oleh

Pemkot Bogor Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka di Semua Sekolah Pasca-Erupsi Gunung Anak Krakatau

BOGOR – Pembelajaran tatap muka (PTM) kembali digelar di sejumlah sekolah di Kota Bogor setelah sempat dihentikan sementara akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kualitas udara.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Herry Karnadi meninjau langsung kesiapan sejumlah sekolah, Rabu (9/9).

Salah satu sekolah yang dikunjunginya adalah SDN Duta Pakuan, Kota Bogor. Kedatangan Dedie disambut antusias para siswa yang kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah. Anak-anak tampak riang saat memasuki lingkungan sekolah setelah sebelumnya menjalani pembelajaran jarak jauh.

Sebelumnya, Disdik Kota Bogor meminta seluruh sekolah memastikan lingkungan sekolah dalam kondisi bersih sebelum PTM kembali dilaksanakan. Sekolah juga diminta mengantisipasi kondisi kualitas udara serta menerapkan protokol kesehatan untuk melindungi siswa.

Keputusan kembali menggelar PTM dilakukan setelah indikator kualitas udara di Kota Bogor menunjukkan perbaikan.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor yang terkoneksi dengan sistem ISPU Kementerian Lingkungan Hidup, konsentrasi PM2,5 pada Rabu pagi masih berada dalam kategori baik.

Pada pukul 06.00 WIB, kadar PM2,5 tercatat 19,6 µg/m³. Angka tersebut meningkat menjadi 20,1 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB, namun masih berada dalam kategori baik. Sementara itu, rata-rata konsentrasi PM2,5 dalam periode 24 jam tercatat sekitar 36,72 µg/m³.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan pemerintah sebelum kembali membuka kegiatan pembelajaran secara tatap muka.
Dedie mengatakan Pemkot Bogor sebelumnya memutuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua hari, yakni 7-8 September 2026.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Menurutnya, aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan siswa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. “Faktor kesehatan, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan menjadi hal utama bagi anak-anak,” tandas Dedie. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *