oleh

Pedagang Merana, Harga Cengek di Bandung Sungguh Pedas

POSKOTA. CO – Kedua tangannya tak pernah diam. Sesekali memegang timbangan, kemudian membereskan tumpukan cengek yang nampak masih utuh. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil berteriak menawarkan dagangannya.

” Bu…cengek. Cengek Bu,..dijamin lada. Kalau tidak boleh dikembalikan,” kata Jubed,38, seorang pedagang cengek di Pasar Kordon, Bandung, Jawa Barat. Setelah menawarkan cengek [cabai], ia pun duduk kembali sambil mengisap rokok kretek nya. ” Daripada pusing mikirin cengek lebih baik udud saja.”

Kejengkelan Ubed dan rekannya memang tidak berlebihan. Pasalnya sudah hampir tiga pekan pembeli cengek sepi akibat harganya terus meroket. “Harga cengek kini 80 ribu rupiah perkilogram. Wah..pokoknya harga cengek semakin pedas. Saya cukup berkeringat menjual cengek di awal tahun ini,” ucapnya.

Bagi Ubed dan pedagang lainnya pedas nya harga cengek membuatnya kalangkabut. Mereka tidak hanya sulit mendapatkan barang, akan tetapi berimbas pada pendapatan sehari hari. ” Pokoknya harga cengek pedas, membuat segalanya jadi pedas. Cengek itu pedas, tapi kini sangat pedas,” ungkapnya.

Sedih, jengkel, dan marah nampaknya bercampuraduk pada pikiran para pedagang cengek di Kota Bandung. Mereka tidak memiliki daya untuk melakukan protes. Dalam kondisi galau, mereka pasrah untuk menjual cengek kembali dengan harga pedas.

Potret pedagang pasar tradisional seperti Ubed memang tidak memiliki kekuatan untuk protes. Mereka lebih memilih menerima apa adanya ketimbang harus berkicau melalui medsos. Masih mending kicauan itu diterima, kalau tidak, ancaman jeratan UU transaksi elektronik bisa menyergapnya sehingga dapat membuat nasib pedagang cengek semakin pedas, dan pedas. (dono darsono/sir).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *