oleh

Hadapi Musibah Dengan Kesabaran

KATA sabar terulang di dalam Al-Qur’an lebih dari tujuh puluh tempat. Di dalam berbagai ayat tersebut dapat dilihat bahwa Allah Swt. menganugerahi orang-orang yang memegang teguh sifat sabar dengan berbagai keutamaan. Selain itu, berbagai kebaikan dan derajat yang terhormat juga dijanjikan-Nya sebagai buah dari sikap terpuji ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 155-157, : “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar; (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali); mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah”. (HR. Al Bukhari). “Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar.” (HR. Ahmad & Abu Dawud). “Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqah (yang kita keluarkan).” (HR. Athabrani).

Kesabaran termasuk sifat pokok yang harus ada pada diri manusia yang bijaksana. Termasuk sifat orang yang penyabar ialah tenang dalam kepribadian, dan mampu menguasai perbuatan, reaksi, dan emosi dirinya.

Kesabaran adalah penghulu akhlak. Dengannya kita dapat mengendalikan banyak sekali akhlak, tabiat, dan kebiasaannya. Bahkan bukan itu saja, dengannya kita sebagai manusia juga dapat menciptakan lahan yang subur bagi jiwa kita, untuk memiliki sifat-sifat keutamaan yang lain.

Sifat sabar itu mempunyai keutamaan-keutamaan yang besar. Hajat kita sebagai manusia akan sifat sabar, amat nyata dalam segala keadaannya. Perintah dan anjuran mengenai sifat sabar ini, banyak terdapat di dalam Al-Qur’an dan al-Hadits, dan telah dikenal secara luas.

Allah Subhanahu Wataala telah berfirman, : “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah, (2) ayat 153). “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (al-Baqarah, (2) ayat 45).

Dalam ayat itu Allah memerintahkan hamba-Nya supaya menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dirinya untuk memperoleh hasil yang dicita-citakan, demi kebaikan dunia dan akhirat. Sabar merupakan pangkal segala ibadah. Orang yang kehilangan nilai ibadahnya, otomatis akan kehilangan kesabarannya. Orang yang menjumpai kesulitan dalam urusannya, dan mendapatkan musibah yang bertubi-tubi, sehingga ia tidak menemukan jalan keluarnya, dengan berbekal sabar ia pasti akan keluar dari kesulitannya.

Karena itulah Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Dari Abi Malik Al-Asy’ari r.a. diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Bersuci adalah setengah dari Iman. Al-Hamdulillah (pahalanya) memenuhi timbangan amal, Subhanallah dan Allahu Akbar (pahalanya) memenuhi langit dan bumi. Shalat adalah cahaya. Sedekah adalah argumen. Sabar adalah sinar. Al-Qur’an adalah hujjah bagimu dan hujjah pula yang ditujukan kepadamu. Setiap orang pagi-pagi (cepat-cepat), ada yang menjual dirinya, ada yang menyelamatkan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR. Muslim).

Di dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa iman itu terbagi dua. Pertama sabar, sedang kedua syukur. “Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan”. (HR. Athabrani & Al Baihaqi).

Karena itu, seorang Mu’min sangat berhajat kepada sifat sabar, terutama ketika menghadapi bala’ dan bencana, kesulitan dan kesusahan, dan segala macam penganiayaan. Yakni, manakala kita ditimpa suatu musibah, maka kita tidak boleh berputus asa. Malah kita harus bersikap tenang dan lapang dada, tidak merasa kesempitan dan bosan, dan tidak pula mengadukan halnya ke sana ke mari.

Kita harus senantiasa menghadap Allah dengan penuh khusyu’ dan khudhu’, memohon dan merendahkan diri kepada-Nya, seraya menyangka baik kepada-Nya. Sesudah itu, hendaklah kita meyakini, bahwa segala bala’ dan bencana yang ditimpakan Allah kepada kita, merupakan ujian yang mengandung banyak kebaikan seperti, meningkatkan derajat, melipatgandakan pahala dan menebus dosa, sebagaimana telah diriwayatkan oleh beberapa hadits.

Rasulullah Saw. bersabda, : “Tidak ada yang menimpa seorang Mu’min dari bala bencana, atau kesusahan, atau kecemasan, hingga duri yang menusuk tubuhnya, melainkan Allah akan menebus dengannya segala dosanya.” (HR. Al-Bukhari).

Nabi Muhammad Saw. bersabda, : “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah”. (HR. Tirmidzi).

Rasulullah Saw. bersabda, : “Allah menguji hamba-Nya dengan mènimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang keluar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memàng ditimpa fitnah (musibah).” (HR. Athabrani). “Barangsiapa diuji lalu sabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu istighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah.” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 96). “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka.” (QS. al-Qashash:54). Dan firman-Nya, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar:10).

Dengan sedikit contoh ayat di atas itu kita sudah mendapat gambaran jelas tentang begitu mulianya kesabaran. Sesungguhnya setiap kebajikan yang dilakukan telah ditakar ganjarannya, kecuali kesabaran.

Jika kita ingin sukses dan selamat, bahagia dalam hidup ini, terutama dalam mendapat musibah, maka kita harus berpegang kepada penghulu akhlak, yaitu kersabaran. Orang yang sabar pasti dicintai oleh Allah Swt. dan mendapat pahala. Wallahu A’lam bish Shawab.

Karsidi Diningkat
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *