oleh

Mau Tahu Ciri Pewawancara TV yang Sukses dan Pewawancara TV yang Ego

-Komunitas-1.028 views

POSKOTA.CO – Pewawancara yang melakukan malpraktik jurnalisme dengan mengarahkan, memancing emosi, mengadu domba, memotong pernyataan dan bergaya interogasi kepada narasumber, sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh awak televisi melainkan juga oleh jurnalis media cetak.

Perbedaannya, jurnalis teve lebih kasat mata, karena mimik wajah, gestur, celetukan, dengus nafas dan tawa sinisnya – langsung terlihat penonton.

Para pewawancara di teve yang umumnya tidak berlatar belakang jurnalistik atau diarahkan oleh produser acara – yang juga tidak berlatar belakang jurnalistik – cenderung tergoda untuk menonjolkan si pewawancara ketimbang narasumbernya. Demi mengejar rating dan sukses programnya.

Pewawancara yang cantik / ganteng juga cenderung ingin menonjolkan diri. Pamer ego. Ingin membuktikan bahwa dia bukan hanya cantik / tampan, tapi juga pintar.

Ciri cirinya nampak ketika menyampaikan pertanyaan yang panjang panjang, cenderung “menjelas-jelaskan” – agar kamera lebih lama menyorot wajahnya.

Pada akhirnya yang nampak kehadiran narasumber untuk membenarkan dan melengkapi asumsi asumsi yang sudah dibangun dan disusun pemilik acara sejak rapat redaksinya.

“Nanti kamu tanyakan itu…. Arahkan supaya jawabannya …..jangan lupa singgung dan pancing dengan itu..nanti kamera close up ya … bla .. bla .. bla…” begitulah arahan dan rapat skrip, sebelum pengambilan gambar (‘taping’).

Ada produser acara yang menganggap sebuah wawancara berhasil bila narasumber bereaksi spontan dan emosional.
Kenapa saya tahu detail itu? Karena saya pernah ada di sana! Di balik program teve dan jadi narasumbernya.

HOST program teve kini menjadi profesi menggiurkan. Selain menjanjikan popularitas, juga fulus dan fasilitas yang lumayan. Yang tak kalah menarik, koneksi luas dan akses ke tokoh tokoh elite, VIP, dan pihak paling kompeten di bidang apa saja.

Bermodal kecantikan dan ketampanan, “good looking” – sebagaimana yang tampak di layar teve – kecerdasan, respon cepat dan pintar bertanya, menjadi syarat utamanya. Materi pertanyaan biasanya disuplai tim kreatif dan produser.

Inti dan goals dari program wawancara adalah menjelaskan duduk perkara yang sedang aktual agar penonton dan masyarakat mendapatkan kejelasan dari pihak yang kompeten dan terlibat.

Tugas host adalah membawa narasumber ke hadapan pemirsa, mengajukan pertanyaan singkat dan selanjutnya biarkan narasumber bicara hal yang diketahui, sesuai kewenangan atau bidang keahliannya.

Skeptis – tidak menerima begitu saja keterangan narasumber – memang harus dipunyai pewawancara agar terus mengulik dengan pertanyaan berikutnya. Dan itu juga yang diharapkan dari penonton.

Akan tetapi cara bertanya yang kelewat gigih, memancing emosi, sinis, tidak santun dan berkesan menyelidik dan interogasi – menjadi kebablasan, dan mengubah sosok jurnalis menjadi jaksa dan interogator di kepolisian.

SECARA UMUM host dan pewawancara yang efektif adalah dia yang mengajukan pertanyaan singkat, terbuka, tapi bisa mendapat jawaban narasumber yang panjang dan runtut.

Sebaliknya pewawancara yang gagal adalah dia yang mengajukan pertanyaan panjang dan “menjelas jelaskan pertanyaan” tapi jawaban narasumbernya malah pendek saja.

Jawaban narasumber :
“Ya, memang begitu”
“Saya kira begitu”
“Saya setuju saja!”

Lebih gagal lagi kalau si pewawancara puas dengan jawaban itu sambil memperlihatkan wajah riang, seolah olah berkata, “Benar ‘kan yang saya bilang? Saya ‘kan pintar !”

ADA banyak referensi wawancara teve yang sukses dan menyenangkan. Sukses dan menyenangkan bagi penonton narasumber dan si host yang mewawancara. Tidak hanya di luar negeri melainkan di dalam negeri.

Selama puluhan tahun acara Larry King Show, Oprah Wenfrey dan Ellen DeGeneres bertahan karena warga Amerika Serikat, bahkan dunia, menyukainya. Tidak ada debat kusir, adu domba dan saling ngotot di sana.

Andy F. Noya di MetroTV termasuk pewawancara teve yang adem, santun dan menghadirkan tokoh tokoh inspiratif.

Kebetulan Andy F. Noya berlatar belakang jurnalistik, alumni IISIP Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.( Supriyanto Martosuwito)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *