oleh

Membaca Memoar GKR Hemas, Putri Tentara yang Meluluhkan Pangeran Yogyakarta

POSKOTA.CO – Kalau Anda menyangka membaca memoar istri raja yang juga istri gubernur tidak menarik, membosankan dan hanya menonjolkan baik baik dan yang indah indah saja – Anda keliru. Setidaknya dari buku kenangan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) dari Keraton Ngayogyakarta ini. Buku ini pengecualian.

Baiklah saya berikan “teaser”-nya. GKR Hemas, dengan nama remaja Tatiek Dradjat merupakan satu satunya anak perempuan di keluarga tentara di Kebayoran Baru Jakarta – yang dididik keras oleh ayahnya yang tak ragu “main tangan”. Termasuk kepada anak perempuan satu satunya ini. Dia enam bersaudara – yang semuanya lelaki.

Sejak SMP, Tatiek Dradjat sudah punya “geng” di Tarakanita – Jakarta, hobinya ngebut, bandel, berpenampilan tomboy, suka bolos dan sampai jadi Ratu di Yogyakarta belum bisa bahasa Jawa.

Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito alias Sri Sultan Hamengkubuwono X bukan pacar pertama baginya. Sang Pangeran sempat dia tinggal kuliah di Jerman karena masih ragu, namun luluh juga oleh bujukan ibunya agar si tomboy ini mau menerima lamaran anak Raja Yogyakarta itu.

Kehidupan Kraton Jogya yang mengungkung dengan banyak aturan membuatnya tak betah hingga sempat angkat koper balik ke rumah orangtua di Jakarta. ‘Purik’. Tapi belum sempat masuk rumah, ayahnya mengantarkan balik ke bandara. “Kamu sudah bersuami, kamu balik ke rumah suamimu, apa pun yang terjadi, ” bentak si bapak.

Lalu ia melahirkan lima anak yang semuanya perempuan. Mewarisi watak bapaknya dia mendidik anaknya dengan keras dan disiplin. Semua anaknya masuk sekolah katolik. Si bontot Reni masih klas III SMP ketika diterbangkan ke Singapura. Melanjutkan sekolah di sana. Penolakan, protes, ngambek si anak tak digubris. Demo, mogok makan, pura pura sakit panas, bahkan pingsan, tak mempan. Pengaduan pada si ayah tak berlaku. Sang Raja pun ikut kata Ibu Ratu.

Kelak semua anaknya menyadari maksud baik ibunya. Mereka bahkan menjuluki sang Mama sebagai “Super Mom”
Tatiek Dradjat yang remaja tomboy memang sudah bertransformasi menjadi GKR Hemas yang anggun. Tapi kegemarannya ngebut di jalan tidak. Gusti Kanjeng Ratu Kraton Jogya ini punya cara unik untuk menguji nyali semua calon mantunya: adu balap mobil!

BAGIAN yang bikin senyum senyum dari buku ini adalah cara BRM Herjuno yang anak bangsawan Jogya memacari Tatiek, gadis Jakarta yang tomboy. Dalam menyampaikan rasa cintanya kerap menyanyikan tembang Jawa “uyon uyon” pada gadis Kebayoran, warga Jl. Limau, yang tak paham bahasa Jawa itu.

Meski anak Raja, uang saku Herjuno pas pasan membuat si anak raja Jogya ini sempat menjalani hidup sebagai tukang foto keliling. Cinta Herjuno yang membara membuat dia mau berpayah payah naik kereta api atau bus ke Jakarta di bangku ekonomi.

Mereka kerap nonton di bioskop Megaria – Menteng. Kalau tiketnya mahal dia bilang “filmnya jelek”. “Tidak menarik” jadi tidak jadi nonton.

Masa itu, harga tiket bioskop bergantung pada judul dan jenis filmnya. Bangku penontonnya juga terpisah dan berkelas kelas dari Balkon hingga klas III. Ada jeda istirahatnya juga.

PADA akhirnya semua menantu Sri Sultan HB X dan GKR Hemas bukan dari kalangan berdarah biru, bahkan bukan orang Jawa juga. Ada yang dari Lampung dan Jakarta.

Hal itu tak lepas dari Sri Sultan HB X dan GKR Hemas yang menjalani kehidupan yang moderat. Sri Sultan juga hanya memiliki satu isteri, “Garwa Padmi” sekaligus Permaisuri. Tidak ada “Garwa Ampil” atau Selir.

Menurut saya, setelah membaca buku ini dan sekilas menyimak wawancara Sri Sultan HB X di teve – selain trauma pada Ayahanda Sri Sultan HB IX yang banyak isteri/selir juga kualitas persona GKR Hemas sendiri yang paripurna yang membuat HB X tak berpaling ke wanita lain.

Namun di sisi lain – bagian yang tidak ditulis di buku setebal 268 halaman ini – nampaknya itu yang mendorong adik adik Sri Sultan HB X bersemangat mengincar posisi Singgasana Kraton Jogya, lantaran semua anak kakaknya yang lima orang itu perempuan. Tak boleh jadi Raja. Dan pergolakan serta perebutan tahta singgasana Kraton di DIY itu masih berlangsung, hingga sekarang ini.  (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *