POSKOTA. CO – Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai sekitar 3,8 juta ton/tahun. Namun, kemampuan produksi kedelai dalam negeri hanya berkisar 800 ribu ton/tahun.
Produksi kedelai dalam negeri cenderung masih belum optimal. Di sisi lain, permintaan kedelai terus meningkat akibat tingginya konsumsi sehingga pemerintah harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Melihat peluang ini, Tim Pemulia IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura merakit varietas kecipir sebagai pengganti kedelai.
Inovasi yang dirancang sejak tahun 2016 dengan menghasilkan tiga varietas yaitu Sandi IPB, Melody IPB dan Fairuz IPB ini diprakarsai oleh Prof Dr Muhamad Syukur dan beranggotakan Dr Arya Widura Ritonga, Sulassih, SP, MSi dan M Alfarabi Istiqlal, SP, MSi.
“Pemenuhan kedelai, dibutuhkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu alternatif yang dapat digunakan yaitu melalui optimalisasi pemanfaatan kacang-kacangan lokal. Kacang-kacangan lokal memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pendamping kedelai karena memiliki kandungan gizi yang hampir sama dengan kedelai dan dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan Indonesia. Jenis kacang yang dapat digunakan dalam upaya pemanfaatan kacang lokal sebagai pendamping kedelai yaitu kecipir dan kacang tunggak. Kedua jenis kacang-kacangan ini dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, kecap, dan miso,” ujar Prof Muhamad Syukur, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University.
Ia menegaskan, Kecipir adalah tanaman asli Indonesia. Kandungan gizi protein biji kecipir adalah 30-35 persen sebanding dengan kandungan protein biji kedelai. “Untuk produktivitas biji kecipir dapat mencapai 4 ton/hektar. Saya sayangkan, sampai tahun 2019, belum ada varietas yang resmi dilepas oleh Kementerian Pertanian, sehingga pengembangan kecipir di petani relatif terhambat,” kata Prof Syukur.
Untuk kacang tunggak, Prof Syukur menegaskan, bisa dikembangkan Indonesia karena mampu dibudidayakan di lahan kering marginal. Kandungan protein kacang tunggak adalah 20-25 persen dan produktivitas mencapai 4 ton/hektar.
“Varietas kacang tunggak masih terbatas sehingga perlu terus dikembangkan varietas baru. Pada 10 Agustus 2022 bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), IPB University melakukan launching inovasi varietas kecipir dan kacang tunggak ini, bertempat di Gedung rektorat, Kampus Dramaga, Bogor,” paparnya sambil menegaskan, ketiga varietas tersebut telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas dan Perizinan Pertanian.
“Dua diantaranya yaitu Melody IPB dan Fairuz IPB telah mendapatkan sertifikat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Kementan tahun 2022. Ini adalah sertifikat PVT yang pertama untuk varietas kecipir di Indonesia,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University ini lagi.
Albina IPB telah dikembangkan sebagai bahan pembuatan tempe, dengan nama Tempe Sehat Albina. Merek Tempe Sehat Albina telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM tahun 2020.
Ia melanjutkan, produksi dan pemasaran Tempe Sehat Albina bekerjasama dengan PT Mastero Circle Indonesia. Tempe Sehat Albina diproduksi melalui proses yang higienis dan dengan teknik pencucian, perebusan, peragian dan fermentasi yang tepat.
“Kandungan protein ketiga varietas ini adalah 31-33 persen. Produktivitas biji antara 3-4 ton/hektar, dengan rata-rata bobot 100 biji sekitar 34-39 gram/biji. Ciri utama varietas Sandi IPB adalah warna polong muda ungu dan warna biji ungu tua. Sementara, varietas Melody IPB mempunyai warna polong muda lurik dan warna biji ungu tua. Adapun varietas Fairuz IPB mempunyai warna polong muda hijau dan warna biji krem,” kata Prof Syukur.
Selain kecipir, Prof Syukur bersama tim juga berhasil merakit varietas kacang tunggak sejak tahun 2017. Ada empat varietas yang berhasil dirakit yaitu, Albina IPB, Uno IPB, Tampi IPB dan Arghavan IPB.
Keempat varietas tersebut telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas dan Perizinan Pertanian sejak tahun 2020. Kandungan protein keempat varietas ini sebesar 22-24 persen, produktivitas biji mencapai 3-4 ton/hektar serta rata-rata bobot 100 biji adalah 15-17 gram/biji. (yopi)







Komentar