oleh

JKI-GKPR Gelar Baksos “Menjadi Berkat di Usia Senja”, Hadirkan Kasih Nyata bagi Lansia dan Anak Panti

​JAKARTA — Gereja Jemaat Kristus Indonesia – Gereja Kesadaran Peperangan Rohani (JKI-GKPR) kembali menggelar aksi kepedulian sosial tahunannya. Mengusung tema “Menjadi Berkat di Usia Senja”, kegiatan bakti sosial (baksos) ini berlangsung di Wisma Lansia Maria Salve, Cengkareng Barat, Jakarta Barat, pada Sabtu (5/9/2026) pagi.

​Baksos yang berjalan pukul 09.00–12.00 WIB ini difokuskan pada pendampingan, interaksi langsung, serta penyaluran perhatian bagi para lansia dan anak panti. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen pelayanan sosial rutin JKI-GKPR yang telah konsisten berjalan sejak 2022.

​Aksi sosial kali ini tidak sekadar menyerahkan bantuan fisik, tetapi menekankan pada kehadiran utuh para relawan untuk menyapa, mendengarkan, dan mendoakan para penghuni.

​Dari total sekitar 80 orang yang beraktivitas di kompleks Wisma Lansia Maria Salve—termasuk 20 orang staf—sebanyak 35 penghuni yang masih fit berpartisipasi langsung dalam rangkaian acara bersama.

Sementara itu bagi lansia dengan keterbatasan mobilitas (bedridden) atau yang membutuhkan penanganan khusus, relawan JKI-GKPR mendapatkan akses khusus untuk mengunjungi mereka langsung di kamar masing-masing.

​”Kasih Kristus tidak hanya diberitakan melalui perkataan, tetapi dinyatakan melalui tindakan nyata. Kami ingin hadir bagi mereka yang membutuhkan perhatian, persahabatan, dan hangatnya kebersamaan di masa senja,” tulis pihak penyelenggara JKI-GKPR dalam siaran resminya.

Aksi di Wisma Lansia Maria Salve ini menjadi pilar penting dari rangkaian pelayanan sosial JKI-GKPR menjelang momen perayaan Natal. Melalui momen ini, JKI-GKPR menegaskan panggilannya untuk terus menjadi saluran berkah dan menghadirkan kepedulian nyata di tengah masyarakat.

Wisma Lansia Maria Salve beroperasi selama kurang lebih lima tahun, panti ini memanfaatkan beberapa unit bangunan sewa di kawasan Taman Palem Lestari yang saling terhubung. Blok D-6: Lantai bawah dihuni enam anak panti, sementara lantai atas diisi oleh para opa (kapasitas total tiga kamar untuk sekitar delapan orang). Blok D-7: Pusat operasional dapur utama panti. Dihuni oleh para oma di lantai bawah dan para opa di lantai atas. Blok D-4 No. 17: Khusus untuk penghuni perempuan, mencakup dua anak perempuan dan para oma.

Panti ini menampung lansia dari pelbagai latar belakang ekonomi—baik penghuni berbayar mandiri maupun warga kurang mampu dan korban penelantaran yang dilayani secara gratis. Untuk penanganan medis mendalam, pihak panti bekerja sama dengan fasilitas layanan kesehatan setempat dengan mengandalkan dukungan BPJS Kesehatan.(aga)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *