oleh

HUT ke 38 Museum Tekstil Jakarta

25ULTAH MUSEUM TEKSTILBagaimana Mencintai Museum Lewat Internet

POSKOTA.CO – Jumlah penambahan museum telah menunjukkan angka yang signifikan. Khususnya di Indonesia. Sebaliknya, dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan justru mengungkapkan hasil yang memprihatinkan, oleh karena jumlah penambahan museum tidak berbanding lurus dengan angka penambahan jumlah pengunjung museum.

Bahkan pada era pasca modern ini jumlah pengunjung museum justru mengalami angka penurunan yang signifikan. Secara sepintas dapat ditengarai bahwa ini disebabkan oleh karena orang tidak lagi merasa perlu keluar rumah untuk mengisi waktu luangnya, berkat ketersediaan berbagai sarana hiburan berskala rumah tangga namun berkualitas profesional seiring berkembangnya teknologi yang serba digital. Apalagi hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang harus disediakan untuk mengisi waktu luang pun menjadi kian mahal.

Sementara itu museum sendiri telah tersaingi oleh berbagai pusat perbelanjaan (mal) yang mampu menawarkan sarana yang jauh lebih menarik dan nyaman sebagai tempat meluangkan waktu (hang out). Persaingan ini diperparah dengan kenyataan bahwa di satu sisi jumlah museum bertambah banyak, namun di sisi lain jumlah pengunjung justru berkurang. Keadaan yang demikian ini memaksa terjadinya persaingan antar museum, sehingga mengakibatkan banyak di antara museum kecil yang tidak mampu mempertahankan eksistensinya.

Di usianya yang memasuki ke 38 tahun (2014), Museum Tekstil Jakarta yang berdiri di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta yang senantiasa sumpek dan macet, bahkan selalu diintai oleh kesepian yang akut, nampaknya terus bergeliat. Mencoba bangkit dan berkiprah di tengah kejenuhan orang, terutama anak muda, untuk ramai-ramai mengunjungi tempat bersejarah dan memiliki nilai tinggi.

“Memperkenalkan produk budaya kain lewat museum tekstil ini kepada anak muda sangat penting. Makanya kita selalu mengadakan pameran-pameran agar masyarakat mengenal lebih dalam,” ujar Neneng Iskandar, Ketua Umum Himpunan Wastraprema (pecinta kain adat) kepada POSKOTA.CO di Museum Tekstil, Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat.

Demi menggalakkan animo masyarakat, khususnya anak muda terhadap nilai-nilai museum dengan produk tekstil, tentu diperlukan media yang pas dan efektif. “Memperkenalkan museum dan kain kepada anak muda mutlak dan merupakan keniscayaan bagi kami. Makanya kami menyediakan website untuk mensosialisasikan semuanya agar bias diakses dengan ceat dan tepat,” ujar Imron SP.d, MM.

Namun begitu, menurut pria yang menjabat Sekretaris Executive Board Betawi Cultural Centre, pengenalan terhadap produk kain dengan segala variasi dan pengatahuannya, tidak cukup hanya melalui internet,”Tapi juga harus melihat langsung tentang apa-apa yang dipamerkan. Bagaimana cara mengenali, cara membuatnya dan lainnya, semua harus disimak secara langsung,” cetus Imron.

Pada 24 Juni hingga 17 Juli 2014 ini, Museum Tekstil yang berulang tahun, menggelar Pameran bertajuk ‘Puspawarna Wastra Bali’ dengan mengamil lokasi di gedung utama. Sebanyak 90 item koleksi Museum Tekstil Jakarta dipamerkan, termasuk dari museum provinsi Bali, koleksi pribadi milik Raja Ubud, Ibu Jo Frans Sedah, Trisna Bulan Jelantik dan koleksi pengurus Himpunan Wastraprema.

Selain menampilkan pergelaran tari dan musik, demo tenun dan bazar produk wastra/busana, pameran juga diperkaya Bincang Wastra yang akan memperdengarkan para pembicara, seperti desainer tekstil I Gusti Made Arsawan yang mengambil tema ‘Tenun Patra, Tenun Bali Nusantara’ , diikuti Tuti Kholid  (perancang mode) bertema ‘Tenun Rang Rang Nusa Penida Wastra Pilihan Nusantara’, dan Iwet Ramadhan (penyiar radio) mengambil topic ‘Wastra Dewangga’.

Puspawarna Wastra Bali juga menggelar aneka lomba, di antaranya Peragaan Busana, Lomba Desain Cenderamata, Lomba Merangkai Janur bagi penggerak PKK Jakbar dan worshop Tenun bagi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.  (Hakim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *