RASULULLAH shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Malu dan iman keduanya selalu berbarengan, apabila salah satu di antaranya lenyap, maka yang lainnya pun akan lenyap pula.” (HR. Abu Na’im melalui Ibnu Umar r.a.)
Malu dan iman merupakan dua sejoli yang tak dapat dipisahkan; apabila salah satunya tiada, yang lainnya pun ikut tiada pula. Malu yang bersumberkan iman adalah malu yang disebabkan watak iman, yang menjadikan manusia senantiasa teguh bertaqwa kepada Allah Swt. Karena, orang yang tidak punya malu akan mengerjakan apa saja yang diinginkan.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya di antara perkataan para nabi terdahulu yang ditemukan oleh orang-orang adalah, “Apabila engkau tidak merasa malu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.” (HR. Bukhari).
Apabila seseorang tidak mempunyai rasa malu, maka ia berbuat sekehendak hatinya tanpa ada yang mencegahnya, dan apabila ia sudah sampai kepada tingkatan ini, maka tidak ada bedanya antara kita dengan hewan.
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Iman itu mempunyai enam puluh lebih cabang, dan malu merupakan cabang (bagian) dari iman.” (HR. Bukhari).
Iman mempunyai enam puluh cabang lebih, dan cabang yang paling penting ialah rasa malu. Atau dengan kata lain, bahwa orang yang beriman itu pasti mempunyai rasa malu yang kuat sesuai dengan kadar imannya. Rasa malu mencegah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tidak heran apabila dikatakan bahwa malu merupakan sebagian dari iman.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sifat malu tiada lain hanyalah mendatangkan kebaikan belaka.” (HR. Muslim). “Tiadalah yang didatangkan oleh rasa malu melainkan hanya kebaikan.” (HR. Syaikhan melalui Imran ibnu Hushain r.a.).”Malu mendatangkan semua kebaikan.”(HR. Muslim melalui Imran ibnu Hushain r.a.).
Pada hadits-hadits di atas dikatakan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Dalam hadits tiga yang disebutkan di atas disebutkan bahwa malu itu mendatangkan kebaikan. Dikatakan demikian karena ternyata rasa malu dapat mencegah seseorang dari melakukan perbuatan dosa dan tidak senonoh sehingga selamatlah ia dari celaan. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi Saw. adalah orang yang lebih pemalu daripada perawan yang berada di dalam kemah (pingitan) nya. Malu merupakan salah satu dari sifat Nabi Saw. Oleh karena itu, kita sebagai umatnya harus mencontoh sifat beliau semampu mungkin.
Pengertian malu mencakup malu terhadap manusia dan malu terhadap Allah. Malu terhadap manusia dapat mencegah seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sopan atau yang tercela menurut etika, sedangkan malu terhadap Allah mencegah seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan kedurhakaan.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Malulah kalian terhadap Allah dengan sebenar-benarnya; barang siapa merasa malu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya, maka hendaknyalah ia memelihara kepala (akal) dan apa yang terdapat padanya, dan hendaknya ia memelihara perut dan apa yang dikandungnya, serta hendaknya ia mengingat mati dan kefanaan. Barang siapa yang menginginkan (pahala) akhirat, tinggalkan perhiasan kehidupan dunia. Barang siapa mengerjakan hal tersebut berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allah.” (HR. Tirmudzi melalui Ibnu Mas’ud).
Hadits ini menerangkan tentang keutamaan malu kepada Allah Swt. dan menganjurkan kita agar mengerjakannya. Memelihara kepala dan apa yang terdapat padanya, maksudnya mata, telinga, dan mulut serta anggota lainnya yang terdapat pada kepala. Pengertian memelihara ialah memelihara anggota-anggota tersebut dari berbuat maksiat. Hadits ini secara khusus hanya menyebutkan kepala dan anggota-anggota lainnya yang terdapat padanya karena kepala merupakan pusat segalanya.
Dan hendaknya ia memelihara perut serta apa yang dikandungnya; maksudnya janganlah kita memakan barang-barang yang diharamkan, baik yang haram dzati seperti khamar, babi, dan barang najis, maupun barang yang haram fi’iliy , seperti mencuri, menipu, korupsi, menjambret, memcegal, menggarong dan lain sebagainya yang hukumnya haram karena perbuatan pelakunya, bukan karena barangnya.
Serta mengingat mati dan kefanaan merupakan hal yang dianjurkan karena dengan mengingat mati seseorang akan ingat hari akhirat. Bila kita ingat hari akhirat, maka terpaculah diri kita untuk berbuat amal saleh guna bekal di hari kemudian. Barang siapa yang ingat akhirat, dengan sendirinya kita akan meninggalkan perhiasan kemewahan duniawi. Barang siapa yang mengerjakan semua itu, berarti kita benar-benar malu kepada Allah.
Namun apabila sifat malu dalam bermuamalah yang berlebihan maka itu adalah satu bentuk penyakit kejiwaan yang harus disembuhkan, karena akan menyebabkan kefakiran. Betapa banyak orang yang mempunyai kesempatan dalam berbagai hal, dan terbuka peluang baginya dari berbagai penjuru, namun kemudian sifat malunya mencegah dia meraih kesempatan tersebut. “Kegagalan menyertai ketakutan, dan kefakiran menyertai rasa malu, sementara kesempatan berlalu secepat awan.” (Sahabat).
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Malu merupakan perhiasan, taqwa merùpakan kemuliaan; sebaik-baik kendaraan adalah sabar, dan menanti jalan keluar dari Allah Swt. merupakan ibadah.” (HR. Hakim melalui Jabir r.a.).
Sifat yang paling baik sebagai perhiasan diri seseorang ialah sifat malu, dan taqwa itu akan mendatangkan kemuliaan bagi orang yang menyandangnya. Sebaik-baik kendaraan ialah sabar! Sabar sebagai sesuatu yang abstrak diserupakan dengan suatu yang kongkrit, yaitu kendaraan dengan tujuan; kedua-duanya dapat mengantarkan pelakunya kepada apa yang dicita-citakannya. Kemudian dalam kalimat selanjutnya diterangkan bahwa menunggu datangnya jalan keluar dari Allah Swt. merupakan ibadah. Hal ini memerlukan kesabaran seperti yang diterangkan dalam kalimat sebelumnya. Wallahu A’lam bish-Shawabi.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.
* Penulis Rubrik Rohani poskota.co







Komentar