JAKARTA – Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menggelar 1st International Conference on Humanity and Global Solidarity (Iconhum) 2025. Konferensi yang menghadirkan puluhan pembicara dari dalam maupun luar negeri berpusat di Priority Hotel di Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan dan juga melalui virtual, Sabtu (22/11).
Konferensi menghadirkan para pakar, dokter, akademisi, dan praktisi kemanusiaan untuk membahas isu genosida di Gaza Palestina dari berbagai perspektif meliputi hukum, kemanusiaan, medis, dan hak asasi manusia. Konferensi yang berlangsung secara hibrid dibuka oleh Prof Dr dr Basuki Supartono selaku Kordinator Pusat Studi Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) BSMI dr. Muhammad Djazuli Ambari menyatakan konferensi menghadirkan sejumlah dari Indonesia dan sejumlah negara lain untuk membahas situasi Gaza yang belum benar-benar aman, meski sudah dilakukan gencatan senjata dengan Israel. “Mari kita ubah kesedihan ini dengan tindakan untuk penghentian genosida di Palestina,” kata M. Djazuli di hadapan ratusan undangan.

Konferensi ini merupakan rangkaian dari kegiatan kemanusiaan yang dijalankan oleh BSMI. “Agresi di Gaza sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Meski sudah bersepakat melakukan gencatan senjata namun realitanya Israel masih menyerang Palestina. Hukum internasional tidak berlaku. Masyarakat dunia yang ingin memberikan bantuan kemanusiaan, masih belum bisa masuk karena masih banyak dijaga tentara zionist,” tambah Prof Basuki Supartono.
Dari sejak Maret 2025, BSMI telah mengirim secara bertahap 16 dokter spesialis untuk membantu korban serangan tentara. “Banyak sekali korban terluka parah, bahkan beribu-ribu orang mati karena kelaparan karena bantuan pangan di sana ditahan tentara Israel,” tandas Prof Basuki.
Djazuli menambahkan BSMI berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis bagi dokter asal Palestina. “Kami sudah memberikan beasiswa kepada sejumlah dokter agar nantinya bisa membantu korban di Gaza yang butuh penanganan tertentu. Jika program ini mendapat dukungan dari masyarakat donatur, maka nanti beasiswa akan dikembangkan menjadi lebih banyak lagi,” jelas Djazuli.
Djazuli menyampaikan bahwa selama ini banyak pengalaman dan praktik klinis para relawan medis Indonesia di Gaza yang bernilai ilmiah tinggi namun belum terdokumentasi secara sistematis. “ICONHUM 2025 menjadi ruang penting untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi kontribusi akademik yang bisa memperkaya literatur medis dan kemanusiaan internasional,” ujarnya.
Konferensi ini juga diikuti dengan Workshop Advance Technique Wound Healing yang menghadirkan narasumber seperti Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, bersama tenaga medis yang baru kembali dari Gaza. Workshop tersebut memberikan SKP Kemenkes, menegaskan bahwa kerja kemanusiaan di lapangan tidak hanya mempunyai nilai moral, tetapi juga kontribusi profesional yang dapat diakui secara ilmiah dan institusional.
“ICONHUM 2025 juga memperkenalkan pendekatan baru dalam pencatatan dan dokumentasi kerja kemanusiaan medis yaitu transformasi pengalaman lapangan menjadi pengetahuan ilmiah yang dapat dipublikasikan. Para relawan EMT Indonesia difasilitasi untuk menyusun scientific paper, publikasi medis, dan laporan akademik berbasis data lapangan yang mereka kumpulkan selama bertugas di Gaza,” jelasnya. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan membacakan Deklarasi Simatupang 2025. Deklarasi yang berisi penolakan genosida Palestina dipimpin oleh Djazuli diikuti puluhan relawan yang terdiri dari para pakar dan relawan. (jo)







Komentar