oleh

Waspadai Virus Terorisme Indonesia

POSKOTA.CO – Melalui kerja keras semua pihak, insya Allah, virus Corona akan bisa diatasi dan segera berlalu. Saat ini grafik kasusnya cenderung melandai. Negara negara sahabat yang berhasil pulih akan segera menular ke negeri kita. Dukungan total tenaga medis, teknologi kesehatan, disiplin warga dan optimisme semua pihak, akan mengatasi semua.

Namun ancaman virus Corona bukan satu satunya yang merusak sendi sendi negara kita tercinta, Indonesia – selama ini, di masa kini dan akan datang. Ada ancaman lain yang masih terus menggerogiti di depan dan di sekitar kita – yakni “Virus Terorisme”.

Virus Terorisme di Indonesia didukung oleh sikap dan berkembangnya paham intoleransi, eksklusifisme – ajaran merasa paling benar – dan sikap antipati pada golongan dan agama lain – yang terus mengibarkan permusuhan pada pemerintah yang sah.

Rasa kesatuan kita sebagai satu bangsa dari perbedaan suku dan adat sudah teratasi karena ada kawin mawin. Orang Jawa, Sunda, Betawi, kawin dengan orang Batak, Minang, Makassar, Ambon dan sebaliknya. Ribut antar suku sudah berkurang, menyusut. Terminimalisir.

Akan tetapi, hubungan di antara muslim – dari kelompok tertentu – dengan umat non muslim dan minoritas di pihak lain – masih bermasalah. Lahirnya Islam baru – Islam Revivalis, HTI, Ikhwanul Muslimin, bangkitnya kaum fundamentalis radikal – romantisme DI/TII pro negara Islam, bergabung dengan Islam impor dari Arab Mesir dan Libya – membangkitkan ketegangan melalui ajaran garis kerasnya.

Merujuk pada konflik ego yang menghancurkan sejumlah negara di gurun Sahara sana mulai berjangkit di sini. Sedikit ada friksi langsung berkobar menjadi aksi rusuh dan jadi isu nasional.

Sesungguhnya mayoritas muslim Indonesia bersikap toleran. Masjid, gereja, pura dan vihara berdiri berdampingan. Namun kelompok intoleran dan kaum kadrun – kadal gurun – kini menguasai panggung dan media sosial.

Di rak buku saya, ada buku “Ancaman Virus Terorisme”, terbitan Grasindo, 2017. Saya beli tahun lalu di TB Gramedia – Margonda, Depok. Ditulis oleh pakar intelejen dan militer yakni Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan. Saya berteman dengan beliau, saling sapa di FB – sebagai sesama jemaah Majelis Fesbukiyah – meski belum pernah bertemu.

Dialah yang mengingatkan kita semua adanya virus terorisme.

Oom Pray – begitu saya memanggilnya – merupakan jendral yang langka. Karena beliau piawai menulis dan berlatar belakang ilmu intelejen. Biasanya orang intel enggan tampil dan ‘low profile’. Di balik layar. Oom Pray merupakan pengecualian.

Kajiannya akurat, sistematis berbasis akademik, didukung data dan fakta. Berpengalaman kerja di badan badan intelejen paling diandalkan negara, seperti Diaspansanau, Spamau, Bais TNI, BNPT, dan tim analisis strategi Kemenhan RI. Dia juga menimbang dari banyak sisi. Selain ‘feeling’ subyektifnya berdasarkan pengalaman di lapangan.

Mengapa penulis buku ini menyebut terorisme sebagai “virus?”

Oom Pray menjawab dalam kata pengantarnya : “..virus adalah penyakit yang tidak terdeteksi oleh mata dan hanya ahli kesehatan tertentu yang bisa mendeteksinya. Nah, dalam masalah ancaman virus terorisme keinginan besar terbentuknya khilafah masih sangat besar di banyak negara termasuk di Indonesia”. Begitu juga dalam strategi merekrut pengikut dan mengonsolidasikan umat, lebih bervariasi walaupun ada perbedaan antara ISIS dan Al Qaeda. Tak kasat mata seperti virus.

Saat khalifah Timur Tengah hancur dana yang didapat dari penguasaan kilang minyak di Irak dan Yaman dialirkan ke luar negeri. Ancaman virus terorisme yang berasal dari Al Qaeda tetap bergerak aktif. Meski tertutup.

Kelebihan pelaku terorisme masa kini adalah inisiatif ada di tangan masing masing dari mereka. Tak ada komando pusat. Ada banyak “lone wolfe” yang sudah terasuki ajaran teror – menunggu momentum dan memanfaatkan kelengahan aparat. “Oleh karenanya counter terrorism haruslah cerdas dan cerdik serta bekerja dengan terstruktur dan teratur, ” saran Oom Pray di buku ini.

Aparat keamanan Indonesia harus lebih fokus karena beberapa kali mengalami kecolongan sejak bom Bali 2002, nasehatnya dalam buku setebal 340 halaman dengan 80 artikel ini.

VIRUS teroris di Indonesia didukung oleh media sosial lokal dan global. Teroris bukan hanya dia yang merakit bom dan meledakkan diri – menyerang aparat – melainkan juga mereka memainkan jari di smartphone, menyebar paham sesat, hoaks dan pesan kebencian – memecah belah dan meresahkan masyarakat.

Saat ini paham intoleran radikal sudah menyusup ke kampus kampus negeri dan BUMN. Dosen, direktur, rektor apalagi mahasiswa bahkan pilot maskapai sudah banyak yang jadi kadrun. Terpapar dan positif radikal.

Ceramah ceramah pro HTI yang sudah resmi dilarang di Indonesia dan kelompok simpatisan ISIS -sebagai musuh negara beradab di seluruh dunia – masih diberi tempat di BUMN – BUMN dan kampus kampus milik negara.

Ceramah antiPancasila dan permusuhan kepada negara difasilitasi oleh perusahaan perusahaan yang notabene milik negara sendiri. Satu per satu masjid yang dikelola NU dan Muhamadiyah – sebagai ormas penjaga NKRI – jatuh ke kelompok “SaWah” (Salafi-Wahabi) dan PKS – “franchise” Ikhwanul Muslim Mesir yang terlarang di berbagai negara Timur Tengah.

Benalu, parasit sudah merebak di rumah ibadah kaum muslim mayoritas. Tak heran ada pesan dan sikap perlawanan terhadap pemerintah datang dari speaker masjid. Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pun diturunkan lewat masjid – meniru modus di Aljazair sebagaimana diajarkan oleh konsultan politik E’ep Saifulah Fatah. Pengamat dan akademisi pro Kadrun.

Teroris bom panci dan pencermah geng intoleran punya kosa kata yang sama, yakni “pemerintah RI dzalim”, “pro komunis”, “pro asing / aseng” – “anti Islam” dan “anti ulama”.

Karena itu, buku Marsda TNI (Purn.) Prayitno Ramelan alias Oom Pray yang menelisik jejak teror di Indonesia dan dunia ini sangat relevan dengan situasi sosial politik negeri kita di hari ini.

Penyebutan “virus terorisme” olrh penulis sebagai judul di masa sebelum merebak “virus Corona” saat ini, terasa “futuristik”.
Orang Jawa dari generasi saya menyebutnya sebagai “ngerti sadurunge winarah” – mengerti sebelum kejadian. *(supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *