POSKOTA.CO – Kejadian jatuhnya Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ182 rute Jakarta-Pontianak menghentak rasa kemanusiaan kita semua di tengah pandemi Covid-19.
Lokasi jatuhnya pesawat yang tidak jauh dari lokasi keberangkatan dan disinyalir di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu mendorong partisipasi banyak pihak.
IPB University dalam kapasitasnya yang terbatas juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan utusan pencarian yang dipimpin Dr Syamsul Bahri Agus, kepala Program di Pusat Studi Bencana (PSB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University.
Dr Syamsul Bahri bekerja sama dengan masyarakat Pulau Lancang melakukan pencarian dengan menggunakan alat pendeteksi echosounder. Dengan peralatan ini, paling tidak upaya penelusuran berbagai objek dapat dilakukan sehingga semua lokasi sebaran dari berbagai benda yang berasal dari pesawat Sriwijaya bisa dikumpulkan.

“Lokasi yang diduga titik jatuh dan sebaran puing-puing pesawat bersubstrat berlumpur dengan tingkat visibility rendah. Sehingga harus dilakukan secara teliti atau dapat memastikan objek benda atau bukan. Tim berada di lapangan untuk bersama-sama dengan pihak lain melakukan pencarian,” ujarnya.
Pada Minggu (10/1/2020) pagi, pukul 08.00 WIB, Tim Ilmu Kelautan IPB University berhasil mendeteksi paparan logam di dasar perairan Pulau Lancang. Lokasi tersebut berada di arah selatan lepas pantai Pulau Lancang, sejauh 8 mil dari bibir pantai pulau tersebut.
“Ada objek mencurigakan yang kami yakini adalah logam yang merupakan bagian besar dari pesawat Sriwijaya. Objek tersebut terdeteksi sepanjang sekitar 1 mil di radius pendeteksian. Deteksi data logam berat tersebut dilakukan oleh alat instrumen kelautan sederhana Echo Sounder Aquamap 80 Garmin. Data-data tersebut kemudian kami berikan kepada tim pencarian Kopaska TNI AL dan juga tim Basarnas,” ujarnya. (yopi)







Komentar