oleh

Sido Muncul Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores, Fokus Pulihkan Kesehatan, Pendidikan hingga Rumah Adat

 JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan kali ini menyasar sejumlah kelompok dan lembaga yang berada di wilayah terdampak, mulai dari paroki, lembaga adat, lembaga pendidikan, hingga lembaga sosial.

Bantuan senilai total Rp510 juta tersebut diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) Dr (HC) Irwan Hidayat kepada sejumlah perwakilan kelompok dan lembaga di kantor Sido Muncul Jakarta pada Senin (7/9/2026). Di antaranya adalah Perwakilan Paroki Kristus Raja Pagal/JPIC OFM, Romo Wolfhelmus Apriliano OFM; Lembaga Pelayanan Sukarela Pendidikan Anak FLORENZA, Fulgensius Surianto; Rumah Gendang Pa’ang Lembor, Agustinus Bandur Ph.D; Biara SSpS Ruteng (Yayasan Dian Yosefa), Sr. Dorothea Siu, SSpS; Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores Keuskupan Agung Ende, Romo RD Reginald Piperno; Paroki Uwa Palue Keuskupan Maumere, Romo Rinto RD; Keuskupan Labuan Bajo, Romo Frans Nala, Pr; Paroki Hati Maha Kudus Tuhan Yesus Pota Keuskupan Ruteng, Romo Febryano Tagung; Paroki St. Antonius Padua Ri’i Keuskupan Ruteng, Romo RD Tarsisius Syukur; Caritas Keuskupan Larantuka, Romo RD Pey Hurint; dan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia yang juga merupakan Komisaris Independen Sido Muncul, Dr. dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT.

Dalam pernyataannya Irwan Hidayat, menyebut bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang terdampak bencana. “Sebelumnya kami menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana di NTT melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, juga Badan Pengawas Obat dan Makanan. Kali ini kami salurkan ke sejumlah lembaga yang membutuhkan dukungan untuk memulihkan aktivitas masyarakat setelah bencana,” ujar Irwan.

Irwan menyebut penerima bantuan antara lain paroki-paroki, lembaga adat, serta lembaga yang bergerak dalam pendidikan anak. Data penerima bantuan, termasuk nama lembaga, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi, menjadi bagian penting dalam proses penyaluran agar bantuan dapat diterima oleh pihak yang tepat.

Irwan Hidayat mengatakan penyaluran bantuan dilakukan dengan melihat kebutuhan di lapangan. Selain memberikan bantuan dalam bentuk dana, pihaknya juga meminta informasi penerima secara lengkap, termasuk nama lembaga, alamat, dan nomor yang dapat dihubungi. Hal tersebut dilakukan agar proses penyaluran dapat dilakukan secara terarah.

Bantuan juga tidak hanya menyasar korban secara individual, tetapi lembaga yang menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat. Mulai dari lembaga adat, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga pelayanan kesehatan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memulihkan kembali fasilitas yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Kerusakan sekolah dan fasilitas pendidikan menjadi salah satu persoalan yang memerlukan perhatian khusus. Sebab, berbeda dengan kebutuhan darurat seperti makanan dan pelayanan medis, pendidikan harus terus berlangsung meskipun masyarakat berada dalam situasi bencana.

Anak-anak tidak dapat menunggu sampai seluruh proses rehabilitasi selesai untuk kembali belajar. Karena itu, penggunaan tenda sebagai ruang kelas sementara menjadi solusi agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Namun, dalam jangka panjang, pembangunan kembali sekolah menjadi kebutuhan utama. Bantuan yang disalurkan kepada lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadi bagian dari proses tersebut. 

Bantuan Menyasar Pendidikan Anak

Gempa yang terjadi di NTT mengakibatkan sejumlah lembaga pendidikan mengalami kerusakan sehingga aktivitas belajar mengajar tidak dapat dilakukan seperti sebelum bencana. Salah satu penerima bantuan adalah Yayasan Florenca yang berada di Kabupaten Manggarai, tepatnya di Desa Persiapan Redo.

Agustinus Bandur, yang mewakili Yayasan Florenca, mengatakan lembaga tersebut selama ini memiliki perhatian terhadap pendidikan anak-anak di wilayahnya, terutama untuk mencegah anak putus sekolah.

Menurut Agustinus, salah satu program yang dijalankan adalah membantu anak-anak agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan SMA. “Lembaga ini membantu anak-anak untuk mencegah putus sekolah,” katanya.

Ia menjelaskan, bantuan yang diterima dari Sido Muncul akan mendukung keberlanjutan kegiatan pendidikan sekaligus membantu pemulihan fasilitas yang terdampak gempa.

Selain bantuan pendidikan, terdapat pula bangunan yang mengalami keretakan akibat gempa. Fasilitas yang terdampak antara lain bangunan yang digunakan untuk kegiatan pendidikan anak, perpustakaan, serta tempat yang digunakan untuk latihan komputer dasar. Fasilitas tersebut dinilai penting karena digunakan anak-anak dari beberapa kampung di sekitar komunitas.

Agustinus mengatakan perpustakaan menjadi salah satu fasilitas yang terdampak. Padahal, perpustakaan tersebut selama ini dimanfaatkan anak-anak untuk membaca. Selain membaca, anak-anak juga menggunakan fasilitas tersebut untuk mendapatkan pengenalan dan latihan komputer dasar.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pendidikan semacam itu penting untuk mendukung anak-anak di wilayah yang akses terhadap fasilitas pendidikan tambahan masih terbatas. Karena itu, pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan kembali rumah tinggal, tetapi juga memastikan fasilitas yang mendukung perkembangan anak dapat kembali digunakan.

“Perpustakaan yang kita pakai untuk anak-anak bisa baca, kemudian latihan komputer dasar. Di sekitar situ ada anak SD dan beberapa kampung di sekitar komunitas ini,” jelasnya.

Rumah Adat Panglembur Rusak

Bantuan juga diberikan kepada Lembaga Adat Panglembur di Kabupaten Manggarai Barat. Fulgensius Suryanto, yang mewakili lembaga adat tersebut, mengatakan gempa menyebabkan kerusakan cukup parah pada sejumlah bangunan di kampung Panglembur.

Salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan adalah dapur yang digunakan sebagai bagian dari pusat kegiatan adat masyarakat. Menurut Fulgensius, dapur tersebut mengalami kerusakan berat hingga rata dengan tanah.

Padahal, fasilitas itu memiliki fungsi penting karena digunakan untuk berbagai kegiatan adat dalam satu kampung. “Pada saat gempa, dapur itu sudah rata tanah. Karena di situ menjadi pusat kegiatan adat untuk satu kampung,” ujarnya.

Selain dapur, sekitar enam rumah di kampung tersebut juga mengalami kerusakan parah. Kondisi itu membuat proses pemulihan masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk kebutuhan individu, tetapi juga dukungan terhadap fasilitas bersama yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Rumah dan fasilitas adat memiliki fungsi sosial yang cukup besar bagi masyarakat setempat. Selain menjadi tempat berlangsungnya kegiatan adat, fasilitas tersebut juga menjadi ruang berkumpul dan menjalankan berbagai aktivitas bersama. Karena itu, kerusakan fasilitas adat akibat gempa ikut memengaruhi aktivitas masyarakat.

Fulgensius menyampaikan apresiasi kepada Sido Muncul dan Irwan Hidayat atas bantuan yang diberikan. Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu masyarakat memperbaiki fasilitas yang rusak sekaligus memulihkan aktivitas komunitas. 

Sekolah Rusak, Ratusan Siswa Belajar di Tenda

Dampak gempa terhadap pendidikan juga dirasakan oleh lembaga pendidikan yang dikelola Kongregasi SSPS di wilayah Ruteng. Perwakilan Yayasan Pendidikan Dian Yosef Farute menjelaskan sejumlah sekolah yang berada di bawah naungan kongregasi tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Sekolah yang terdampak antara lain TK Imakulata Ruteng, SMPK Imakulata Ruteng, dan SMPK Setia Bakti Ruteng. “Sekolah kami itu milik kongregasi. Ada TK Imakulata Ruteng, lalu SMPK Imakulata Ruteng, dan SMPK Setia Bakti Ruteng. Itu benar-benar sama sekali tidak bisa digunakan lagi,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar harus dipindahkan ke lokasi sementara. Para siswa kini mengikuti pembelajaran di tenda yang didirikan di halaman sekolah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena proses pendidikan harus tetap berjalan meskipun fasilitas utama sekolah mengalami kerusakan.

Jumlah siswa yang terdampak mencapai ratusan orang. Untuk tingkat TK terdapat sekitar 100 anak, sedangkan jumlah siswa pada jenjang SMP dan SMA juga mencapai ratusan. Meski demikian, tidak terdapat korban jiwa dari kalangan siswa maupun guru dalam kejadian tersebut.

Menurutnya, gempa terjadi pada pagi hari sebelum anak-anak datang ke sekolah. “Tidak ada korban meninggal, karena waktu itu gempanya pagi. Anak-anak belum datang, masih di rumah,” katanya.

Bantuan dari Sido Muncul diharapkan dapat mendukung proses pemulihan fasilitas pendidikan yang rusak. Pembangunan kembali gedung sekolah tentunya membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar. Karena gedung lama tidak dapat digunakan, kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di tempat lain.

Mewakili yayasan, ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah maupun pihak-pihak yang telah memberikan bantuan. Menurutnya, bantuan tersebut akan digunakan secara bertahap untuk mendukung pembangunan kembali fasilitas pendidikan. “Gedung sekolahnya sama sekali tidak bisa dipakai lagi. Tidak bisa digunakan lagi. Bantuan itu akan digunakan untuk pembangunan pelan-pelan,” ujarnya.

Tim Dokter Ortopedi Dikirim Sejak Hari Pertama

Selain bantuan sosial dan pendidikan, penanganan kesehatan juga menjadi perhatian dalam respons terhadap gempa Flores. Dokter Adib yang merupakan dokter spesialis ortopedi menjelaskan bahwa tim dokter telah dikirim sejak hari pertama setelah gempa.

Menurut dia, kebutuhan tenaga ortopedi cukup tinggi karena banyak korban mengalami cedera akibat bencana. Keterbatasan jumlah dokter ortopedi di wilayah terdampak membuat bantuan tenaga medis dari berbagai daerah segera dikerahkan.

“Karena kebetulan gempa, banyak korban yang mengalami cedera. Dari hari pertama, karena jumlah dokter ortopedi terbatas di sana, kita sudah langsung kirim dari Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Pada dua minggu pertama setelah bencana, sekitar 16 hingga 18 dokter ortopedi per hari disebut diperbantukan untuk memberikan pelayanan di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Tim medis tersebut berasal dari berbagai wilayah. Di antaranya terdapat tim dari Surabaya, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Jakarta. Pengiriman tenaga medis dilakukan melalui organisasi profesi serta bekerja sama dengan sejumlah instansi pemerintah daerah.

Menurut Adib, pelayanan kesehatan tidak hanya terpusat di satu lokasi. Tim ortopedi bergerak di tujuh kabupaten di Pulau Flores untuk memberikan penanganan kepada korban yang mengalami cedera akibat gempa. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga medis pada masa awal tanggap darurat.

Selain tenaga dokter, dukungan fasilitas kesehatan juga diberikan melalui sejumlah sarana pelayanan bergerak. Adib menyebut terdapat rumah sakit kapal terapung yang turut bergerak memberikan dukungan pelayanan kesehatan. Dukungan tersebut melengkapi keberadaan tenaga medis yang diterjunkan ke daerah-daerah terdampak.

Meskipun jumlah pasien yang membutuhkan penanganan ortopedi telah menurun dibandingkan dua minggu pertama, pelayanan kesehatan masih terus dilakukan. Adib mengatakan saat ini masih terdapat dua tim yang diperbantukan di wilayah terdampak.

Tim tersebut tidak hanya menangani pasien dengan cedera akut, tetapi juga melakukan penyisiran terhadap kasus-kasus yang masih membutuhkan penanganan setelah bencana. “Memang jumlah pasien tidak sebanyak dua minggu pertama. Tapi masih ada dua tim yang kita turunkan untuk melakukan pelayanan dan menyisir beberapa kasus, khususnya kasus pascagempa,” katanya.

Menurutnya, dari sisi bedah dan ortopedi, jumlah korban yang membutuhkan pelayanan telah mengalami penurunan. Namun, kebutuhan kesehatan pascabencana belum selesai.

Setelah masa tanggap darurat awal berlalu, perhatian mulai bergeser dari penanganan cedera akut menuju pelayanan kesehatan primer. Menurut Adib, masyarakat yang sebelumnya tinggal di tempat pengungsian mulai kembali ke rumah masing-masing. Kondisi tersebut membuat aspek kesehatan lingkungan menjadi penting. Kebersihan, sanitasi, gizi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan primer menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam fase pemulihan.

“Yang tentunya masih harus menjadi perhatian adalah pelayanan primer, kemudian di tempat-tempat pengungsian yang mungkin sudah mulai masuk ke rumahnya masing-masing. Tapi tentunya masih perlu diperhatikan kesehatan, kebersihan, gizi dan sanitasinya,” ujarnya. 

Gereja Juga Terdampak Gempa

Selain rumah, sekolah, dan fasilitas adat, sejumlah rumah ibadah juga mengalami kerusakan akibat gempa. Romo Wolfelms Apriliano dari Ordo Friars Minor (OFM) mengatakan pihaknya turut membantu penyaluran bantuan kepada masyarakat di wilayah terdampak. Ia mewakili lembaga yang bergerak dalam bidang keadilan, perdamaian, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Menurutnya, para romo yang berada di daerah selama ini bergerak langsung ke kampung-kampung untuk menyalurkan bantuan yang diterima dari berbagai pihak. Mereka juga melakukan pembaruan informasi mengenai kondisi masyarakat di lapangan.

 Menurut Romo Wolfelms, jaringan yang dimiliki lembaga keagamaan memungkinkan bantuan disalurkan hingga ke kampung-kampung yang relatif sulit dijangkau. Para romo yang berada di daerah dapat mengetahui kondisi masyarakat secara langsung dan menyampaikan kebutuhan yang muncul.

“Selama ini yang bergerak ke kampung-kampung itu romo-romo yang ada di sana. Mereka menyalurkan bantuan yang mereka terima dari mana-mana, termasuk ke kampung-kampung yang selama ini sulit untuk dijangkau,” katanya.

Bantuan kali ini secara khusus diarahkan antara lain untuk Gereja Baru Kristus Raja Pagal. Gereja tersebut merupakan salah satu bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Menurutnya, kerusakan rumah ibadah menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian karena gereja juga memiliki fungsi sosial bagi masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *