POSKOTA.CO – Setelah sempat ditutup selama dua tahun, akhirnya China membuka keran impor produk porang dari Indonesia. Kebijakan tersebut disertai dengan protocol yang sangat ketat yakni inspeksi dan karantina chips porang Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan pemerintah China melalui The General Administration of Customs of The People’s Republic of China (GACC) per 28 November 2021.
“Kebijakan China yang menutup keran impor porang telah menyusahkan kami. Karena China merupakan pasar terbesar ekspor porang Indonesia mencapai 80 persen,” kata Direktur PT Sanindo Porang Berkah Dhian Rahadian saat Webinar Alinea Forum “Strategi Menembus Pasar Ekspor Porang ke China”, Rabu (28/9).
Sebelum keran impor dibuka, Dhian menjelaskan China melakukan analisis terhadap standar keamanan pangan dari berbagai negara termasuk Indonesia. Untuk produk porang, Indonesia bisa kembali menembus pasar China dengan sejumlah standarisasi. Beberapa yang terpenting adalah, chips porang tidak lagi melalui proses pengeringan dengan dijemur matahari.
“Protokol baru chips harus menggunakan oven untuk pengeringan, kalau dulu bisa ekspor chips yang dikeringkan dengan dijemur matahari,” jelas Dhian.
Selain itu, eksportir juga harus mengantongi sertifikat packing house yang ditentukan oleh otoritas China dengan menampilkan nama komoditas, waktu kadaluwarsa, dan lain-lain dalam redaksi bahasa China.
“Standarisasi yang kita lakukan diaudit OKKPD (Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah). Kita lulus dan diterbitkan sertifikat packing house. Ini salah satu syarat untuk submit di GACC,” tambahnya.
Syarat lainnya adalah mengantongi Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) oleh Badan Karantina. Kemudian, ekspor chips juga harus berasal dari kebun porang yang sudah teregistrasi GAP (Good Agricultural Practices) yang ditandatangani dinas pertanian setempat.
“Besaran yang diproses harus sama dengan kebun yang di submit ke GACC. Misalnya 100 ton harus equal dengan kebun enggak bisa melebihi jumlah kebun,” terangnya.
Saat China memberlakukan penutupan impor porang Indonesia, Dhian mengaku pihaknya sempat mencari pasar baru di luar China. Namun dominasi China membuat porang tidak terserap oleh pasar secara maksimal.
Padahal saat itu budidaya porang di Indonesia sedang booming, menyusul pernyataan Presiden Joko Widodo pada medio tahun 2021 yang menyebut porang menjadi komoditas yang memiliki prospek cerah ke depannya.
Menurut Dhian kebutuhan dunia akan porang tumbuh luar biasa dibanding era tahun 1970-an. Awalnya porang hanya diekspor ke Jepang untuk pembuatan makanan konyaku. Pada perkembangan selanjutnya, porang juga dijadikan sebagai bahan baku kosmetik, jelly dan lem.
Dhian bersyukur sejak keran ekspor dibuka, pihaknya sudah berhasil mengirimkan porang kembali ke China sebanyak dua kontainer pada 2 Agustus lalu. Ke depannya, ia mengaku sangat berhati-hati menerapkan protokol untuk ekspor ini. Meskipun, ekspor chips sebenarnya adalah grade paling rendah setelah umbi diolah.
Sementara itu, Analis Perkarantinaan Tumbuhan Madya, Badan Karantina Pertanian (Barantan), Aprida Cristin menekankan berdasarkan pengumuman GACC Nomor 28 Tahun 2022 disebutkan bagi eksportir serpih porang baru bisa mengekspor porang ke China jika telah teregistrasi di CIFER. Registrasi China Import Food Enterprise (CIFER) ini adalah sistem registrasi online yang dimiliki pemerintah China dan harus diikuti eksportir porang asal Indonesia. Registrasi CIFER ini bisa didapatkan jika eksportir porang telah lolos audit oleh GACC dan kemudian memperoleh nomor ID untuk mendaftar.
Aprida mengatakan hingga 28 September 2022 sudah ada 14 perusahaan eksportir porang Indonesia yang teregister di CIFER dan dibolehkan melakukan ekspor porang ke China, yaitu PT Asia Prima Konjac, PT Marefa Alam Samudra, PT Banshang Technology Jawa Timur, PT Ambico, CV Jia Li, PT Probolinggo Big Power, PT Sanindo Porang Berkah, PT Insan Agro Sejahtera, PT Harvestama Biota Alam, PT Algalindo Perdana, PT Joglo Semar Karangsari Makmur, PT Mitra Porang Nusantara, CV Kharisma Nusantara, dan UD Sinar Surya.
Sedangkan hingga saat ini masih ada dua perusahaan yang belum dibolehkan melakukan ekspor porang ke China meskipun telah disetujui oleh Kementerian Pertanian RI, namun belum disetujui oleh pemerintah China (GACC) yaitu PT Rajawali Penta Nusantara dan PT Agarindo Sakti.
Aprida menyebut dibukanya kembali keran ekspor ke China terjadi melalui perjuangan yang sangat keras dibantu oleh KBRI Beijing yang aktif untuk mencari tahu mengapa ekspor porang dihentikan. Usut punya usut langkah China ini dilakukan setelah China menganalisis semua produk pangan impor termasuk porang dari Indonesia. Di mana chips porang yang dijemur matahari mempunyai warna lebih hitam, sementara chips yang melalui proses oven warnanya kuning.
Menurutnya, ekspor porang ke China mulai naik drastis pada tahun 2019 yakni mencapai 714.237 ton. Pada 2020, ekspor porang ke China mencapai 401.066 ton selama lima bulan sebelum akhirnya dihentikan. Selain China, porang Indonesia juga menyasar negara seperti Taiwan,Thailand, dan Vietnam.
Aprida menilai semua negara memiliki standarisasi keamanan pangan. Namun, khusus China standarnya memang terlalu tinggi dan rumit. “Semua negara melakukan itu, tergantung ketat atau enggak, yang ketat negara maju karena mereka punya sumber daya dan power, termasuk China. Dia sedang gencar-gencarnya menerapkan peraturan keamanan pangan,” tutupnya. (*/fs)







Komentar