oleh

Jaksa Ungkap Penyitaan Uang Pribadi Milik Saksi di Depan Hakim Ketua

POSKOTA.CO – Pengadilan Negeri Serang kembali menggelar persidangan kasus BJB cabang tangerang, Rabu (14/4/2021) pada sidang kali ini pihak Kejati Banten menghadirkan beberapa saksi untuk dimintai keterangan nya dalam persidangan.

Salah satu saksi yang bernama Djuanningsih mengatakan bahwa saudara terdakwa Dera transfer ke saya itu dengan alasan untuk membayar utangnya sebesar Rp1,5 milliar waktu dia wanprestasi dalam berbisnis.

Di sisi lain Ketum GPHN RI Madun Hariyadi membenarkan adanya dugaan tindak pidana korupsi di BJBb Cabang Purwakarta yang dilakukan oleh para terdakwa kasus BJB Cabang Tangerang dengan modus yang sama, saya sangat yakin para terdakwa ini memang pemain, ucap Madun saat di konfirmasi Kamis, (15/4/2021).

“Terdakwa Dera pada waktu itu akan melakukan pembelian barang di saya akan tetapi tidak jadi padahal saya sudah membeli barang, akibat pembatalan sepihak itu saya di rugikan sebesar Rp3 miliiar, dan dia masih ada hutang dengan saya,” kata Djuaningsih.

‌Keterangan saksi selanjutnya soal dokumen kontrak kerja yang diduga fiktif, pada saat itu saya di telepon sama Unep Pejabat Pembuat Komitmen dari Dinas Pendidikan di Sumedang untuk mengambil sebuah dokumen, dan saya menyuruh staf kami yaitu Wawan untuk mengambilnya.

Majelis Hakim mempertanyakan kembali kepada saudara saksi Djuanningsih untuk apa mengambil dokumen tersebut, apakah Djuanningsih pernah membuka dokumen nya dan lalu dokumen nya buat apa?

Lanjut Djuanningsih menerangkan bahwa dokumen itu langsung saya serahkan ke saudara terdakwa Kunto, saya mengenal saudara Kunto itu adalah sebagai Kepala Cabang Bank BJB.

Djuaningsih melanjutkan keterangan nya mengenai sertifikat yang dipinjam terdakwa Kunto “Pada waktu akad kredit itu sertifikat aslinya masih diagunkan Bank BRI, dan Bank BJB tidak mempertanyakan bahwa sertifikat copyannya karena untuk keperluan administrasi nya dahulu,” ujar Djuanningsih.

Djuanningsih juga sempat merasa aneh kenapa sertifikat miliknya yang akan di gunkan ke BJB belum diserahkan tetapi akad kredit nya bisa cair. “Hebat bener si Kunto ini, jaminan belum ada kok kredit bisa cair,” ujar Djuanningsih.

Selanjutnya Jaksa penuntut umum memperlihatkan barang bukti berupa transaksi berupa transferan dan kwitansi pembayaran utangnya saudara terdakwa Dera kepada saksi Djuanningsih.

Saksi menjelaskan bahwa sebelum terjadi akad kredit terdakwa dera memang memiliki utang kepada saya, dan hingga saat ini masih ada sisa hutang terdakwa dera yang belum di lunasi.

Jaksa penuntut umum menanyakan kembali soal kontrak kerja yang diserahkan pada terdakwa Kunto Aji, saksi Djuanningsih menerangkan bahwa saudara Unep menelepon Ibu Djuanningsih untuk mengambil sebuah SPK, dan langsung diserahkan kepada saudara terdakwa Kunto.

Djuanningsih menambahkan keterangannya di persidangan bahwa dokumen itu adalah sebuah SPK, dan menjelaskan saya pun sudah tidak mempercayai terdakwa Dera dan lebih mempercayai terdakwa Kunto karena dia (red) adiknya dari Bupati Bandung dan dijanjikan oleh saudara terdakwa Kunto sebesar 50 juta akan tetapi itu hanya janji semata karena tidak sepersen pun dana yang masuk ke rekening tabungan saya.

Pada akhir persidangan hal mengejutkan terjadi ketika Jaksa penuntut umum mengungkapkan kepada Majelis Hakim bahwa ada uang yang dititipkan saksi Djuaningsih dan suaminya sebesar Rp2,3 miliir pada rekening Kejati Banten hal ini sempat membuat majelis hakim dan yang hadir di ruang sidang kembali kaget.

Karena suami Djuanningsih Djodi Setiawan dengan suara lantang menyampaikan kepada majelis hakim gara-gara permintaan penyidik uang sebesar Rp2,5 miliar usaha saya menjadi bangkrut.

Djodi Setiawan juga menyampaikan kepada majelis hakim kalau tidak melunasi uang Rp2,5 miliar dan uang komitmen penyidik mengatakan tidak tanggung jawab dan akan menjadikan Djodi sebagai tersangka,”terang Djodi Setiawan kepada majelis hakim.

Kemudian hakim menanyakan uang yang dititip itu uang pribadi atau uang dari terdakwa, Djuanningsih kembali menjelaskan itu uang pribadi saya dari jual beberapa mobil tahun 2019, jual perhiasan dan dari uang pinjaman,” ujar Djuanningsih.

Hakim ketua kemudian mengatakan akan mempertimbangkan uang dari saksi Djuanningsih sebesar Rp2,3 miliar yang saat ini masih dititipkan di rekening Kejaksaan Tinggi Banten. (ftr/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *