oleh

Kerjakanlah Salat Seperti Salatnya Perpisahan

RASULULLAH shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan shalat, maka kerjakanlah seperti shalatnya orang yang menyangka tidak akan lagi mengerjakannya untuk selamanya.” (HR. ad-Dailami melalui Ummu Salamah).

Hadits ini menganjurkan kepada kita agar mengerjakan shalat dengan baik dan khusyuk sehingga digambarkan oleh hadits ini seakan-akan kita hendak berpisah dengannya dan tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya. Dengan demikian, berarti kita mengerjakannya dengan penuh kekhusyukan dan rendah diri yang sangat.

Makna hadits di atas senada dengan makna yang diutarakan oleh hadits lainnya, “Kerjakanlah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Ibnu Asakir).

Makna hadits ini merupakan tamsil yang menggambarkan kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, yakni bagaimana seseorang menjalani kedua kehidupan tersebut. Mengingat hal yang diserupakan merupakan suatu hal yang mustahil, karena tiada seorang manusia pun yang hidup untuk selama-lamanya, maka dipakailah _Ka-anna_ yang artinya: seakan-akan kamu benar-benar akan hidup selamanya. Allah Swt. telah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.” (QS. Ali-Imran: 185).

Demikian pula masalah mati besok, hal ini merupakan suatu yang mustahil, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang mengetahui di mana dan kapan kita akan mati. Berdasarkan uraian di atas dimaksudkan untuk mengingatkan manusia yang sering melalaikan tujuan hidupnya karena kesibukannya dalam mengumpulkan harta duniawi dan bermegah-megahan. Maka jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai sarana untuk mencapaikan kebahagiaan yang abadi di akhirat karena sesungguhnya kehidupan di akhirat itu merupakan kehidupan yang hakiki, oleh karena itu dalam melakukan shalat, hendaklah dilakukannya dengan perasaan akan mati.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw, berpesan kepada Abu Ayub, “Jika kamu menunaikan shalat, shalatlah seperti shalatnya orang yang melakukan shalat perpisahan.” Dalam hadits ini Nabi Saw. ingin berkata kepada Abu Ayub dan orang-orang datang sesudahnya, “Kerjakan shalat dengan perasaan: bayang-bayang kematian menenggelamkanmu, desah nafas malaikat maut bercampur-baur dengan desah nafasmu, dan ia akan segera mencabut nyawamu segera setelah kamu mengucapkan salam. Ini adalah akhir dari shalatmu, akhir dari keberadaanmu di dunia manusia, dan sebagai tanda dekatnya ajalmu dan habisnya masa penjagaanmu. Lakukanlah shalat seperti shalatnya orang yang mengetahui bahwa tidak ada waktu lagi antara dirinya dan kedatangannya kepada Rabbnya, setelah salam. Ketika itu lakukanlah, maka kita akan dapat shalat dengan khusyu’.”

Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah kematian dalam shalatmu. Jika seseorang mengingat kematian dalam shalatnya, maka sudah selayaknya shalatnya diperbagus.”

Barangsiapa yang ingin menggapai kebaikan khusyu’, maka ia harus berenang di samudera perenungan dan harus menyelam dalam sungai linangan air mata. Sebagaimana Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS.Shàd, 38: 29).

Orang yang merenungkan dengan hatinya, air matanya akan berlinang. Orang yang tidak bisa membawa al-Quran melewati tenggorokannya menuju hatinya, maka hatinya akan menjadi gersang dan kedua matanya mengering. Ibnu Abbas ra, berkata, “Jika kalian membaca ayat sajadah subhanahu_ , maka janganlah segera bersujud sampai kamu menangis terlebih dahulu. Jika mata kalian tidak bisa menangis, maka hendaknya hatinyalah yang menangis.”

Yang dimaksud _sajadah_ _subhanahu_ di sini adalah ayat sajadah dalam surat al-Isra’, yang terdalam firman Allah Swt, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. al-Isra’, 17: 109. Menangisnya hati adalah bentuk perenungan yang mewariskan ketakutan, dan menangisnya hati sudah pasti akan membuat mata menangis. Karena itu, jika kita dikaruniai rasa takut ini, maka berbahagialah. Sebab kita hampir sampai ke tujuan.

Di antara hal yg banyak membantu seseorang dalam merenungkan al-Quran adalah dengan cara membaca ayat secara berulang-ulang, sebagaimana yang dilakukan Nabi Saw. Beliau pernah shalat malam dengan hanya membaca satu ayat saja hingga tiba waktu shubuh. Ayat tersebut adalah firman Allah Swt, “Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Maidah, 5: 118.

*Rasulullah* shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Shalatlah seperti shalatnya orang yang pamitan (akan mati), dan sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu. Dan berputusasalah dari apa yang ada di tangan orang lain, niscaya engkau hidup berkecukupan, dan hati-hatilah engkau terhadap hal-hal yang dimaafkan.” (HR. Ibnun Najjar melalui Ibnu Umar r.a.).

Kerjakanlah shalat seakan-akan engkau tidak akan bersua lagi dengannya. Makna yang dimaksud ialah, kerjakanlah shalat di awal waktunya karena sesungguhnya ibadah yang paling baik ialah mengerjakan shalat di awal waktunya. Dan kerjakanlah shalat dengan penuh khusyuk serta lengkap dengan semua sunah-sunahnya, seakan-akan engkau hendak berpisah dengan orang yang paling engkau cintai.

Ketika Nabi Saw. bertanya kepada Malaikat Jibril tentang makna Ihsan, maka Malaikat Jibril a.s. menjawab, “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Hal ini identik dengan pengertian _Raqabah_ yang terkandung dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa, 4:1).

Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki harta yang berlimpah, karena adakalanya orang yang kaya itu masih menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain, tetapi orang yang kaya ialah, orang yang tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain, atau dengan kata lain ialah orang yang tidak tamak. Dan tinggalkanlah hal-hal yang akibatnya tidak diinginkan, niscaya kita hidup selamat.

Semoga kita tetap istiqomah melakukan shalat dengan khusyu’, dan menangis sehingga shalat kita seperti shalat perpisahan karena ingat akan kematian. Wallahu A’lam bish Shawab.

Drs.H. Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *