JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menghadirkan tiga agenda nasional di Surabaya pada November 2026, yakni Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI), Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konferensi Nasional Tata Kelola dan Akreditasi Jurnal Ilmiah (KTJI). Ketiga agenda tersebut menjadi upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi, mendorong transformasi pendidikan tinggi, serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia agar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Melalui penyelenggaraan KSTI, KPPTI, dan KTJI, Kemendiktisaintek berupaya membangun keterhubungan antara riset, pendidikan tinggi, dan publikasi ilmiah dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
KSTI diarahkan untuk mempertemukan inovasi dengan kebutuhan masyarakat dan industri melalui hilirisasi hasil riset. KPPTI memperkuat transformasi dan kolaborasi perguruan tinggi agar semakin berdampak, sedangkan KTJI mendorong peningkatan kualitas serta integritas publikasi ilmiah nasional.
KSTI Hadirkan 490 Produk Riset dan Inovasi dari Seluruh Indonesia
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemendiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman dalam taklimat media yang digelar Senin (2/11/2026), menjelaskan bahwa KSTI menjadi wadah untuk mempertemukan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dengan masyarakat, pemerintah, serta dunia industri.
Dalam penyelenggaraannya, Kemendiktisaintek telah melakukan survei selama dua bulan terakhir dengan melibatkan kampus-kampus di seluruh Indonesia. Dari proses tersebut, terkumpul sekitar 850 produk yang kemudian melalui tahap kurasi. Hasilnya, sekitar 490 produk riset dan inovasi akan ditampilkan kepada masyarakat.
Tidak hanya menghadirkan produk, KSTI juga mendatangkan para inventor agar masyarakat dapat berdiskusi langsung mengenai proses pengembangan, manfaat, serta potensi pemanfaatan hasil riset tersebut.
Fauzan menyebut terdapat dua aspek utama yang menjadi perhatian dalam expo KSTI, yakni permasalahan yang dihadapi masyarakat dan solusi yang dihasilkan melalui riset serta inovasi dalam negeri.
Sejumlah inovasi yang akan ditampilkan mencakup teknologi pendukung penyandang disabilitas, kendaraan listrik, pengembangan teknologi kereta cepat, pesawat tanpa awak atau UAV, teknologi mitigasi bencana, deteksi kebakaran, hingga inovasi alat kesehatan.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan kursi roda berbahan serat karbon oleh Universitas Negeri Yogyakarta. Teknologi tersebut diharapkan mampu menghasilkan kursi roda buatan Indonesia yang lebih ringan dan kompetitif untuk mendukung aktivitas penyandang disabilitas, termasuk atlet paralimpik.
Selain itu, terdapat pengembangan kendaraan listrik oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), teknologi UAV untuk pemetaan dan mitigasi bencana, serta inovasi alat kesehatan dari sejumlah perguruan tinggi.
KSTI juga menghadirkan layanan publik dan konsultasi dari berbagai kementerian serta lembaga. Di antaranya layanan terkait pengembangan alat kesehatan, sertifikasi, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hingga akses katalog pengadaan pemerintah. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat dan industri.
Untuk memperkuat keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri, KSTI juga menghadirkan business matching. Hingga paparan disampaikan, tercatat sebanyak 117 mitra industri telah menunjukkan ketertarikan untuk berpartisipasi dan sekitar 50 kerja sama telah disiapkan.
KPPTI 2026 Dorong Transformasi Pendidikan Tinggi yang Berdampak
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menjelaskan bahwa Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) merupakan agenda untuk memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kapasitas kelembagaan perguruan tinggi di Indonesia.
Mengusung tema Transformasi Pendidikan Tinggi untuk Berdampak, KPPTI 2026 menjadi kelanjutan dari penyelenggaraan pertama pada 2025 di Surabaya. Jika penyelenggaraan sebelumnya lebih menekankan konsolidasi gagasan dan penguatan kolaborasi antarkampus, tahun ini konferensi diarahkan pada penguatan praktik transformatif yang dapat memberikan dampak lebih luas.
KPPTI 2026 menghadirkan empat subtema utama, yakni Sustainable Development Goals (SDGs), teknologi digital dan kecerdasan artifisial, ekonomi rakyat, serta inklusivitas dan humanisme.
Melalui empat subtema tersebut, perguruan tinggi didorong untuk memperlihatkan kontribusinya dalam pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pembelajaran, penguatan ekonomi masyarakat, serta perluasan akses pendidikan yang inklusif.
Selama tiga hari penyelenggaraan, KPPTI akan menghadirkan empat subtema, 12 sesi tematik, dan 48 pemaparan praktik baik dari berbagai perguruan tinggi. Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi pleno, pameran, pasar seni, serta klinik layanan publik.
Terdapat pula tiga program strategis yang menjadi perhatian, yaitu pengembangan Digital Maturity Index untuk mengukur kematangan transformasi digital perguruan tinggi, pengembangan kerangka yuridis kecerdasan artifisial dalam mendukung pembelajaran, serta penguatan konsorsium rumah sakit pendidikan.
Selain forum diskusi, Kemendiktisaintek juga akan membuka layanan langsung atau on the spot selama penyelenggaraan konferensi. Layanan tersebut mencakup bidang komunikasi publik, data dan sistem informasi, karier, kelembagaan, akreditasi, serta pembelajaran.
Dari sisi partisipasi, sebanyak 88 institusi atau lembaga telah terdata untuk mengikuti pameran. Sementara itu, jumlah pendaftar peserta telah mencapai sekitar 1.300 orang dan ditargetkan terus bertambah hingga lebih dari 2.000 peserta.
Melalui KPPTI, hasil diskusi dan praktik baik dari berbagai perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program serta kebijakan pengembangan pendidikan tinggi menuju Indonesia 2045.
KTJI Fokus Perkuat Tata Kelola dan Kualitas Publikasi Ilmiah
Agenda berikutnya adalah Konferensi Nasional Tata Kelola dan Akreditasi Jurnal Ilmiah (KTJI) yang akan diselenggarakan pada 9 November 2026 di Surabaya.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyampaikan bahwa KTJI menjadi forum baru yang secara khusus membahas penguatan ekosistem publikasi ilmiah nasional, mulai dari tata kelola jurnal, akreditasi, hingga integritas akademik.
Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki sekitar 29.076 jurnal ilmiah, dengan kurang lebih 16.000 jurnal telah terakreditasi. Namun, jurnal yang berada pada peringkat akreditasi tertinggi masih relatif sedikit. Hanya sekitar 1,5 persen jurnal yang berada pada peringkat Sinta 1, sementara sebagian besar lainnya masih berada pada peringkat Sinta 4, 5, dan 6.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penyelenggaraan KTJI untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas publikasi ilmiah Indonesia.
Menurut Najib, penguatan ekosistem publikasi ilmiah juga perlu diiringi dengan upaya menjaga integritas akademik. Sejumlah persoalan seperti jurnal predator, jurnal yang tidak memiliki tata kelola baik, serta praktik publikasi yang tidak memenuhi standar akademik menjadi perhatian dalam konferensi tersebut.
KTJI akan menghadirkan berbagai pihak, mulai dari pengelola jurnal perguruan tinggi, penerbit, perpustakaan, asosiasi keilmuan, hingga komunitas akademik. Forum ini juga melibatkan sejumlah penerbit internasional, seperti Taylor & Francis, Elsevier, Emerald, iGroup, dan penerbit lainnya.
Berbagai sesi akan membahas penguatan kepercayaan publikasi, peningkatan visibilitas jurnal di tingkat global, tata kelola penerbitan, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab dalam dunia akademik.
Selain diskusi, KTJI juga akan memberikan penghargaan kepada sembilan jurnal terbaik dari tiga bidang keilmuan, yakni STEM, sosial humaniora, dan multidisiplin. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi tolok ukur bagi jurnal-jurnal lain untuk meningkatkan kualitas dan memperluas kolaborasi internasional.
KTJI menargetkan sekitar 750 peserta di ruang utama. Namun, jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 879 orang secara luring, ditambah sekitar 1.000 pendaftar daring. Untuk mengakomodasi antusiasme tersebut, penyelenggara menyiapkan ruang tambahan di sekitar lokasi utama.
Ketiga agenda tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, pemerintah, dan industri, tetapi juga menghasilkan kolaborasi serta langkah konkret untuk memperkuat daya saing ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia.







Komentar