oleh

Apa Mau Dikata Tatkala Raga Kehilangan Jiwa

POSKOTA.CO – Pepatah mengatakan dari mata turun ke hati, manusia yang dilihat dan terlihat yang pertama tentu dari raganya. Raga yang paling mudah ditangkap indera. Raga tidak selalu sama bahkan bisa berbeda dengan jiwa. Bagai kaleng yang isinya tak sesuai merknya.

Tatkala raga yg merajai hati dan jiwa terabaikan bahkan dihilangkan. Kesukaan yang ragawi secara subyektif menjadi acuan. Kuasa menjadi rebutan, karena di situ sumber daya ada untuk diperebutkan. Semakin kaya sumber daya yang dimiliki semakin besar potensi konfliknya. Apalagi masyarakatnya masih kental primordialismenya. Issue labeling dan kebencian menjadi cara mengeruhkan suasana.

Gepuk gepukan di antara anak sesama dan sesaudaranya terus menjadi pemandangan sehari hari. Mudah dan lincah saling hina cela maki salingbmenyalahkan saling serang bahkan saling membunuh dg mudah dilakukan. Segala sesuatu kalau sudah dilabel primordialisme apapun issuenya tanpa dikunyah langsung telan dan segera membakar jiwa raga seakan tak perlu logika jadilah amuk merajalela.

Media kini seakan menjadi dunia dan jembatan yg merupakan ruang baru lahirnya warga mayantara. Terlebih lagi media sosial di situ seakan apa saja siapa saja boleh berbuat apa saja. Dari yang mencerahkan sampai merusak, membangun sampai meruntuhkan menyatukan sampai membubarkan negara ada di sana. Hujan pujian hingga caci maki lengkap. Pamer kecerdasan hingga pamer ketololanpun ada.

Raga memang onggokkan daging saja jika tanpa jiwa. Apa yg dilakukan raga tak lagi ada makna hampa belaka. Akankah semua takdirnya menuju ke sana ? (Cdl) Fajar menyingsing 070221

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *