oleh

Kaum Jaran Keplakan Merajalela

POSKOTA.CO – Sumber daya manusia (SDM) senantiasa digembar gemborkan sebagai aset utama bangsa, apakah benar sudah diimplementasikan dalam memenuhi amanah konstitusi untuk mencerdaskannya? Bangsa yang majemuk ini bangsa yang berbhineka yang mampu saling menyadari menghormati dan membanggakan keberagamannya? Antara yang ideal dengan aktual bisa berbeda bahkan bertentangan.

Konflik yang terjadi sering kali nampak bagitu mudahnya provokasi membakar emosi massa. Begitu bangganya pamer ketololan ketololan. Tanpa malu malu mengatasnamakan dari rakyat hingga Tuhan untuk pembenaran dan kepentingan yang ujung ujungnya ingin dominan dan mendominasi sumber daya.

Konteks primordial ini dikemas sedemikian rupa dibumbu bumbui berbagai label dari kerakyatan sd kesucian bisa digunakan. Diviralkan dihembus hembuskan kebencian dg melabel dan menjustivikasi. Analogi ” asu gedhe menang kerahe” ini berlaku bagai hukum rimba.

Model preman menjadi pilihan bahkan kaum terhormatpun memanfaatkan. Dalam pemikiran Platon yg ditulis romo setyo wibowo dalam majalah basis kurang lebih dikatakan demikian :” rakyat bagai big animal and beast. Yang hanya mencari kesenangan dan menjauhi hal hal yg tdk disukainya.

Para kaum sofis ini memahami dan mampu memanfaatkan serta mengendalikanya. Kapan menyenang nyenangkan, kapan mengalah, kapan memaksanya bahkan memgancamnya”. Shg binatang besar dan kasar tadi dapat dijadikan jaran keplakan dan tunggangannya. Besar kuat makan banyak namun bodoh. Mudah dibakar emosinya. Mudah diadu domba. Mudah ditipu daya dan sebagainya.

Semua itu akibat daya nalar atau logika yg cupet. Primordialisme bgt diagung agungkan bahkan disakralkan. Spirit pokok e dengan pekok enya yg saling dupak dupakan, pithes pithesan saling menjatuhkan. Model balung kere, seperti kisah burung manyar dan monyet yg saling serang. Kisah raja gila pakaian karya HC anderson bs dijadikan acuan.

Apa yg diajarkan bagi penyiapan dan regenerasi sdm mash ada: model karbitan, KKN, pendekatan personal yg mengabaikan kompetensi. Model palak memalak, gaya feodal, membangun klik dan core value yg bertentangan dari yg ideal. Jabatan kekuasaan yg dilabel basah di dewa dewakan, sebaliknya yg dilabel kering dianggap bagian air mata.

Tanpa sadar intinya inti bukan pada keutamaan melainkan bagaimana bisa memperoleh wahyu keprabon atau mendapatkan budi dari kepiawaiannya mengelola sumber 2 daya sbg buluh bekti glondong pangareng areng. Stratifikasi sosial muncul dalam kasta materi bukan prestasi.

Konteks inilah yg dpat dilihat bagai pasar yg mostly dilakukan dg wani piro oleh piro. Semua ini dilakukan bukan karena kebodohannya atau kelalaiannya melainkan dari kelihaiannya. Akanya bukan untuk proaktif dan problem solving melainkan untuk akal akalan.

Kesempatan dalam kesempitan ibarat golek balen. Bisa dibayangkan kualitas moral yg naif semua serba pamrih. Ibarat tanaman baik belum tumbuh sudah dimatikan bagai terhimpit ilalang. Istilah bener durung temtu pener. Bener yen ora umum iku salah, salah yen wis umum dadi bener. Siap grak! Hadap kanan grak! Satu hadap kanan 99 hadap kiri. Siapa yg gila ?

IQ, EQ dan SQ yg seringkali menjadi acuan standar SDM bisa saja baik namun tatkala memgjadapi kenyataan idealismenya tak lagi kuat, luntur menguap di mana lingkungan tdk mendukung. Banyak yang memilih menjadi safety player. Ada yang hanyut, bahkan malah malah ikut mempelopori.

Parahnya lagi tatkala kaum2 ningrat : politik, akademisi maupun birokrat hingga masyarakat tatkala sudah luntur keutamaannya ini menunjukkan adanya bom waktu yg menunggu kapan meledaknya. Kembali pada konteks analogi platon tentang rakyat yg dikatakan sbg big animal and beast rasa rasanya ya oke pendapat yg sudah ribuan tahun berlalu masih berlaku.

Analogi jaran keplakkan bisa saja digunakan tatkala SDM tak lagi memiliki keutamaan. Tambahlagi kaum ningratnya menjadi juru keplaknya. Di sini bingung di sana untung. Bisa dibayangkan tatkala kaum jaran keplakkan merajalela dan berkuasa, apakah semua langkah menunggu dikeplaki? Semoga tidak. (CDL) Mercure 7 juni 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *