oleh

Bom Bunuh Diri Atau Bunuh Diri Masuk Neraka Jahannam

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dan barang siapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS, an-Nisa’, 4:93).

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing, maka si pembunuh dan terbunuh kedua-duanya masuk neraka”. Para sahabat berkata, “Pembunuh ini (telah jelas perkaranya), maka bagaimana pula dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya keduanya telah bermaksud membunuh saudaranya.” Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Barangsiapa membantu pembunuhan atas seorang Mu’min dengan sebagian perkataan, niscaya ia akan menemui Allah (di hari kiamat) tertulis di antara dua keningnya: Putus asa dari rahmat Allah.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa menyeru umatnya agar menjaga jiwa mereka dengan sebaik-baiknya serta tidak melakukan hal-hal yang dapat mencelakakan nya. Hal ini disebabkan jiwa kita adalah milik Allah Swt. Dia merupakan amanah yang harus dipelihara. Dalam hal ini Saw. bersabda, “Siapa yang bermalam di sebuah rumah yang tidak mengenakan pelindung lalu dia terjatuh dan meninggal maka Allah berlepas diri darinya (murka kepadanya). Demikian juga, siapa yang nekad pergi berlayar padahal ombak sedang menggunung kemudian dia meninggal maka dia juga lepas dari tanggungan Allah Swt.” (HR. Ahmad).

Adapun yang dilakukan sebagian orang dengan membawa bahan peledak (bom), dan maju kepada orang-orang, kemudian apabila telah berada di tengah-tengah mereka ia meledakkannya, maka sesungguhnya tindakan ini termasuk bunuh diri dan atau meletakkan bom di tubuhnya dengan tujuan meledakkan dirinya di tempat keramaian, maka dia telah membunuh dirinya. Dan barang siapa membunuh dirinya sendiri, maka dia akan kekal di neraka Jahannam selama-lamanya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Seseorang yang membunuh diri dengan mencekik dirinya, kelak ia akan mencekik dirinya pula di dalam neraka; dan orang yang bunuh diri dengan menusuk dirinya, kelak ia akan menusuk dirinya pula di dalam neraka.” (HR. Bukhari melalui Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu alat, maka kelak di neraka ia akan disiksa dengan alat tersebut untuk selama-lamanya, jika ia menghalalkan perbuatannya. Dalam hadits lainnya Rasulullah bersabda, “Barang siapa menjatuhkan dirinya dari atas bukit lalu ia mati, maka ia dimasukan ke dalam neraka Jahannam dan diperosokkan di dasarnya, ia kekal di dalamnya. Barang siapa meminum racun lalu ia mati, ia di masukan ke dalam neraka Jahannam sambil memegang racun di tangannya lalu ia meminumnya secara terus menerus, dan ia kekal di dalamnya. Barang siapa membunuh dirinya dengan besi, ia di masukan ke dalam neraka Jahannam seraya menusuk-nusuk perutnya dengan besi yang berada di tangannya. Dan ia kekal di dalamnya (di dalam neraka Jahannam).” (HR. Bukhari melalui Abu Hurairah r.a.).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “ … Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah amat kasih sayang terhadapmu.” (QS, An-Nisa’:29).

Siksaan di dalam neraka itu disesuaikan dengan jenis perbuatan dosa pelakunya; orang yang bunuh diri dengan melemparkan diri dari atas jurang, kelak di neraka Jahannam ia dijatuhkan dari atas bukit neraka ke dalam jurangnya untuk selama-lamanya. Orang yang bunuh diri dengan meminum racun, maka di dalam neraka Jahannam racunnya itu dalam bentuk yang lebih dahsyat berada di tangannya, lalu ia minum untuk selama-lamanya. Orang yang bunuh diri dengan besi runcing, maka di dalam neraka Jahannam besi itu berada di tangannya dalam bentuk yang lebih mengerikan, lalu ia pakai untuk menusuki dirinya untuk selama-lamanya. Jadi dapat disimpulkan dari hadis ini bahwa bunuh diri merupakan salah satu dari dosa-dosa besar yang membinasakan.

Dalam pandangan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, “bahwa tindakan sebagian orang dengan melakukan bom bunuh diri tergolong dalam perbuatan bunuh diri tanpa alasan yang dibenarkan, dan menjadikan pelakunya masuk Neraka, dan pelakunya tidak dikatakan syahid, sebab orang ini telah membunuh dirinya sendiri tanpa mendatangkan kemashlahatan sedikit pun. Walaupun orang itu melakukan tindakan tersebut karena mentakwil, tetap tidak bisa dijuluki seorang Syuhada, karena dia tidak menempuh jalan syahadah (cara mati syahid yang benar).”

Dan dalam pandangan Syaikh Mahmoud Syaltout bahwa, “sudah barang tentu bencana yang menimpa kemanusiaan karena bunuh diri lebih berat dalam neraca daripada bencana yang ditimbulkan oleh pembunuhan terhadap orang lain. Betul keduanya merupakan pembunuhan yang diharamkan Allah dan sama-sama menghancurkan bangunan yang dikehendaki oleh Allah, hanya pertama ia membunuh orang lain agar dia sendiri hidup, sedang yang bunuh diri ia membunuh agar ia mati. Kalau pembunuhan terhadap orang lain merupakan ancaman terhadap kemanusiaan maka bunuh diri lebih merusak dan lebih berbahaya dan dapat menghancur luluhkan kemanusiaan sama sekali.”

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Ada seorang sebelum kamu terdapat luka di tangannya, ia tak sabar terhadap lukanya. Lalu ia mengambil pisau dan memotong tangannya, sebelum darahnya berhenti mengalir orang tersebut telah meninggal. Maka berfirmanlah Allah” “Orang ini telah mendahului Kami dengan bertindak atas dirinya. Kami haramkan baginya surga.”

Dalam hadits yang lain Beliau Saw. bersabda, “Kami sedang bersama dengan Rasulullah Saw. dimana beliau bersabda kepada seorang yang mengaku seorang Islam: Ini dari penghuni neraka. Setelah terjadi peperangan orang tersebut berperang dibarisan ummat Islam dengan semangat yang tinggi, lalu ia mendapat luka dalam peperangan tersebut. Ditanyakan kepada Rasul Saw: “Wahai Rasul orang yang tuan katakan sebagai penduduk neraka telah berperang dengan semangat gagahnya, dan sekarang ia sudah meninggal. Sebagian ummat Islam waktu itu ragu, kata mereka: Bagaimana menjadi penduduk neraka ….? Sedang mereka berkata satu sama lain menunjukkan keraguan, maka ada seorang yang berkata: ia belum mati, tetapi ia luka berat, dan pada suatu malam ia tak sabar dengan lukanya itu dan diambilnya pedangnya kemudian membunuh diri, hal ini kemudian disampaikan kepada Rasul Saw. Maka beliau pun bersabda, “: Allahu Akbar, saya bersaksi bahwa saya adalah hamba dan Rasul Allah. Kemudian beliau memerintahkan kepada Bilal untuk mengumumkan kepada segenap orang bahwa tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri (muslim) … ”

Berbagai ancaman yang digambarkan dalam beberapa ayat dan hadits di atas, adalah sangat berat dan tidak tertangguhkan oleh pelaku pembunuhan diri atau bunuh diri, bahwa bunuh diri merupakan salah satu dari dosa-dosa besar dan kekal di dalam neraka Jahannam. Karena itu, hendaklah kita menjaga diri dengan baik, agar tidak tergelincir dalam kutukan dan murka Allah swt, sehingga kita tidak dicampakkan ke dalam siksa-Nya yang sangat pedih dan dahsyat. Wallahu A’lam bish shawab.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Mantan Ketua Wilayah Al Washliyah Jawa Barat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *