oleh

PELAJAR PESTA MIRAS DITANGKAP SATPOL PP

satpolPOSKOTA.CO – Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menangkap sedikitnya lima pelajar SMP dan SMA yang kedapatan tengah pesta minuman keras, Jumat dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB.

Kelima remaja yang rata-rata masih di bawah 17 tahun tersebut sempat “ditahan” di kantor Satpol PP Tulungagung hingga pukul 09.00 WIB untuk menjalani pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, sebelum akhirnya diserahkan pada orang tua dan guru masing-masing.

“Mereka kami tangkap saat baru mulai menggelar pesta minuman keras di area ‘jogging track’ bantaran Sungai Ngrowo, Kelurahan Bangoan (Kecamatan Tulungagung) dini hari tadi. Lima kami amankan, dua lainnya berhasil kabur,” terang Kasi Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Tulungagung, Wahiyd Masrur.

Bertempat di kantor penjagaan Satpol PP yang berlokasi di samping pintu gerbang Pendopo Kabupaten Tulungagung, lima pelajar terdiri dari empat pemuda dan satu remaja putri itu sempat diinterogasi oleh petugas dan MUI.

Mereka akhirnya diperbolehkan pulang setelah dijemput orang tua masing-masing dan menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan mereka, keluar rumah hingga larut malam dan menenggak minuman keras.

“Kalau melakukannya lagi, saya pasrah kepada Pak Satpol PP untuk diserahkan ke polisi saja, terutama pemuda-pemuda nakal ini yang masih saja mengajak putri kami keluar rumah malam hari, meski sudah berulang kali dilarang,” kata Zulaeha, ibunda Dv (14), remaja putri yang ikut tertangkap petugas trantib.

Di hadapan petugas, BI (17) yang menjadi inisiator “dugem” (hura-hura) ala pemuda desa dan kawasan pinggiran perkotaan ini mengaku telah enam kali kali menggelar pesta minuman keras.

Tidak hanya melibatkan satu-dua rekan, mereka biasanya menenggak minuman keras produk tradisional jenis ciu yang dioplos dengan minuman berkarbonasi lain.

BI mengaku arak atau ciu selama ini dapat mereka beli dengan mudah di warung-warung tertentu yang telah menjadi langganan para pemabuk.

Mereka kemudian mencari satu tempat sepi untuk pesta minuman keras yang telah dicampur atau dioplos dengan zat atau minuman lain, secara bergilir hingga dini hari.

Terakhir, petualangan BI dan kawan-kawan menenggak minuman keras oplosan di area pekuburan sekitar bantaran Sungai Ngrowo, Kamis (19/6) malam hingga akhirnya terbongkar petugas trantib yang menggelar razia rutin di kawasan “jogging track” tersebut.

Dari lima remaja bawah umur yang tertangkap Satpol PP, satu anak masih duduk di bangku kelas V SD, satu remaja putri kelas XII SMPN Ngantru I (Dv), serta tiga lainnya pelajar laki-laki di SMPN 4 Tulungagung dan SMPN I Ngantru.

Sementara itu, Sekretaris MUI Tulungagung Abu Sofyan usai melakukan pembinaan mental terhadap kelima remaja bawah umur tersebut menyerukan kepada pihak kepolisian agar lebih ketat dalam mengontrol peredaran minuman keras, khususnya yang produk-produk tradisional karena ditengarai ilegal dan volume peredarannya masif.

“Fenomeman seperti ini sungguh memprihatinkan. Bayangkan bocah-bocah yang masih kecil ini sudah bisa dengan mudahnya mendapatkan minuman keras, bahkan dioplos dengan cairan atau zat lain yang itu sangat membahayakan,” kata Abu.

Ia pun meminta polisi menindak tegas setiap pelaku penjualan minuman keras. Tidak hanya diberi sanksi tipiring, tetapi juga dijerat dengan pasal pidana untuk efek jera.

“Harus ada upaya nyata, khususnya dari kepolisian selaku pihal yang berwenang, untuk mencegah rusaknya moral generasi bangsa kita,” serunya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *