oleh

Perjalanan ke Desa Tertinggal Tanah Karo, Mereka Belum Merasakan Kemerdekaan

-Daerah-168 views

POSKOTA.CO – Di tahun 2020 ini masih ada desa tertinggal di Tanah Karo. Luar biasa memang. Indonesia sudah MERDEKA 75 tahun lalu. Tapi beberapa desa tertinggal itu belum merasakan arti kemerdekaan sesungguhnya. Belum mengecap nikmatnya kemerdekaan.

Saya bersyukur sejak 2004 hingga kini sudah melayani 17 Kecamatan di Tanah Karo. Bahkan masuk ke pelosok2 desa tertinggal tersebut. Mungkin bupati atau calon bupati Karo belum pernah menikmati jalan kubangan itu tanpa lampu penerang jalan di malam hari. Melewati jalan berlumpur, berbatu, terjal, dan jalan tanah hingga berkilo meter.

Saya mendengar dan melihat langsung kesusahan rakyat Karo di desa2 itu. Menyedihkan dan saya merasakan kesusahan mereka.Baik mengenai prasarana jalan di Desa2 Kecamatan Mardingding, Desa2 Kecamatan Laubaleng, Desa2 Kecamatan Kutabuluh, dll. Malam hari jalan gelap gulita tanpa lampu penerang, seperti berjalan ditengah hutan belantara.

Belum lagi kesusahan penduduk utk makan sehari2, ketika harga2 pertanian anjlok. Sangat miris hati saya menyaksikan hal ini dengan mata kepala sendiri. Harapan mereka hanya pada Tuhan, karena manusia mengecewakan.😥😥

Narkoba dan judi sdh masuk ke desa2. Murid2 sekolah mengatakan transaksi di ladang2, dipinggiran sungai, dsb. Kriminalitas semakin tinggi. Mikropon di dalam gereja bisa hilang dibobol maling, berikut baju toga khotbah pendeta ikut dibawa kabur. Selang air diladang juga hilang, berikut ember menyiram tanaman.

Sepertinya tidak ada yg bisa mengatasi keadaan saat ini, kecuali Tuhan lewat doa2 orang yg benar. Ibu2lah yg paling menderita😥😥 dan menjadi korban. Pulang dari ladang masak, padahal baru memacul diladang, masih letih. Langsung menyediakan makan keluarga. Kebanyakan suami2 main togel, pulang malam, kalah, uang ludes, mudah emosi, memukul istri, dsb.

Ketika saya KKR malam hari di jambur, ibu2 maju ke depan, minta didoakan, menangis histeris, sakit hati, kecewa kepada keadaan. Inilah gambaran banyak ibu2 di desa2 tertinggal saat ini.
Sementara saat ini, calon2 bupati dengan tim suksesnya, berjanji dengan berbagai hal dari mulutnya supaya bisa menang.

Orang desa itu polos2, mudah dibohongi. Setelah jadi bupati, 1 atau 2 periode, menghilang begitu saja tanpa kelihatan batang hidungnya. Rakyat menanti, tapi pejabat ingkar janji. Hampir semuanya seperti itu, kata mereka.

Sekarang calon bupati ramai2 datang berbagi sembako, masker, dsb. ” Apakah mereka ini akan sama seperti bupati lainnya yg saat pilkada siap tidur di jambur dengan penduduk asalkan dipilih?” Tanya mereka.

Jalan di desa2 bertahun2 bahkan puluhan tahun tetap penuh lumpur, sulit dilalui kendaraan roda empat, kecuali mobil 4×4, gardan dua kata orang desa. Inilah salah satu faktor, banyak rakyat di desa2 tdk perduli lagi dgn pilkada. Sdh apatis. Siapa saja yg menang sama saja, kata mereka.

Sepertinya mereka sdh tdk rindu adanya perubahan. Padahal mungkin ada calon bupati yg berjanji membawa perubahan.” Siapa pun nanti bupati kita sama saja pak. Jalan di desa kami akan tetap seperti ini,”kata seorang penduduk desa.

Apalagi bupati mendatang hanya menjabat sekitar 3,5 tahun, bisa berbuat apa? Siap2 kecewa bagi yg berharap dgn janji2 manusia.Mestinya tidak usah mengumbar janji pada rakyat. Kasihan mereka.
Saya sama dengan orang desa itu kebanyakan, kami polos, hanya memegang omongan pemimpin, itu saja. Dari manusia yang hidup yang dipegang adalah perkataannya. Janjinya.

“Setiap perkataan, harus dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Tuhan.” Kata kitab injil.
Mungkin kami orang desa ini bisa dibohongi dgn janji2, tapi ada Tuhan di atas kami yg memperhatikan dan merekam setiap janji2. INGAT, JANJI ITU MENGIKAT HIDUPMU SAMPAI KAPAN PUN.(Juniaman Sembiring Kembaren)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *