oleh

KOWANI Panen Perdana Sorgum di Bogor, Dorong Ketahanan Pangan dari Hulu hingga Hilir

BOGOR — Menjawab tantangan krisis pangan global sekaligus menyokong kedaulatan pangan nasional, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) bergerak cepat lewat aksi nyata berbasis potensi lokal. Penguatan ekosistem pangan ini ditandai dengan gelaran Panen Perdana Sorgum di demplot pertanian KOWANI, Jalan Pesantren, Cibanon, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026).

Langkah strategis ini membuktikan bahwa KOWANI tidak sekadar melakukan rutinitas tanam-panen, melainkan sedang membangun rantai pasok pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir demi menopang ekonomi keluarga Indonesia.

​Ketua Umum KOWANI Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., menegaskan bahwa optimalisasi setiap jengkal lahan produktif merupakan jawaban konkret atas kebutuhan dasar masyarakat. Penguatan pangan berbasis keluarga ini diposisikan sebagai pilar utama dalam mengawal program strategis Asta Cita pemerintah, yang berdampak langsung pada penanganan stunting hingga penguatan ketahanan sosial.

“Apa yang kita implementasikan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apa yang kita lakukan untuk negeri ini, meskipun dimulai dari sekecil atau sejengkal tanah, tetap dapat memberikan manfaat bagi negara,” tegas Nannie.

Ia menambahkan, ketahanan pangan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, keluarga, dan seluruh warga, sehingga kehidupan rakyat menjadi aman, sejahtera, tenteram, dan damai.

​Strategi yang diusung KOWANI berfokus penuh pada penciptaan nilai tambah (value-added) agar petani dan perempuan pelaku UMKM tidak lagi menjual komoditas mentah.

Direktur PT DASS sekaligus Staf Ahli KOWANI, Anneke Runtulalo, memaparkan bahwa area demplot dirancang terpadu membudidayakan sorgum, cabai, sawi, singkong, melon, timun, hingga durian.

Cabai hasil panen demplot, misalnya, langsung diserap untuk diolah KOWANI menjadi produk kuliner bernilai tinggi seperti sambal rica-roa yang membidik pasar ekspor.

“Singapura meminta rica roa menggunakan cabai seperti yang kita tanam di sini. Rica roa ini harganya cukup mahal, untuk kemasan kecil saja bisa mencapai sekitar Rp50 ribu. Nanti KOWANI yang akan memproduksi, cabainya kita ambil dari sini,” ujar Anneke optimistis.

​Kunci keberhasilan produktivitas tinggi pada demplot KOWANI ini berada pada penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan berbasis inovasi lokal. Budidaya tanaman memanfaatkan pupuk organik Layla Enzim produksi PT DASS (Delta Anugerah Sejahtera Subur) yang terbukti ampuh menjaga unsur hara tanah sekaligus memicu efisiensi produksi yang luar biasa.

“Kita menggunakan pupuk organik yang terjangkau, salah satunya Layla Enzim dengan harga sekitar Rp175 ribu per liter. Fungsinya sangat luar biasa karena tanaman dapat dipanen berkali-kali—cabai saja sudah setahun terus dipanen,” jelas Anneke mengenai rahasia kesuburan demplot tersebut.

​Menatap langkah ke depan, KOWANI telah menyiapkan cetak biru ekspansi budidaya sorgum dalam skala masif mencapai 500 hingga 1.000 hektare. Program berskala besar ini digerakkan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan jaringan petani, organisasi perempuan, UMKM, hingga entitas pesantren melalui sinergi erat bersama INKOPONTREN.

“Insya Allah KOWANI juga akan membuka peternakan sapi. Saya sudah menghubungi pihak dari Australia dan mudah-mudahan ini juga bisa dikembangkan. Jadi semuanya bisa bersinergi,” ungkap Anneke mengenai perluasan ekosistem pemenuhan protein dan pangan nasional.

​Sorgum sendiri dipilih sebagai komoditas masa depan karena keunggulan ekologis dan nilai ekonomisnya yang sangat lengkap. Dengan teknik pemotongan di bagian bawah batang saat panen, tanaman sorgum mampu tumbuh kembali (rattoon) dan dipanen hingga tiga kali setahun, sekaligus berpotensi diolah menjadi gula sorgum hingga bioetanol beroktan 108 bersama Pertamina.

Menutup momentum panen, Nannie Hadi Tjahjanto kembali menegaskan pesan kedaulatannya: “Yang kita panen hari ini bukan hanya sorgum. Yang kita tumbuhkan adalah kemandirian, kesempatan kerja, kesejahteraan keluarga, dan kekuatan ekonomi masyarakat.” (aga/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *