oleh

Keutamaan dan Kemuliaan Bersedekah Dengan Makan-makanan

DI ANTARA hal yang dapat menyucikan jiwa dari kebakhilan (kikir) adalah infak dan sedekah dalam berbagai jalan kebaikan. Karena itu, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berinfak di jalan-Nya dan mengharap ridha-Nya. Allah Swt. telah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah, 2:195). “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah, 2:148).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya pahala yang diperoleh oleh orang yang memberi makan lagi bersyukur sama dengan pahala yang didapatkan oleh orang yang bershaum lagi sabar.” (HR. Hakim).

Sesungguhnya keutamaan pahala orang yang memberi makan di waktu paceklik, sulit dan susah dengan hati yang tulus ikhlas pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa lagi bersabar di dalam puasanya.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Banyak orang yang memberi makan dengan penuh rasa syukur, memperoleh pahala yang lebih besar daripada orang yang menjalankan shaum dengan penuh kesabaran.” (HR. al-Qudhai).

Orang yang memberi makan orang-orang yang kelaparan, terlebih lagi jika ia sedang mengerjakan puasa, lalu memberi makan berbuka kepada orang-orang lain yang berpuasa, jelas pahalanya lebih besar dari orang yang hanya berpuasa saja.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Muslim mana pun yang memberikan pakaian kepada muslim lainnya yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian sutera hijau dari surga. Dan muslim mana pun memberi makanan kepada muslim lainnya yang sedang kelaparan, niscaya di hari kiamat Allah akan memberikannya makanan buah-buahan surga. Dan muslim mana pun yang memberi minum muslim lainnya yang sedang kehausan, niscaya Allah Swt. di hari kiamat akan memberinya minum dari khamar surga yang masih tertutup rapat.” (HR. Muslim).

Khamar surga yang ditutup dengan minyak kasturi. Jadi, pahala di surga itu disesuaikan dengan nikmat surga yang kekal dan abadi, serta berbeda dengan yang ada di dunia.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa memberi makan kepada orang muslim yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makan dan buah-buahan surga.” (HR. Abu Na’im).

Tiada suatu makanan pun yang diberikan oleh seorang muslim kepada muslim lainnya yang sedang kelaparan, melainkan Allah akan membalasnya dengan makanan dari buah surga kelak di hari kemudian.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ingatlah, aku akan memberitahukan kepada kalian tentang amalan yang dapat memasukan kalian ke dalam surga, yaitu: memukul dengan pedang (berjihad fi sabilillah); menghormati tamu, memelihara waktu-waktu shalat (menjalankan shalat di awal waktunya), menyempurnakan bersuci di malam yang dingin sekali, dan memberi makanan yang disukainya (kepada orang-orang yang lapar).” (HR. Ibnu Asakir).

Di antara perbuatan yang dapat mengantar pelakunya ke surga ialah yang salah satunya (dari lima orang) adalah memberi makan kepada orang-orang miskin ialah makanan yang disukainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt., “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan”. (QS. Al-Insan, 76:8).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya dimiliki olehnya, niscaya Allah akan menaunginya di bawah naungan ‘Arasy pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, yaitu: berwudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan; berjalan ke masjid di kegelapan malam; dan memberi makan kepada orang yang lapar.” (HR. al-Ashbahani melalui Jabir).

Di antara orang-orang yang mendapat naungan dari Allah di bawah ‘Arasy-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya ialah orang-orang yang mengamalkan ketiga hal berikut, yaitu mengerjakan wudhu dengan sempurna di waktu malam yang sangat dingin, berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di malam yang gelap, dan suka memberi makan kepada orang yang kelaparan. Dalam hal ini Allah Swt., berfirman, “Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad, 90:14-16).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sembahlah Allah Yang Maha Pemurah, berilah makan fakir miskin, sebarkanlah salam, niscaya Anda masuk surga dengan selamat dan sejahtera.” (HR. Tirmudzi). Juga dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Hendaklah engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Amalan Islam apakah yang paling utama?” Nabi Saw., menjawab, “Berilah makanan kepada (kaum fakir miskin), dan ucapkanlah salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal, niscaya masuk surga.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat kamar-kamar atau gedung-gedung yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya. Allah Swt. telah mempersiapkannya buat orang yang gemar memberi makan (kepada orang miskin), lembut dalam berbicara, gemar bershaum dan mengerjakan shalat di malam hari sewaktu manusia sedang tidur.” (HR. Tirmidzi melalui k.w.).

Alangkah bahagianya orang yang gemar memberi makan fakir miskin, tamu atau keluarga, selalu lemah lembut, halus tutur katanya, dan selalu mengikutkan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, serta gemar shalat di waktu malam ketika orang-orang sedang tidur nyenyak. Mereka akan mendapat balasan pahala dari Allah Swt. di dalam surga, yaitu berupa gedung yang tinggi-tinggi, yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya.

Semoga kita tetap istiqomah dalam membelanjakan harta kita di jalan Allah dengan memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, kaum fakir miskin, anak yatim tujuannya adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat dan Anggota PB Al Washliyah.

 267 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *