oleh

Diana Dewi: Sektor Konsumsi Rumah Tangga dan Perdagangan Berkontribusi Tinggi bagi Pertumbuhan Ekonomi

POSKOTA.CO – Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19 menuju situasi normal baru menuntut kesadaran, di mana persoalan saat ini disebabkan merebaknya Covid-19 dan juga karena penularan Covid-19 harus diselesaikan terlebih dahulu.

Hal ini dijelaskan Hj Diana Dewi, bahwa pandemi Covid-19 memang tidak hanya berimbas pada bidang kesehatan saja, namun penerapan PSBB sebagai akibat dari penanganan pandemi Covid-19 telah berdampak pula pada bidang sosial dan ekonomi di masyarakat.

Akibat dari PSBB memaksa beberapa sektor usaha untuk mengurangi kegiatannya bahkan beberapa sektor juga terpaksa harus tutup secara total. Hal ini yang membuat sektor sosial dan ekonomi pada masyarakat terkena imbasnya. Wacana pelonggaran PSBB muncul salah satunya melihat apabila ini tetap di biarkan akan membawa kita pada kondisi krisis ekonomi.

“Dan kami dunia usaha sangat menyambut baik apa yang diputuskan Pemprov DKI Jakarta, untuk saat ini kita melaksanakan PSBB masa transisi menuju kondisi sehat, aman dan produktif,” tandas Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Hj Diana Dewi kepada POSKOTA.co, Jumat (12/6/2020).

Ditegaskan Diana Dewi, bahwa kondisi saat ini memang membuat pemerintah juga harus realistis dalam merevisi target pertumbuhan perekonomian, karena memang kondisi saat ini, membuat dunia usaha berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan, sehingga akan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi baik secara makro dan mikro.

“Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, pandemi Covid-19 telah membawa kita pada kondisi ke ambang krisis ekonomi secara global, akibat dilaksanakannya kondisi tanggap darurat akibat penanganan Covid-19 di hampir seluruh negara di dunia,” ujarnya.

“Kita berharap kondisi ini tidak berimbas terhadap bidang sosial politik di masyarakat, sehingga saat ini pemerintah dengan berbagai upaya mencoba semaksimal mungkin untuk dapat memperbaiki kondisi perekonomian yang terganggu akibat pandemi Covid-19 ini,” sambung Diana.

Secara nasional maupun untuk tingkat daerah di Jakarta misalnya, kata Diana, salah satu penopang pertumbuhan ekonomi yang tertinggi selama ini adalah sektor konsumsi rumah tangga dan sektor perdagangan. Dua sektor ini, menurutnya, bisa berkontribusi sangat tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Sebagaimana kita ketahui bersama akibat penanganan pandemi Covid-19 telah membuat daya beli masyarakat turun secara signifikan.

Hal ini disebabkan terganggunya sosial ekonomi di masyarakat. Kita berharap bersama-sama kita dapat dengan segera memperbaiki ekosistem pertumbuhan ekonomi dengan segera, sehingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat juga dapat membaik. Targetnya kita berharap memperbaiki kembali daya beli masyarat saat ini,” katanya.

Untuk itulah, sebagai Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi melihat bahwa sektor konsumsi memang memiliki kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi kita. Konsumsi di sini tidak hanya terbatas pada konsumsi rumah tangga, masyarakat saja, kontribusi konsumsi belanja pemerintah juga sangat mempengaruhi dan cukup tinggi kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah faktor demografi kependudukan, Indonesia memiliki demografi yang relatif tinggi dan ini berkorelasi positif terhadap peningkatan konsumsi.

Untuk itu, Diana berharap, pemerintah dapat membantu meningkatkan konsumsi ini dalam bentuk peningkatan daya beli masyarakat, apabila daya beli masyarakat bagus maka ini akan berkorelasi langsung dengan tingkat konsumsi masyarakat.

“Dan saatnya konsumsi dalam negeri seharusnya mengonsumsi dan memberdayakan produksi dalam negeri dengan memberdayakan sumber daya di dalam negeri sehingga perekonomian bisa berjalan dan dapat juga menumbuhkan ekonomi daerah dengan memberdayakan daerah dimana sebagai daerah produsen untuk dapat memproduksi kebutuhan konsumsi yang di deliver ke seluruh daerah secara merata sesuai kebutuhan konsumsi dari masing-masing daerah,” ucapnya.

Terlebih pada Tahun 2030, lanjut Diana Dewi mempertegas, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

“Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan nanti bisa mencapai sebesar 290 juta jiwa. Ini yang akan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita semua,” pungkasnya. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *