oleh

Ditetapkan KPK Sebagai Tersangka, Mantan Dirut Sarana Jaya Masuk Bui

POSKOTA. CO – Setelah dua kali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Sarana Jaya, Yoory C Pinontoan akhirnya dibui.

Untuk tahap pertama, Yoory ditahan selama 20 hari di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya, Guntur, Jakarta Selatan, terhitung sejak 27 Mei sampai 15 Juni 2021.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron menjelaskan, Yoory ditetapkan sebagai tersangka perkara dugaan korupsi proyek pengadaan lahan di kawasan Munjul, Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur pada 2019. Proyek pengadaan lahan seluas 41.921 meter persegi itu diduga merugikan keuangan negara hingga Rp 152,5 miliar.

KPK menduga, masih ada delapan obyek lahan lain yang dibeli Sarana Jaya yang digelembungkan harganya. Seluruh lahan itu rencananya dipergunakan untuk membangun hunian yang dijual dengan uang muka (DP) 0 persen.

Ghufron belum bersedia mengungkapkan data-data terkait delapan obyek lahan lain yang dibeli tersangka. Menurutnya, pengembangan perkara akan dilanjutkan penyidik.

“Informasi maupun bukti-bukti yang sudah ada akan dijadikan bahan mengembangkan perkara,” ujarnya.

Dia pun emoh mengomentari soal dugaan mark-up harga tanah yang diperkirakan mencapai Rp 5,2 juta per meter perseginya.

Selain Yoory, KPK menahan tersangka Anja Runtuwene (Wakil Direktur PT Adonara Propertindo) dan Tommy Adrian (Direktur PT Adonara Propertindo). Pada kasus ini, KPK juga menetapkan PT Adonara Propertindo sebagai tersangka korporasi.

“Kami menemukan bukti permulaan yang cukup. KPK menetapkan peningkatan status perkara ini ke penyidikan sejak 24 Februari 2021 dengan menetapkan empat tersangka,” kata Ghufron.

Para tersangka dijerat Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Selama proses penyelidikan dan penyidikan kasus ini, sedikitnya sudah ada 44 orang saksi yang diperiksa. Diketahui, sebelum menetapkan penahanan tersangka kasus ini, KPK sempat memeriksa dua saksi.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan, kedua saksi adalah, Ucu Samsul Arifin, staf marketing di Kantor Jasa Penilai Publik Wahyono Adi dan Rekan. Saksi kedua adalah Andyas Geraldo.

Pemeriksaan saksi berkutat seputar teknis pembelian lahan, berikut penentuan perkiraan harga lahan yang dilakukan tersangka. Ali menjelaskan, pemeriksaan kedua saksi tersebut sebagai tindaklanjut pemeriksaan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI, Edi Sumantri dan Senior Manajer Divisi Pertanahan dan Hukum Perumda Sarana Jaya ,Yadi Robby.

Senada dengan Ghufron, Ali tak bersedia memberikan keterangan tambahan terkait dugaan masih adanya obyek lahan lain yang bermasalah. “Nanti dikonfirmasi lebih dulu ke penyidik. Bagaimana perkembangannya akan diinformasikan. Sejauh ini kita fokus pada persoalan penahanan,” elaknya. (ale/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *