oleh

Crisnanda: Kongkow Seni, Ori atau KW

POSKOTA.CO – Membahas lukisan asli atau kw ( takut mau bilang repro atau jiplakan) memang tidak mudah. Merepro bukan hal yang dilarang asal tidak diaku-akukan sebagai yang asli. Ini pidana. Selain melanggar hak kekayaan intelektual ini juga pembodohan yang memalukan dan membuat citra buruk dalam dunia seni.

Kejujuran merupakan suatu landasan bagi seni. Tatkala sudah memalsu atau tidak jujur nilainya tidak ada. Ada cerita salah satu pelukis senior yang karyanya banyak dipalsu kalau mengecek dg membawa cutter. Kalau palsu langsung disobek. Dia menganggap pemalsuan itu merusak citra dan melakukan pembohongan kepada publik.

Para pemalsupun juga belajar adan melihat apa yg menjadi pola atau model dari pelukis yg dipalsukan. Ada satu hal yang tidak bisa ditiru adalah roh atau jiwa dari karya. Namun ini suatu hal yang tidak mudah dan perlu pembelajaran pengenalan bahkan ada hubungan emosional dan personal dengan si senimannya.

Bincang bincang tentang lukisan Kw dalam kongkow seni ini saya kaitkan dengan mas doni blero ( db), pak gatot eko cahyono ( Gec), pak aisul yanto ( ay) dan mas yulianto lietiono ( yl ).

Db : Sebagai informasi ada karya Nashar, ukuran 100 x 145 cm, tahun 1970. Sekedar informasi, teman yang mengkoleksi beberapa karya asli Rusli dan Joko Pekik. Karya Rusli yg kanvas

Cdl: Sekilas memang tema yang sering dilukis Nashar dan ada api kok detail ya. Biasanya Nashar tidak membuat detail

Db: Coba cari referensi yg tahun 70 Dulu Pak Chrysh untuk pembanding. Coba saya tanya sejarahnya dulu Pak Chrys sama yg punya

Cdl: Iya mas, Polanya sama. Ya bisa saja bener asli tapi ada bbrp yg ragu mas. Memang perlu lihat karya aslinya. Membahas seni budaya itu asyik walau kadang bikin kepala cekot cekot hhhh. Saya senang dan terhibur walau lihat foto dan dapat ceritanya sdh cukup bahagia

Db : Ya Pak, mmg suka dukanya sll ada . ini baru banyak bersliweran karya2 bagus di fb ada karya Rustamadji ( klaten). Coba cek fb nya Pak Chrysh

Cdl: Sepertinya kok grengnya ragu ya mas, tapi ya bisa saja saya salah karena melihat di media ada distorsinya.Gambar dn teknik serta warna, terus dramatikalnya penataan orang2nya kok rada beda ya.

Db : Setau saya orang yang punya memang nyimpen karya2 orisinil. Ada karya But Mochtar juga

Cdl: mempelajari ori atau tdk mmg mumet hhh
Tdk hanya pemgalaman ttp jg pemahaman
Kolektor atau galeri saja bs terjebak.

Db : Betul, Sudah master bisa keliru juga. Kapan kalau ke Jogja bisa saja main liat2 langsung.

Cdl: pengalaman dan pemahaman memang perlu selain teknis warna garis tanda2 yg biasa dilakukan gaya juga tema dan jiwa. Coba perhatikan ya mas di semua karya Rustamadji sll ada sesuatu yg tdk lazim dikerjakan pelukis lain. Tanpa sadar itu yg menjadi karakternya. Realisnya ada yg aneh rasanya tapi bagus dan enak dilihat

Db : Klau tidak salah itu karya tahun 1990 atau 1999 agak tidak jelas tulisannya. Meninggal tahun 2001, karya akhir2 itu.

Cdl: Bisa jadi mas. Pak rustamadji mmg salah satu maestro realis indonesia. Yg perlu diangkat kembali

Db : Ya dulu pernah pameran di Tembi juga bareng kelompok Klaten.

Cdl: Saya lihat di bentara budaya yg temanya retospeksi rustamadji

Memahami Ori dan kw Gm sudarta dalam kongkow bersama GEC

Cdl : pak Gatot ini ada karya yg stylenya spt pak GM sudarta tapi kok ada sesuatu yg meragukan pd tanda tangan dan tulisnya

Gec : Stylenya kok kadosipun inggih pak. Tapi apa ada TTD mas GM pak ?
Cdl: Stylenya iya pak. Style memang sangat mirip nggih. Ini saya tanyakan bu pety njawbnya bgn : “Tapi,aku koq ragu ya,krn modèl klo busananya gitu,model rambutnya gak kyk gitu. Bu pety malah mengirimkan tiga karya mas GM asli sebagai pembanding.

Cdl: lukisan yang dikirim bu pety ada stempelnya pak spt model lukisan china atau jepang. Kalau tidak salah style ini dibuat setelah pak GM sudarta pulang dari jepang. Tanda tangangan beliau dari dharta, GM Sudaharta dan juga model cap ala lukisan china atau jepang. Kalau saya tidak salah memperhatikannya.

Gec : Nggih pak. Kalau saya berkomentar ttg karya nashar yg 3 figur tadi saya melihat tahun 70 an masa masa Nashar masih suka melukis yg figuratif. Ya memang perlu didalami karena ada kemungkinan kesalahan inderawi kita. Coba apa pendapat pak Aisul dan mas Yulianto

Ay : Melihat foto lukisan tadi saya antara sangsi dan tidak pak. Kalau liat aslinya mungkin lebih membantu. Warna ok ya pak Model ok tapi penggabungan warna kok ragu ya

Cdl: Cara pak nashar melukis tidak mempercatik atau bisa dikatan tanpa pamrihnya besar dan kuat

Ay : Nggih deformasi tangan niku pak..

Kongkow seni ini juga dengan Yulianto Liestiono

YL : Melihat lukisan Nashar yg mas chrysh kirim menurut sy perlu berbagai informasi untuk meyakinkan mas baik pewarnaan teknisnya sejarahnya, bagian sudutnya. kala di croping jadi meragukan karena komposisinya jadi gak standard. Kalau secara keseluruhan, rasanya asli mas. Yg dikirim sebagai pembanding dalam kelompok 7 foto bagus bagus kecuali yg no 1 yg wajahnya putih. Akan lebih akurat kalau lihat lukisannya langsung.

Cdl: Betul mas.

Memahami ori atau kw setidaknya memahami bbrp faktor :
1. Mengenal pelukisnya secara personal atau melalui referensi2 yg akurat.
2. Teknis dan pola melukisnya dr warna atau pewarnaan, pemilihan obyek, penggunaan media, pemilihan tema atau obyek, penempatan posisi obyek yg dilukis
3. Tanda2 yang menjadi ikon atau simbol dari pelukisnya.
4. Memiliki pembanding dengan karya karya lain dan referensi2 yg relevan
5. Menangkap jiwa atau taksu dari karya karena karya merupakan refleksi jiwa si seniman.
6. Uji materi secara laboratoris
7. Sejarah atau masa pembuatan karya
Ke 7 point di atas bs saja diabaikan tatkala ada keyakinan dan ada jaminan. Bisa juga dikembangkan untuk lebih memahami ori atau kw. (cdl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *