oleh

Mimpi di Siang Bolong yang Bodong

POSKOTA.CO – Pada saat beralih tugas dari Muanza ke Gorongoza, kami melapor di police head quarter Beira. Kami dipertemukan dengan tim yang akan bertugas ke Gorongosa. Saya dan Mayor Burhan dari Indonesia, Muhammad el tauki, Salim Mahfuz Salim dan Ecladios Medhad dari Mesir. Yoze carlos matius pinto ( dari portugis), sorang mayor dari Bolivia nama aslinya lupa saya panggilnya pak de dan satu orang dari pakistan nama sebenarnya lupa karena saya memanggilnya amita bachan atau lik chan.

Saking suka main paraban atau memberi nama baru nama aslinya lupa. Kami di pos yg lebih besar dari pos Muanza. Kami awalnya tinggal di Hotel Azul yg dikelola oleh orang keturunan portugis saya memanggilnya petruk krn hidungnya panjang spt petruk. Kami disiapkan 3 kamar yg berbeda.

Saya pikir kita bisa tidur berdua bersama sama dg tim kontingen PBB lainnya yg ditugaskan di Gorongosa. Begitu kami masuk kamar jadi terkejut ternyata satu kamar ukuran 4x 6 dipakai 6 orang. 3 orang lokal yg kami tidak kenal juga satu kamar dg kami. Apa boleh buat hari sudah sore seharian belum makan. Kami pesan makan siang menu ayam kpd si petruk.

Kami nongkrong di cafe hotel Azul yg sebenarnya sekelas warteg. Kami menunggu makanan siap saja kurang lebih 1 jam setengah. Saat hidangan keluar kami rasanya sudah kembung angin. Kamipun mengalah dg menyantapnya dg lahap walau rasa jelas bukan standar asia atau eropa ” ini afrika bung “. Kami tinggal beberapa hari di hotel Azul dengan kamar mandi di luar untuk mandi rame rame atau antre satu satu.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Kami kemudian menyewa rumah yg cukup representatif di samping hotel Azul. Yang merupakan rumah terbaik di Gorongosa. Kami patungan menyewa kalau tidak salah 350 $ perbulan. Air hrs nimba sendiri. Kami dapat kamar satu orang satu kamar. Ada tempat tidur dan lemari. Di gorongosa ada listtik jam 18.00 sd 24.00 kadang jam22.00 sdh dimatikan.

Pada suatu ketika cuaca di Gorongosa sangat panas menyengat kulit mungkin lbh dr 40 derajat dan silau di mata. Maklum waktu itu kami tdk dibekali alat ukur suhu. Yang pokok dan mendasar saja kurang hehehe. Pada saat puncaknya udara panas saya tiduran siang hari di balkon. Lagi lagi saya bermimpi.

Di dalam mimpi saya didatangi bule tinggi besar langsung mencekik saya. Saya berusaha melawan sekuat tenaga dan bisa lepas. Saya terbangun, saya masih ngantuk sekali waktu itu. Mencari kegiatan membunuh waktu sangat sulit krn panas. Saya pterpaksa atau saya paksakan tidur lagi. Eh si buli monyong datang lagi langsung mencekik saya lagi saya lawan dan saya dapat lolos lagi. Saya terbangun lagi.

Hawa panas mata ngantuk sekali. Terpaksa tidur lagi. Eh si bule dateng lagi. Kali ini sikapnya ramah dan memberi tahu kalau dia menyimpan emas di bawah pohon pepaya. Setelah itu tdk muncul2 lagi. Saya bisa beristirahat tidur nyenyak. Keesokkan harinya saya melakukan survei bertanya di mana ada pohon pepaya pada masa penjajahan Portugis.

Informasi yang kami dapatkan simpang siur. Setelah bbrp hari kami ngobrol dg kaum2 tua yg kira2 pernah melihat ada pohon pepaya pada masa itu. Lokasi ada di halaman samping kiri rumah dekat tembok luar. Saya mencari orang lokal 3 orang untuk menggali tanah tsb. Ternyata apa nyatanya tanah tsb seolah membatu. Sdh bekerja seminggu lebih batu dpat kedalamanan sebatas betis orang dewasa. Sangat aneh memang.

Saya perintahkan terus menggali. Seakan akan tanah yg digali tdk dalam dalam. Kami dan tim penggali juga heran. Mereka bekerja keras seakan sia sia. Masalah mimpi tdk saya pikirkan seperti petunjuk mimpi di Muanza. Cuaca mulai bersahat udara sejuk semilir segar. Dan yang lebih segar lagi ada surat dari head quarter pasca pemilihan umum semua post monitor semua ditutup kembali province head quarter dan persiapan ke Maputo untuk pulang ke tanah air.

Rasanya plong walau produk mimpi di siang bolong bodong alias tidak ada hasil. Namun yang sudah terbayang adalah kata kata pramugari yang mengumumkan : ” sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta……..” -CDL- Menjelang fajar mengingat cerita lama Jakarta 25 pebruari 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *