oleh

Peristiwa Malang Jangan Dianggap Sepele, Alexius: Polri Harus Dapat Mengungkap

POSKOTA.CO – Peristiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang yang menelan korban sekitar di atas 150 jiwa selepas laga Arema FC vs Persebaya Surabaya jangan dianggap sebagai tragedi yang sepele atau sederhana, sebab hal ini sudah menjadi sorotan dunia.

Pengamat hukum Alexius Tantrajaya,SH, Mhum, menyatakan sangat prihatin dan sedih terhadap kasus tersebut, apalagi dalam tragedi itu sampai menelan korban jiwa cukup banyak. Seperti yang diberitakan, peristiwa dalam pertandingan sepak bola tersebut tercatat dalam rekor kematian kedua di dunia.

“Ya, saya sebagai advokat sangat prihatin dan sedih atas peristiwa yang menelan ratusan jiwa tersebut. Tentunya kita tidak bisa hanya menyalahkan petugas dalam hal ini polisi sampai mengeluarkan gas air mata ketika melerai aksi suporter yang tidak puas atas kekalahan tim kesayangannya, Arema FC di kandangnya sendiri saat melawan tim Persebaya, Surabaya,” ucapnya.

Kepentingan Pihak

Menurut advokat senior ini, seharusnya pihak keamanan bisa tegas bertindak sebelum para suporter melakukan aksinya. Ironisnya, jatuhnya korban cukup banyak akibat kerusuhan dan jangan peristiwa tersebut dikait-kaitkan dengan kebijakan perintah seperti kenaikan harga BBM.

“Jadi jangan sampai hal ini dimanfaatkan pihak yang mempunyai kepentingan untuk mengganggu stabilitas keamanan negara menjelang Pilpres tahun 2024,” tegasnya.

Oleh karenanya peristiwa ini tidak boleh dianggap sebagai peristiwa sederhana. Tetapi Polri harus bisa mengungkap dan menjadikan peristiwa ini dalam skala prioritas untuk diungkap oleh tim Polri selaku penegak hukum.

“Ya, saya berharap aparat kepolisian harus segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap atas peristiwa tersebut. Apakah peristiwa terjadi secara spontanitas yakni reaksi seketika atau sudah direncanakan agar terjadi kerusuhan yang menimbulkan banyak menelan jiwa korban,” pungkas anggota Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) ini.

Terkait tragedi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyampaikan, pemerintah menyesali tragedi dan berharap keluarga korban bersabar.

Mahfud menegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan bukanlah bentrok antara suporter Arema FC, Aremania dengan Persebaya, Bonek. Sebab, pada pertandingan itu Bonek tidak boleh ikut menonton. Dengan demikian, suporter di lapangan hanya dari Aremania.

Menurut Mahfud, korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak nafas. “Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antar supporter,” terang dia. Mahfud menambahkan, pemerintah telah melakukan perbaikan pelaksanaan pertandingan sepak bola dari ke waktu dan akan terus diperbaiki.

“Tetapi olahraga yang menjadi kesukaan masyarakat luas ini kerap kali memancing para supporter untuk mengekspresikan emosi secara tiba-tiba,” imbuh dia.

Sehingga para suporter turun ke lapangan dan mengejar para pemain dan official, selanjutnya petugas melakukan upaya-upaya pencegahan dan melakukan pengalihan supaya para suporter Arema tidak masuk ke dalam lapangan, ataupun mengejar para pemain.

Dalam upaya tersebut petugas terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata, karena situasi pada saat itu mulai tidak kondusif. Para suporter Aremania menyerang petugas dan merusak 13 mobil dinas, 10 diantaranya milik Polri.

Sementara Kapolri Listyo Sigit menegaskan bahwa, Polri akan menindaklanjuti instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan terjadinya peristiwa tersebut. Sigit menekankan, timnya telah dikerahkan untuk mengusut tuntas terkait dengan proses penyelenggaraan, pengamanan sekaligus melakukan investigasi terkait dengan hal itu. (Hbw)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *