oleh

Peringati Hari Farmasi Dunia, Pemprov DKI Gelar Edukasi Obat-obatan Kepada Apoteker dan Masyarakat

JAKARTA – Dalam rangka memperingati World Pharmacists Day (WDP) atau Hari Farmasi Dunia, Pemprov DKI Jakarta menggelar kegiatan edukasi obat-obatan untuk masyarakat. Kegiatan tema ‘Jaga Obat, Jaga Masyarakat: Kolaborasi Strategis untuk Strategis untuk Mewujudkan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat’ berlangsung di Balaikota, Jumat (25/9).

Kegiatan untuk masyarakat dan kalangan apoteker digelar bersama BPOM di Jakarta dibuka oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim. “Apoteker memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait penggunaan obat secara tepat. Edukasi ini perlu disampaikan ke masyarakat untuk mencegah penyalahgunaan obat, peredaran obat ilegal, hingga resistensi antibiotik,” kata Ali.

“Apoteker memegang peran kunci sebagai penggerak kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi obat secara rasional, memberikan tuntunan terapi yang tepat, menekan efek samping, menjaga ketersediaan pasokan obat yang terjamin, serta memagari warga dari risiko penyalahgunaan obat dan peredaran obat ilegal,” ujar Ali.

Jakarta menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks seperti kebiasaan pengobatan mandiri tanpa pemahaman memadai, resistensi antibiotik, serta penyalahgunaan obat-obatan Tramadol, Dextromethorphan, Trihexyphenidyl, dan Haloperidol. “Penegakan hukum perlu diimbangi langkah preventif melalui edukasi yang melibatkan apoteker, keluarga, kader PKK, aparat, dan pemangku kepentingan lainnya,” tandas Ali.

Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Savitri Handayana mendorong 61 Agent of Change yang baru dikukuhkan untuk memperluas edukasi penggunaan obat secara aman dan rasional. Masyarakat juga diingatkan tidak membeli obat sembarangan melalui platform daring.

“Jangan mengakses atau membeli obat sembarangan. Kita memiliki fasilitas kesehatan yang cukup, mulai dari rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, hingga layanan yang dapat hadir langsung ke rumah warga,” katanya.

Savitri menerangkan, edukasi juga diperluas kepada keluarga mengenai bahaya penyalahgunaan obat keras serta pentingnya memastikan legalitas produk perawatan kulit melalui BPOM. “Dinkes DKI, turut memperkuat edukasi melalui portal DIMBA, skrining obat rumah tangga bersama kader PKK, serta survei kepatuhan pengobatan diabetes melitus,” ucapnya.

Direktur Muda Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Lucia Rizka Andalusia menambahkan, pelayanan kefarmasian harus disertai informasi yang benar kepada masyarakat. Apoteker perlu memastikan masyarakat memahami cara menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan tepat.

“Teman-teman apoteker, sekali lagi tolong menjadi garda terdepan dalam pemberian obat-obatan, juga menjaga dan memberikan edukasi informasi yang benar,” tutur Lucia. Ia juga meminta para agen perubahan menularkan pengetahuan kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG), perlu ditindaklanjuti dengan akses pengobatan, pemantauan, dan kepatuhan pasien menjalani terapi. “Mari kita jaga masyarakat kita, mari kita sehatkan masyarakat Indonesia untuk sumber daya manusia yang lebih baik,” tandasnya. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *