oleh

Paslon Debat di TV, Pengamat: Idris-Imam Lebih Unggul Kuasai Materi

POSKOTA.CO – Kegiatan debat pertama Pilkada serentak Kota Depok antara pasangan calon (Paslon) nomor urut 1 Pradi Supriatna dan Hj. Afifah Alia dengan Paslon nomor urut 2 Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono dinilai pengamat politik dan warga Kota Depok lebih unggul serta menguasai materi Paslon Idris – Imam.

“Melihat debat di televisi nasional dalam debat atau adu program pertama Minggu (22/11) jelas Paslon nomor urut 2 Idris – Imam jauh lebih unggul dibandingkan Paslon nomor urut 1 Pradi – Afifah dalam penguasaan serta jawaban materi yang disampaikan,” kata Umar, warga Perumnas Depok Satu, Kel. Depok Jaya, Minggu (22/11/2020) malam.

Penguasaan materi dalam menjawab pertanyaan maupun melempar pertanyaan dalam debat tersebut terlihat sangat jauh penguasaan maupun pemahaman masalah yang ditanggapi ke dua paslon tersebut.

Menurut dia, calon Wali Kota Mohammad Idris maupun calon Wakil Wali Kota Imam Budi Hartono dengan lugas menjawab dan membantah berbagai pertanyaan terkait hasil kerja sebagai petahana selama empat tahun belakangan. Bahkan, paslon Pradi – Afifah terkesan hanya bertanya dan mengutarakan permasalahan maupun keluhan hasil dari berbagai pemberitaan yang telah banyak muncul di Kota Depok.

Hal yang sama juga dikatakan, Jerry Massie, pengamat Politik Political and Public Policy Studies, dengan tegas menyampaikan paslon Mohammad Idris – Imam Budi Hartono lebih menguasai dan memahami materi debat di hadapan Paslon Pradi – Afifah.

Penguasaan materi tata kelola kota, upaya peraihan APBD, memunculkan 1000 pengusaha wanita, pemberian dana Rp 5 miliar/kelurahan, membangun taman kota di bagian barat, pelebaran dan penataan ruas jalan di wilayah Cipayung, Tapos, Cinere, Limo, Cimanggis dan kawasan Sawangan serta Bojongsari yang siap dilanjutkan terkesan malah lebih diterima masyarakat Kota Depok.

Untuk bantuan dana Rp 5 miliar/kelurahan secara hukum lebih sah apalagi didampingi instansi hukum jelas sangat relevan bahkan sah sebagai instansi negara. “Dibandingkan janji Paslon Pradi – Afifah terkait pembagian dana Rp 500 juta/RW yang rawan terjadi penyelewengan dan sulit dilakukan karena pengelolaan keuangan terendah ada di kelurahan atau desa bukan RW,” tuturnya.

Dalam debat tersebur juga sempat disanggah oleh calon Wali Kota Pradi Supriatna atas pernyataan calon Wali Kota Mohammad Idris terkait kalimat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sustainable Development Goals (SDGs) atau Global Goals yang dinilai warga Kota Depok banyak tidak paham bahasa Inggris.

Namun ditepis Mohammad Idris bahwa TPB atau SDGs itu adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk keselamatan manusia dan planet bumi, katanya yang mengaku Paslon Pradi – Afifah mungkin lupa atau ingin menyederhanakan kalimat tersebut.

Terkait janji warga Depok yang memiliki E KTP berobat gratis sangat memungkinkan terjadinya benturan, terutama dalam ketetapan hukum Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menurut Undang-Undang, imbuhnya yang menilai janji kampanye terlalu muluk dan bernafsu untuk menjatuhkan lawan namun tidak berpangaruh sama sekali. (anton/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *