karacunan, satu di antaranya meninggal dunia.

Setelah penetapan KLB atas 93 warganya yang keracunan, Penjabat Wali Kota Bogor langsung memerintahkan dinas terkait untuk melakukan monitor 24 jam. “Ditetapkan KLB sehingga prosedur penanganan disesuaikan dan biaya penanganan maupun perawatan pasien ditanggung Pemkot Bogor,” kata Sekda Kota Bogor Syarifah Sofiah Dwikorawti, didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno, saat melihat dan mengecek kondisi para pasien yang tengah dirawat di Rumah Sakit Juliana, Jalan Raya Tajur, Kota Bogor.

Syarifah mengatakan, mereka yang mengalami keracunan memiliki gejala secara umum sama berupa mual, pusing dan perut mengalami diare. Penanganan harus intensif, harus cepat, fasilitas ambulans, petugas harus tersedia. “Intinya sarana prasarana pendukung, SDM, obat-obatan harus ada dan tersedia. Kalau fasilitas dan petugasnya kurang, tambahkan dari puskesmas lain. Kalau obat-obatan kurang, koordinasi dan kita cari,” ungkap Syarifah, dalam keterangan tertulis yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (4/6/2024).

“Jadi, penanganannya tidak skala puskesmas, tapi skala kota. Untuk penanganan korban datang ke puskesmas, setelah dilihat dan diperiksa, jika perlu perawatan lebih lanjut, maka puskesmas memberikan rujukan ke rumah sakit,” sambungnya.

Terkait kepastian racun bersumber dari makanan nasi boks di acara haul, Sekda menuturkan, untuk memastikan secara medis, Dinkes melakukan pemeriksaan laboratorium di BBLK Jakarta. Pemeriksaan dikakukan berdasarkan muntahan, feses dan sisa makanan para korban untuk mengetahui penyebab keracunan yang sampai menimbulkan korban jiwa. “Kalau secara organoleptik, secara fisik yang terlihat telur pada bumbu, tapi untuk melihat bakteri dan sebagainya, sedang diperiksa laboratorium,” ungkapnya.

Selain penyebab, informasi yang didapat Syarifah, ada 85 boks yang dibagikan dan sisanya dibuat rantang untuk dibagi, makanan yang diberikan, telah dimasak satu hari sebelum kejadian yaitu jumat malam. “Usia para korban mayoritas di usia 20 sampai 40 tahun. Ada lima pasien anak. Ada empat pasien kita rujuk ke rumah sakit karena kondisinya mengalami dehidrasi berat. Hari ini ada pasien baru sebanyak 19 orang dengan empat dirujuk ke rumah sakit, mayoritas pasien 20 sampai 44 tahun, hari ini ada lima pasien anak,” ujarnya.

Menurut Syarifah, banyaknya korban dan setiap hari butuh pertolongan medis, disebabkan nasi boks yang didapat dibawa pulang untuk kemudian dinikmati bersama anak, istri dan keluarga. “Data dan perunutan kronologis kejadian, ada yang sudah muntah setelah satu jam mengonsumsi makanan tersebut. Ada yang sehari setelahnya, ada juga beberapa yang terasa pusing, muntah dan diare. Tergantung daya tahannya karena berdasarkan keterangan keluarga korban, ada juga salah satu anggotanya yang tidak keracunan ketika ikut memakan bagian kuning telur,” paparnya.

“Khusus untuk satu korban jiwa, laki-laki berusia 29 tahun. Kita tetap periksa apakah faktor keracunannya atau memiliki penyakit penyerta. Mudah-mudahan para korban yang masih dalam proses perawatan segera sembuh dan bisa kembali ke keluarganya,” harap Syarifah.

Sementara Pj Wali Kota Bogor Hery Antasari mengungkapkan keprihatinan dan mendoakan agar para pasien segera lekas pulih. Hery menyayangkan peristiwa itu dan menyatakan keprihatinan kepada para korban. Ia juga mendoakan agar para korban lekas pulih. “Dan untuk korban yang meninggal kami ikut berduka-cita, semoga diberikan tempat yang terbaik,” ucap Hery, Selasa (4/6/2023).

Pemkot Bogor, lanjut Hery, terus intens dan memonitor serta sudah ditetapkan sebagai KLB sehingga dilakukan monitor selama 24 jam. (*/yopi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *