SALAH satu penyakit jiwa dan masyarakat yang sangat berbahaya, dan memainkan peranan besar dalam mengoyak-ngoyak kesatuan umat dan merusak individu dari dalam, adalah sifat nifaq. Sifat ini mempunyai derajat dan tingkatan yang bermacam-macam. Tingkatan yang paling berbahaya ialah di mana seseorang menampakkan dirinya sebagai orang mukmin padahal di dalam dirinya dia adalah musuh yang paling keras dan memerangi agama yang suci ini.
Mengapa, nifaq lebih berbahaya dari kufur. Sebab, kekufuran adalah perbuatan yang tampak dan karenanya mudah diketahui, sedang nifaq adalah perbuatan yang tidak tampak dan karenanya tidak dapat dideteksi dengan mudah dan tepat. Itulah sebabnya orang munafik lebih berbahaya daripada orang kafir terhadap keutuhan umat Islam, dan karena itu pulalah orang munafik layak masuk ke tingkat paling bawah dari neraka.
Pada kumpulan ayat-ayatnya, Al-Qur’an telah berbicara mengenai sifat nifaq dan orang-orang munafik. Al-Qur’an juga menjelaskan sifat-sifat mereka, dan menerangkan kerusakan-kerusakan yang mereka timbulkan dalam masyarakat, dan juga akibat-akibat pedih yang akan mereka rasakan di alam akhirat. Semua penjelasan tersebut adalah untuk mengingatkan kita sebagai makhluk manusia supaya tidak jatuh ke dalam kelompok orang-orang munafik.
Namun demikian, Allah jualah yang telah berjanji untuk menjaga kemurnian agama-Nya dan meninggalkan berbagai konspirasi mereka, sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw., “Selalu akan ada segolongan dari umatku yang tetap teguh berada dan mempertahankan kebenaran, mereka akan senantiasa ditolong oleh Allah hingga datangnya urusan Allah.”
Maka adalah wajib bagi kita untuk segera kembali merujuk kepada metode Al-Qur’an dan Sunnah untuk mengetahui sifat dan karakter kaum munafiqin, untuk selanjutnya mengaplikasikannya dalam realitas kontemporer kita, agar kita dapat menyingkap tabir konspirasi mereka dan tidak terjebak ke dalamnya.
Dalam pandangan Syaikh Muhamnad Said Al-Qohthoni, menjelaskan bahwa An-Nifaq, secara bahasa artinya hilang ditelan bumi dan terlepas ke tempat lain. Juga bermakna keluar daripadanya. Dari makna inilah nafaqa bermakna terlepasnya seorang munafik dari agama. Adapun An-Nifaq secara syariat ialah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir, katanya, “An Nifaq itu artinya menampilkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Dan ada beberapa macam: Nifaq I’tiqadi (munafik dalam hal akidah) yang pelakunya kekal di neraka, dan Nifaq Amali (munafik dalam hal amal) yang merupakan sebesar-besar dosa besar. Ibnu Juraij mengatakan, “Munafik itu amalan dengan perbuatannya berbeda, yang tampak dengan yang tersembunyi juga berbeda, masuknya dan keluarnya juga berbeda, demikian pula ketika di hadapan orang berbeda dengan dibelakangnya.
Jenis-jenis munafik ada dua macam. Pertama. Nifaq I’tiqadi, yaitu munafik dalam hal aqidah. Kemunafikan jenis ini ada enam macam:
a) Mendustakan Rasulullah Saw. b) Mendustakan sebagian berita yang di bawa oleh Rasulllah Saw. c) Membenci Rasulullah Saw. d) Membenci apa yang di bawa oleh Rasullah Saw. e) Tidak suka dengan kemenangan agama Rasulullah Saw. f) Bergembira ketika tertindasnya Rasulullah Saw. dan ummatnya. Enam macam kemunafikan ini menyebabkan pelakunya berada di kerak neraka yang paling bawah.
Kedua, An-Nifaq Al-Amali, yaitu kemunafikan dalam hal amalan. Kemunafikan jenis ini ada lima macam: a) Bila berbicara berdusta. b) Bila berjanji mengingkari. c) Bila diamanati berkhianat. d) Bila bertikai melampaui batas. e) Bila berbuat perjanjian menyelisihi. Kemunafikan jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Perbuatan semacam ini dinamakan Nifaqun Duna Nifaqin (kemunafikan yang bukan termasuk kemunafikan i’tiqadi).
Allah Subhanahu Wataala telah berfirman, “Orang-orang munafik itu menipu Allah. Allah pun menipu mereka. Mereka itu jika bersembahyang dengan merasa malas. Mereka suka memperlihatkan kebaikan dirinya, dan sedikit sekali mereka itu ingat kepada Allah. Mereka tidak punya pendirian, tidak kesana tidak kemari. Orang yang sudah disesatkan Allah. Tidak ada jalan keluar baginya.” (QS. An-Nisa, 4:142-143).
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga yaitu, apabila berbicara dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Syaikhan). Dalam hadits yang senada disebutkan, “Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah bersabda, “Tiga perkara, bila seseorang punya sifat-sifat tersebut berarti munafik. Meskipun dia melakukan puasa, melakukan shalat, dan mengira bahwa dirinya seorang muslim. Tiga perkara itu ialah bila berbicara bohong atau dusta, bila berjanji lancung atau ingkar, dan bila dipercaya khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tiga ciri orang munafik, yaitu apabila bicara berdusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya berkhianat. Apabila pada seseorang terdapat salah satu dari sifat-sifat tersebut, berarti ia termasuk orang munafik, walaupun dirinya melakukan puasa dan shalat. Pengertian munafik ialah menampakkan sesuatu yang berlainan dengan isi hati. Munafik ialah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, atau menampakkan kebenaran dan menyembunyikan kebatilan. Sifat nifak ini telah muncul sejak adanya manusia dan sejak terjadinya pertentangan antara _al_ _haq_ (kebenaran) dan kebatilan.
Allah Subhanahu Wataala telah berfirman, “Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka mengatakan, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS. Al-Munaafiqun: 1-3)
Dalam hadits yang lain Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Ada empat perkara, barangsiapa yang dalam dirinya terdapat keempat perkara tersebut berarti ia seorang munafik yang militan, dan barangsiapa yang dalam dirinya terdapat salah satu diantaranya, berarti ia menyandang sifat munafik, hingga ia meninggalkannya, yaitu: Apabila berbicara berdusta; apabila berjanji ingkar; apabila bersumpah melanggar; dan apabila bersengketa curang.” (HR. Syaikhan).
Pada hadits terdahulu disebutkan bahwa ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara dusta; bila berjanji ingkar; dan bila dipercaya berkhianat. Sedangkan dalam hadits kedua ini disebutkan empat macam pertanda orang munafik, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji ingkar, bila bersumpah melanggar sumpahnya, dan bila bersengketa curang atau tidak jujur. Barang siapa menyandang salah satu dari sifat tersebut, berarti dalam dirinya terdapat sebagian sifat munafik, hingga ia meninggalkannya. Dan apabila di dalam dirinya terdapat keempat sifat tersebut, berarti ia benar-benar orang munafik.
Kesimpulan makna hadis ini ialah memperingatkan kita dari sifat-sifat yang tercela itu, dan menganjurkan kepada kita agar mengoreksi diri, bila ternyata terdapat salah satu dari sifat tersebut, hendaknya kita segera meninggalkannya.
Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS. An-Nisa, 4: 138-139).
Dengan ayat tersebut Allah Swt. telah menerangkan bahwa ciri khas dari orang munafik adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung (pemimpin atau teman setia).
Dan dalam hadits yang lain beliau SAW. bersabda, “Orang yang bermuka dua sewaktu di dunia, kelak dihari kiamat akan datang dengan memiliki dua muka dari api (kedua mukanya itu dibakar oleh api neraka).” (HR. Thabrani melalui Sa’d). Dalam hadits yang senada, namun berbeda riwayatnya, “Barangsiapa ketika di dunia bermuka dua, kelak di hari kiamat ia akan memiliki dua lisan dari api.” (HR. Abu Dawud melalui ‘Ammar r.a.).
Jadi intinya dari dua hadits ini ialah mengecam keras orang yang bersifat muka dua atau munafik. Kelak dihari kiamat ia dibangkitkan, sedangkan ia memiliki dua lisan yang membakar dirinya.
Orang yang bermuka dua, adalah orang munafik, seperti yang digambarkan dalam Al-Quran, “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (pemimpin-pemimpin mereka), mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah, 2:14). Maka kelak di hari kiamat mereka mempunyai dua muka dari api neraka. Makna yang dimaksud ialah bahwa siksaan yang mereka terima dua kali lebih berat daripada orang-orang selain mereka.
Allah Swt., berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa, 4:145).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Penuhilah amanat itu kepada orang yang telah mempercayaimu. Janganlah kamu menghianati orang-orang yang khianat kepadamu.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud).
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Jaminlah untukku enam perkara dari diri kalian, niscaya kujamin surga untuk kalian, yaitu: apabila kalian berbicara jujurlah, apabila berjanji tepatilah, apabila diberi amanat sampaikanlah amanat itu, peliharalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan mata kalian, dan cegahlah kedua tangan kalian.” (HR. Baihaqi melalui Ubadah ibnush Shaamit).
Dalam hadits terdahulu telah disebutkan bahwa ciri orang munafik itu ada tiga, bila berbicara berdusta, bila berjanji ingkar, dan bila dipercaya berkhianat. Kemudian dalam hadits ini disebutkan kebalikannya dengan memakai kalimat perintah, yaitu jujurlah bila berbicara, tepatilah bila berjanji, sampaikanlah bila diberi amanat, seakan-akan hadits ini mengatakan berimanlah kalian dan janganlah kalian menjadi orang munafik.
Untuk menjauhi menjadi orang munafik maka kita hanya berharap dan berdoa agar hati-hati disucikan dari sifat nifak, dijauhkan amal-amal kita dari perbuatan sifat riya, dijaga lisan kita dari berdusta, dan mata-mata kita dari khianat. Wallahu A’lam bish-Shawabi.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar