ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan, 25:63). Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, ” … Dan berendah hatilah engkau terhadap orang-orang yang beriman.” (QS.al-Hijr, 15:88).
Sebagaimana Rasulullah diperintah Allah untuk tawadhu, beliau memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tawadhu. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Allah memerintahkan aku agar tawadhu, agar jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain dan jangan sampai ada yang congkak pada orang lain.” (HR. Muslim).
Kesombongan merupakan salah satu sifat yang paling dibenci Islam sebaliknya sikap rendah hati adalah salah satu yang paling disukai. Tentang ajaran yang satu ini Rasulullah Saw. bersabda, “Jika pelayan kalian datang menghidangkan makanan, maka hendaklah dia (sang tuan) memberikan sesuap atau dua suap makanan kepadanya, apabila dia enggan diajak untuk makan bersama. Hal itu disebabkan pelayannya itulah yang mengurus berbagai keperluan.” (HR. Bukhari).
Tawadhu adalah merendah, lawan dari sombong dan takabur. Tawadhu adalah ketundukan yang bersumber dari rasa memiliki kekuatan, kemuliaan, dan penghormatan kepada orang lain, dan bukannya ketundukan yang bersumber dari rasa memiliki kekurangan, kelemahan, kehinaan, dan keperluan kepada orang lain. Manakala diri kita merasa bahwa diri kita adalah hamba Allah yang mulia, dan ketawadhuan yang ditunjukkannya kepada sesama kita yang mukmin adalah ketawadhuan kepada Allah Swt, maka diri kita akan merasa memiliki kemuliaan dan keluhuran, bukan kehinaan dan kelemahan.
Sebagian orang mengira bahwa bahwa tawadhu berarti merendahkan diri bukan pada tempatnya. Pandangan ini jelas keliru. Sebagian orang lagi bersikap sombong dan takabur manakala orang lain merendah di hadapannya. Mereka berusaha membenamkan lebih dalam perasaan lemah pada orang lain. Mereka merasa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari orang lain, dan oleh karena itu mereka layak menerima ketawadhuan dari orang lain. Sikap ini pun jelas keliru.
Betapa indahnya bila kita memiliki sifat tawadhu kepada orang lain. Dia tidak ubahnya seperti cahaya yang dikelilingi kupu-kupu yang berterbangan di sekelilingnya. Betapa besarnya kekuatan tawadhu pada diri manusia, sehingga ia mampu menyihir kita semua untuk berbondong-bondong cenderung kepada orang yang tawadhu. Mereka tidak ubahnya seperti orang-orang yang tengah berada dalam sebuah taman, lalu melihat bunga mawar yang indah dengan berbagai warna dan meniupkan bau harum yang semerbak.
Jika kita pernah berjalan-jalan pada malam bulan purnama di tepi kolam atau genangan air. Ketika itu kita menyaksikan betapa gambar bintang memantul di atas permukaan air dengan penuh ketawadhuan dan keagungan, padahal jarak bintang tersebut dari bumi sedikitnya ribuan tahun cahaya.
Jika kita pernah menyaksikan kumpulan asap yang naik ke langit. Saksikanlah bagaimana mereka naik ke langit dengan penuh kesombongan. Bagaimana mungkin asap dapat dibandingan dengan bintang.?
Dalam hal ini seorang penyair berkata dalam sebuah syairnya: Bersikaplah tawadhu, niscaya kamu menjadi seperti bintang, yang nampak di permukaan air bagi orang yang melihatnya, padahal dia tinggi. Dan jangan engkau menjadi seperti asap, yang mengangkat dirinya ke ketinggian angkasa, padahal dia rendah.
Al-Barra bin Azib r.a. berkata, “Pada saat persiapan Perang Ahzab, Rasulullah Saw. turut memindah-mindahkan pasir (hasil penggalian parit yang dimaksudkan sebagai benteng pertahanan) bersama-sama kami. Saya melihat keikutsertaan beliau tersebut dengan mata kepala sendiri. Saya juga menyaksikan bagaimana tanah telah mengotori bagian perut dari jubah beliau.
Rasulullah Saw. selalu mengulurkan tangan mengajak bersalaman kepada setiap orang, baik orang kaya maupun orang miskin, anak-anak maupun orang dewasa, orang yang berkulit hitam maupun berkulit putih. Beliau selalu mendahului dalam mengucapkan salam. Jika beliau diundang, walaupun oleh orang yang asing, beliau pasti memenuhi undangan tersebut. Tidak pernah beliau menghina makanan yang dihidangkan di dalam undangan, walaupun hanya sepotong roti atau segelas air.
Tawadhu (rendah hati) termasuk pilar penting dalam pergaulan dengan sesama kita. Dengan tawadhu, seseorang dapat masuk ke dalam hati manusia dan memperoleh kecintaan mereka.
Demikianlah tawadhu. Dia adalah kemuliaan dan ketinggian bagi manusia. Dia bukan kehinaan dan kerendahan. Sebagian orang memandang bahwa ketawadhuan berarti kelemahan dan kehinaan diri, dan juga kelemahan pada kepribadian. Oleh karena itu, mereka pun bersikap sombong dan takabur, atau melecehkan sikap tawadhu orang lain, merendahkan atau memperolok-oloknya. Padahal sebenarnya tidak demikian. Orang yang tawadhu adalah orang yang mempunyai kepribadian yang kuat, walaupun tampak sebagai orang yang penuh toleransi. Orang yang tawadhu adalah orang yang memperoleh kecintaan manusia, sementara manusia akan lari dari orang yang bersikap sombong dan takabur, seperti kambing lari dari serigala yang mendatanginya.
Kesombongan adalah sifat yang hanya berhak dimiliki oleh Tuhan. Tidak boleh ada satu makhluk pun yang menyaingi Allah dalam hal ini. Siapa yang menyaingi Allah dan merasa berhak memiliki sifat sombong, maka dia berarti merasa menjadi Tuhan manusia. Ia berhak mendapat murka dan azab Allah.
Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Azza wa jalla berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keangkuhan merupakan pakaian-Ku. Oleh karena itu, siapa yang merenggut salah satunya dari sisi-Ku maka akan Aku lemparkannya ke dalam neraka.'”(HR. Abu Dawud).
Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. Sebaliknya, tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman walaupun juga hanya sebesar biji sawi.” (HR. Abu Dawud).
Sahabat berkata, “Sesungguhnya tanaman tumbuh di atas tanah yang datar, dan tidak tumbuh di atas batu karang. Demikian juga dengan hikmah, dia akan berkembang di hati orang yang tawadhu dan tidak akan berkembang di hati orang yang sombong. Karena, Allah Swt. telah menjadikan tawadhu sebagai alat bagi akal.
Bersikap tawadhu kepada sesama kita mencakup banyak hal, di antaranya: menjadikan diri kita sepadan (tidak lebih tinggi) dengan orang lain; kita sama-sama melakukan apa yang orang lain lakukan; tidak mengistimewakan diri kita di tengah-tengah teman kita; dan memberikan kepada orang lain apa yang kita suka jika kita diberi; lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal; mendorong orang lain untuk berprestasi; bersedia menerima kebenaran dari siapapun baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; selalu bersedia untuk mementingkan kepentingan orang lain dan senang ketika diminta pertolongan.
Rasulullah Saw. bersabda, “Berlakulah lunak dan saling mengasihi. Hendaklah kamu saling mengalah terhadap yang lain. Apabila orang yang punya hak mengetahui kebaikan yang akan diperolehnya disebabkan menunda tuntutannya atas haknya pasti orang yang punya tuntutan atas haknya akan lari menjauhi orang yang dituntutnya.” (HR. Al-Bukhari).
Jika kita ingin menjadi orang yang bijak dan dicintai manusia, seperti setetes madu yang dikelilingi semut, atau seperti bunga mawar indah yang menghembuskan bau harum yang semerbak, sehingga memikat orang-orang yang melihatnya, maka didiklah diri kita untuk bersikap tawadhu, dan berusahalah supaya sikap tawadhu menjadi watak, karakter dan kebiasaan kita. Wallahu A’lam bish Shawabi.
Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar