oleh

Kepada Kawanku yang Tak Kukenal

POSKOTA.CO – Nashar sering ke perpustakaan dan dia membaca bbeberapa buku tentang seniman seniman besar. Ia bisa melihat repro repronya dengan kualitas cetak yang bagus. Ia membaca tentang kehidupan Van Gogh. Dan juga surat surat Van Gogh kepada adiknya Theo Van Gogh.

Ia memahami dan bahkan ia meminjamnya ke rumah, ia bertekad ingin membeli buku itu namun ia tidak tahu harus beli ke mana dan yang jelas ia tidak mempunyai uang untuk membelinya. Ia nekad buku itu tidak ia kembalikan sampai ia pun pernah dicari orang untuk menagih buku itu.

Saya jadi teringat anekdot tentang pinjam meminjamkan buku : ” meminjamkan buku adalah suatu kebodohan, sedangkan mengembalikan buku yang di pinjam adalah lebih bodoh lagi”. Saya tak hendak membela Nashar yang tidak mengembalikan buku yg ia pinjam dari perpustakaan.

Saya hanya ingin menunjukkan kemiskinan keterbatasan apapun yang dimiliki tidak menyurutkan niat Nashar yg haus untuk belajar. Dari buku surat-2 Van gogh kepada Theo Nashar pun memahami akan hidup dan kehidupan seorang pelukis Belanda yang tragis hidupnya. Nashar iri atas kehidup Van Gogh yang memiliki Theo untuk menjadi tempat curhat dan Theopun merespon.

Nashar sendiri tidak memiliki siapa tempat curhatnya dan merespon pemderitaannya. Nashar ingin membeberkan isi hati dan pemikiran pemikirannya kepada siapa saja dan akhirnya memutuskan untuk menulis surat. Ia menemukan jalan memecahkan kebuntuannya itu dg menuliskan surat kepada kawanku yang tak kukenal. Ini mungkin pelepasan jiwa yang ia dapat bebas lepas ceritakan.

Kepada kawanku yang tak kukenal menunjukkan bahwa Nashar berkeyakinan akan ada yang sefrekwensi dengannya. Ia terus melukis dan menulis apa saja yang ia pikirkan dan rasakan untuk pemenuhan kebutuhan batinnya. Nashar sangat peduli akan penderitaan orang lain ia ingin membantunya walaupun ia sendiri tak berdaya.

Bisa saja Nashar terinspirasi atas surat surat Van Gogh kepada Theo dan iapun mulai menuliskan surat suratnya walau ia tidak memiliki tempat curhat. Ia terus saja menulis apa saja tentang kehidupan tentangbkesenian tentang sikap ayahnya tentang pandangan pandangannya.

Seakan surat surat itu menjadi pelipur laranya menjadi pelepas kebuntuan komunikasi sosial bahkan menjadi jembatan jiwa kepada publik kalau saya boleh katakan demikian. Orang menjadi paham dan dapat merasakan jiwa pemderitaan dan memahami atas karya karyanya. Saya jadi teringat quote sastrawan Budi Dharma yang menulis demikian : ” kebesaran seseorang dapat dilihat dari karya yang ditulisnya. Maka kalau ingin jadi orang besar menulislah”.

Surat surat Nashar membuktikan bahwa ia menjadi besar salah satunya berkat dari tulisan tulisannya. Menulis bagi Nashar merupakan suatu dialog bebas lepas yg memerdekakan jiwanya. Ia tidak merasa ada ganjalan atau sumbatan dalam benak dan hatinya. Bisa jadi melukis menjadi obat peredam jiwanyabyang menggelora segala sesuatu dpat ia alirkan di situ.

Nashar mengetahui dan mampu menjelaskan mengapa di barat lahir berbagai isme. Menurut dia di barat telah memiliki kemampuan dan pemahaman kebudayaan pada taraf tertentu shg ada pemikiran konstruktif atas karya dan pengembangan seni dan budayanya.

Pemahaman atas pemikiran konstruktif ini bukan hal sederhana karena pd tataran pemikiran konstruktif di sini acalah kemampuan membangun imajinasi dalam menghubung hubungkan antara konsep ataupun teori yg baku untuk menemukan atau mengabstraksikan shg mampu menemukan hakekat dari hubungan hubungan konsep tadi dlm prinsip prinsip yg mendasar dan berlaku umum untuk menjelaskan suatu fenomena. Apa yang dikatakan Nashar adalah suatu analisa atas apq yangbia pelajari apa yang ia baca bahkan ia sendiri mampu mengcounternya dlm konsep 3 nonnya itu.(chryshnanda DL)

 15 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *