BERIMAN pada hari akhir berarti secara pasti membenarkan berbagai kejadian yang tidak terbantah lagi melalui berbagai amal dan penunaian kewajiban sebagai seorang hamba Allah. Dengan begitu, kita meyakini tanda-tanda terjadinya kiamat, kematian dan fase-fase sesudahnya, seperti fitnah, siksa, dan kenikmatan kubur, adanya peniupan sangkakala, bangkitnya semua makhluk dari kubur, adanya alam Mahsyar, adanya penghisaban, adanya timbangan keadilan, adanya jembatan, telaga, syafaat, dan lain-lain, adanya surga berikut kenikmatan melihat wajah Allah, serta adanya neraka yang mengerikan dan terhijab dari Rabb mereka.
Hari kiamat berasal dari Dzat yang mengetahui segala sesuatu yang gaib. Dengan begitu, hanya Allah lah yang memiliki dan menguasai pengetahuan tersebut karena hanya Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Maha Besar Allah Subhanahu Wata’ala yang berfirman, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya tentang pengetahuan kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-A’râf, 7:187).
Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar.” (QS. Al-Hajj, 22:1)
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Apabila umatku mulai mengagung-agungkan perkara duniawi maka dicabut dari mereka pengaruh agama Islam, dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, mereka tidak akan mendapatkan keberkahan wahyu.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits ini ditegaskan bahwa bilamana umatku sudah mulai mencintai duniawi, maka pengaruh Islam akan dicabut dari kalangan umat Islam. Hal ini merupakan musibah yang paling besar. Apabila pengaruh Islam telah dicabut, berarti kehidupan materialistis akan melanda umat Islam (mereka) dan pada akhirnya mereka menjadi binasa karenanya.
Nabi shalallahu alaihi wa sallam, tidak sekali-kali mengkhawatirkan kemiskinan umatnya karena miskin tidak akan membinasakan mereka, melainkan beliau khawatir umatnya dilanda oleh kesenangan duniawi, sebab kesenangan duniawi dapat membinasakan mereka. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk liang kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2).
Kemudian bilamana amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan oleh umat Islam, maka umat Islam (mereka) tidak memperoleh berkah wahyu. Atau dengan kata lain, mereka akan menjadi lemah dan hina sehingga menjadi bahan cemoohan dan ejekan dari musuh-musuh Allah, sekalipun jumlah umat Islam cukup banyak.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Apabila akhir zaman telah tiba, maka ukuran agama dan dunia manusia adalah Dirham dan Dinar.” (HR. Thabrani).
Dalam hadits yang lebih dulu telah disebutkan bahwa apabila umatku sudah mulai merasa kagum (mencintai) duniawi, maka dicabut-Nyalah dari mereka pengaruh Islam. Dan dalam hadits ini disebutkan bahwa hal tersebut merupakan pertanda datangnya hari kiamat, yaitu bilamana ukuran agama dan duniawi manusia hanyalah Dirham dan Dinar. Atau dengan kata lain, apabila materi mengusai urusan agama dan duniawi, maka hal itu merupakan pertanda akhir zaman, yakni masa kiamat telah dekat.
Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa, “Hal yang paling sedikit dijumpai pada akhir zaman ialah Dirham yang halal, atau saudara yang dapat dipercaya.” (HR. Ibnu Asakir melalui Ibnu Umar r.a.).
Bilamana harta yang halal dan teman yang dapat dipercaya sulit dicari, maka hal tersebut merupakan pertanda bahwa zaman akan berakhir. Atau dengan kata lain, sebagai alamat kiamat telah dekat.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kiamat semakin dekat, sedangkan keinginan manusia terhadap perkara duniawi semakin menjadi-jadi, dan terhadap Allah mereka semakin bertambah jauh.” (HR. Hakim melalui Ibnu Mas’ud r.a.).
Melalui hadits ini Nabi Saw. menjelaskan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat, yaitu bilamana keinginan orang-orang makin menggebu-gebu terhadap duniawi, sedangkan kepada Allah mereka semakin jauh.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Sesungguhnya termasuk pertanda hari kiamat, yaitu ilmu (agama) dilenyapkan, kebodohan (dalam masalah agama) muncul, perbuatan zina menyebar, khamar banyak diminum, dan laki-laki banyak yang mati, sedangkan kaum wanita tetap, sehingga bagi lima puluh orang wanita hanya terdapat seorang lelaki yang melindunginya.” (HR. Syaikhan melalui Anas r.a.).
Di antara pertanda dekatnya hari kiamat ialah lenyapnya ilmu (agama) dan munculnya kebodohan (dalam masalah agama). Lenyapnya ilmu ini ialah dengan diwafatkan-Nya para pemiliknya, yaitu para ulama, seperti yang disebutkan dalam hadits yang lainnya bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari dada pemiliknya, melainkan dengan jalan mewafatkan para ulama. Apabila para ulama telah tiada, kejahilan akan merajalela di mana-mana, dan timbullah kerusakan, akibatnya membawa mereka kepada kebinasaan yang total, yaitu kiamat.
Apabila kebodohan merajalela di mana-mana, sedangkan para ulama telah tiada, maka terjadilah kerusakan, yang antara lain ialah merajalelanya perbuatan zina dan khamar yang sudah dianggap sebagai minuman biasa. Pada saat itu kaum lelaki sedikit sekali jumlahnya karena kebanyakan mereka mati dalam peperangan, dan tinggallah kaum wanita yang jumlahnya amat banyak sehingga digambarkan oleh hadits ini bahwa lima puluh orang wanita di bawah perlindungan seorang lelaki.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kelak benar-benar akan datang kepada manusia suatu zaman, di zaman tersebut seseorang tidak memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari hasil yang halal ataukah dari hasil yang haram.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).
Hadits ini menceritakan tentang keadaan di saat hari kiamat telah dekat, hanya zaman ini sebelum zaman yang telah disebutkan oleh hadits sebelumnya.
*Rasulullah* Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Di antara tanda kiamat ialah, bila lelaki lewat (masuk) ke masjid lalu ia tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya (shalat tahiyatul masjid), dan bilamana lelaki tidak mengucapkan salam kecuali hanya kepada orang-orang yang ia kenal, serta bila anak kecil menjadikan orang yang sudah tua sebagai pesuruh ) untuk keperluannya).” (HR. Thabrani melalui Ibnu Mas’ud r.a.).
Apabila masjid dilewati saja tanpa dilakukan shalat _tahiyyatul_ masjid di dalamnya, dan apabila seseorang hanya memberi salam kepada orang yang ia kenal saja, serta apabila anak kecil telah menjadikan orang yang sudah lanjut usia juru pos atau pesuruhnya, maka hal tersebut merupakan pertanda dekatnya hari kiamat.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, Ketika Nabi Saw. tengah memberi pelajaran kepada para sahabat di sebuah majelis tiba-tiba datang seorang Arab Badui yang bertanya, “Kapan terjadinya Kiamat?” Akan tetapi Rasulullah Saw. terlihat tidak menghiraukan pertanyaan tersebut dan tetap melanjutkan uraian beliau sehingga sebagian yang hadir saling berbisik dengan berkata, “Beliau sebenarnya mendengat pertanyaan itu namun tidak menyukainya.” Sementara itu, sebagian lain berpendapat bahwa Rasulullah Saw. memang benar-benar tidak mendengarnya. Setelah pelajaran selesai Rasulullah Saw. lalu berkata, “Mana orang yang bertanya tentang saat terjadinya Kiamat tadi?” Orang Badui itu langsung menjawab, “Saya, wahai Rasulullah Saw.” Rasulullah Saw. kemudian berkata, “Apabila amanah telah lenyap maka tunggulah kedatangan Kiamat.” Orang itu kembali bertanya, “Bagaiman hilangnya amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika suatu perkara telah diserahkan kepada yang tidak ahlinya maka tunggulah datangnya Kiamat.” (HR. Bukhari).
Juga al-Qur’an menggambarkan tanda-tanda datangnya kiamat, Allah Swt. berfirman, “Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naml, 27: 82). Dalam ayat lain, “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit)…. ” (QS. Al-Anbiyaa, 21:96-97). “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhaan, 44: 10-11).
Untuk menyongsong datangnya hari kiamat hendaknya kita bersegera mempersiapkannya dengan amal kebajikan sesuai yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya. Rasulullah Saw. bersabda, “Kebaikan itu banyak tetapi pelakunya sedikit.” (HR. Al-Khathib melalui Ibnu Umar r.a). Amal kebaikan itu banyak ragam dan jenisnya, tetapi orang-orang yang melakukannya sedikit karena amal baik itu berat dirasakan oleh jiwa manusia kecuali hanya oleh orang-orang yang mendapat taufik dan hidayah dari Allah SWt.
Dalam hadits lain disebutkan, “Gunakan lima perkara sebelum lima perkara lainnya, yaitu: hidupmu sebelum matimu; sehatmu sebelum sakitmu; senggangmu sebelum sibukmu; mudamu sebelum tuamu; kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a).
Makna hadits ini menganjurkan agar kita menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya agar di kala kesempatan itu tidak ada maka kita tidak kecewa karena kepergiannya. Untuk itu disebutkan, ingatlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain yang menjadi lawannya.
Ingatlah dalam masa hidupmu sebelum matimu, yaitu dengan memperbanyak amal saleh untuk bekal dihari kemudian sesudah mati. Ingatlah dalama masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Atau dengan kata lain gunakanlah masa sehatmu itu untuk beribadah dengan giat dan rajin mencari penghidupan sebelum datang masa sakitmu. Jika seseorang terkena sakit, maka ia tidak lagi mampu mengerjakan amal-amal sunah dan tidak mampu lagi berusaha mencari penghidupan. Isilah masa senggangmu dengan banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu, sebelum datang masa sibukmu. Gunakan masa mudamu untuk rajin bekerja, beribadah, dan menolong orang lain, sebelum.datang masa tuamu (pikun). Dan beramallah dimasa kayamu dengan banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang miskin, sebelum datang masa miskinmu.
_Wallahu_ _A’lam_ _bish-Shawabi_ .
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar