(Bagian Ketiga)
Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si
Belajar dari Sejarah
TIDAK berlebihan barangkali jika dikatakan bahwa keluarga Nabi Ibrahim merupakan teladan keluarga ideal yang dapat diteladani di zaman modern saat ini. Meski sebagian melihat zaman terdahulu jelas berbeda dengan zaman sekarang. Namun dapat dikatakan meskipun zaman terus berubah karena memang sunnatullah tetapi dalam nilai-nilai spiritual, etika, prilaku dan akhlak akan tetap berulang selama dunia ini belum kiamat.
Oleh karena itu dalam Al-Qur’an pun ayat-ayat yang menceritakan kehidupan umat manusia masa lalu (baik yang mu’min, kafir dst) mendapat tempat tersendiri. Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Hud, Nuh dan bahkan kisah sejarah Nabi Muhammad saw banyak diceritakan oleh Al-Qur’an yang memiliki tujuan agar umat Islam belajar sejarah orang-orang terdahulu.
Bahkan Al-Qur’an mengajarkan agar keliling dunia untuk melihat kisah-kisah dan bukti-bukti sejarah perjalanan orang-orang terdahulu.Firman Allah swt: “Sugguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah). Oleh karena itu, berjalanlah di (segenap) penjuru bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).” (QS Ali Imran: 137).
Sunnah-sunnah di sini adalah sunnatullah, yaitu ketentuan-ketentuan alamiah yang tidak akan pernah berubah sepanjang sejarah umat manusia di dunia dan akan selalu terulang dan terjadi sejak zaman umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad saw sampai sekarang dan yag akan datang. Karena itulah ingat akan sejarah adalah satu kemestian agar belajar dengan sepak terjang orang-orang terdahulu, baik dari sisi baik dan buruknya perjalanan sejarah.
Yang baik diteladani dan yang buruk dijauhi. Bapak Proklamator kita yang juga presiden pertama, Ir.Soekarno juga pernah mengatakan dengan statemen beliau yang terkenal dengan istilah ‘Jasmerah’ atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Keluarga ideal dalam Islam
Banyak yang mendefinisikan bentuk keluarga ideal itu seperti apa? Antara lain ada yang menyampaikan keluarga ideal adalah keluarga samawa yang merupakan keluarga yang memperoleh sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai buah dari pernikahan. Dan banyak lagi pendapat-pendapat yang lain. Namun keluarga ideal di sini tentunya yang terinspirasi dari kisah perjalanan Nabiyallah Ibrahim alaihissalam dengan anak dan istrinya.
Dari kisah sejarah tentang perjalanan keluarga Ibrahim yang diawali saat beliau menikah dengan istri kedua yaitu Siti hajar yang menurut riwayat sejarah merupakan anak seorang raja yang dihadiahkan kepada keluarga Ibrahim untuk melayani keluarga tersebut, yaitu Nabi Ibrahim sendiri maupun istrinya Siti Sarah. Karena pernikahan dengan Siti Sarah tidak membuahkan anak hingga usia tua. Akhirnya atas izin istri pertamanya, Siti Sarah, Ibrahim menikahi bekas pelayannya Siti Hajar yang akhirnya membuahkan anak bernama Ismail.
Namun karena cemburu, Siti Sarah meminta agar Ibrahim membawa Siti Hajar dan anaknya, ismail, yang masih bayi untuk tidak tinggal bersamanya dan jauh darinya.
Nabi Ibrahim menuruti kemauan istrinya Siti Sarah yang telah lama menemani hidupnya. Meskipun sedih namun karena Nabi Ibrahim memiliki sifat yang lembut hati dan tidak mau menyakiti perasaan istrinya akhirnya anak dan istrinya Siti hajar dibawa menuju lembah Mekah yang gersang, kering tidk terdapat air di sekelilingnya. Siti Hajarpun sempat bertanya, namun akhirnya mengikuti untuk pergi menjauh dari rumah setelah dijelaskan oleh Ibrahim bahwa ini atas perintah Allah swt.
Di lembah Mekah itulah Nabi Ibrahim dengan Siti hajar dan anaknya Ismail hidup dan menjalani kehidupannya dan sampai puncak ujiannya adalah di saat Allah mewahyukan untuk menyembelih anaknya yang masih menjelang remaja. Kemudian beliau membangun kembali Ka’bah bersama Ismail anaknya sebagai simbol ajaran tauhid yang sampai sekarangpun atas kehendak Allah banyak dikunjungi untuk beribadah dari berbagai penjuru dunia.
Ada beberapa point penting yang dapat dijadikan teladan sebagai keluarga ideal dari perjalanan kisah hidup Nabi Ibrahim dan keluarga.
Meneladani Keluarga Ibrahim sebagai Keuarga Ideal
Pertama, bahwa keluarga ideal yag dibentuk oleh nabi Ibrahim adalah keluarga yang selalu ‘menomorsatukan’ Allah dalam setiap langkah hidupnya. Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat taat kepada Allah. Apapun dilakukan jika memang itu perintah Allah. Termasuk salah satunya ketika harus dibakar oleh raja dan kaumnya yang menyembah patung-patung sebagai berhala dikarenakan telah menghancurkan patung-patung tersebut.
Begitu pula dengan istri beliau siti hajar ketika tahu diminta untuk mengembara mencari kehidupan di negeri asing, daerah yang sangat tandus di kelilingi dengan gunung-gunung batu kering dan kehitam-hitaman. Karena itu perintah Allah, ya harus dilaksanakan. Demikianlah sepatutnya keluarga-keluarga muslim dalam menjalani kehidupan patokannya adalah Allah. Jika melakukan suatu perbuatan tanyalah kepada diri sendiri apakah Allah membolehkan atau sebaliknya. Karena prinsipnya segala yang diperintahkan meskipun wujudnya berat, pahit pasti mengandung kebaikan dan semua yag dilarang pasti karena sangat berbahaya bagi dirinya sendiri, meskipun manis dan menggiurkan.
Kedua, bahwa keluarga Ideal yang dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim adalah adalah keluarga yang menjadikan sabar sebagai perisai dalam mengatasi segala macam cobaan hidup. Lihatlah bagaimana seorang Nabi Ibrahim lulus dalam menghadapi kaumnya yang keras dan penyembah berhala, siti hajar sebagai orang yang lulus mendidik anaknya Ismail dengan segala keterbatasan yang ’Maha Dahsyat’, membawa bayi yang baru lahir, memberinya makan dan minuman sehingga tumbuh berkembang, remaja dan dewasa sehingga akhirnya juga menjadi nabi dan Rasul sebagaimana bapaknya.
Sedangkan kesabaran yang dicontohkan sama bapak dan ibunya berpengaruh pula dengan sifat sabar yang dimiliki anaknya, Ismail. Di mana puncak kesabaran beliau adalah saat nabi Ibrahim menerima wahyu yang memerintahkan menyembelih anak kesayangannya tersebut dan dijawab cukup singkat agar ayahnya melaksanakan perintah Allah tesebut dan berharap kelak Nabi Ismail menjadi seorang yang paripurna dalam meiliki kesabaran.
Pepatah mengatakan bahwa hidup itu problem dan masalah (life is Problem/ alhayu hiyal masyakil. Kesabaranlah sebagai ‘obat mujarab’ untuk terus eksis dalam hidup. Kesbaran keluarga Ibrahim membawa kesuksesan yang tidak hanya dinikmati oleh mereka melainkan juga dinikmati oleh ummat Islam. Kita dapat lihat bagaimana prosesi pelaksanaan ibadah haji yang dimaksudkan sebagai napak tilas perjalanan keluarga Ibrahim yang jadi teladan bagi ummat Nabi Muhammad.
Ketiga, keluarga Nabi Ibrahim telah mencontohkan bagi kita untuk berdakwah mengajak kebenaran dan tauhid kepada siapapun, terutama di lingungan internal keluarga terlebih dahulu. Firman Allah: “berilah peringatan kepada kerabat-kerabat kalian yang terdekat.” (QS. Asy-Ssyu’ara: 214). Ajaklah keluarga, anak, istri dan suami untuk seiya-seirama beribadah, beramal saleh, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya bersama-sama. Dalam ayat lain bahkan Allah memberi warning agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Api neraka di sini adalah simbol dari segala macam maksiyat, munkarot, segala hal yang dilarang agama, baik dosa kecil dan lebih lagi dosa besar.
Keempat, keluarga Ibrhim mencontohkan agar kita selalu ‘pasang’niat untuk hidup optimis menghadapi masa depan. Prinsipnya: selagi kita melakukan kebaikan apapun bentuknya, di rumah dengan berbuat baik kepada anak dan istri, di lingkungan bergaul baik dengan tetangga dan bahkan di lingkungan di mana kita bekerja mencari nafkah pastikan kita lakukan segala kewajiban dan yakin bahwa semua yang telah kita persembahkan dari segala kebaikan tersebut akan berbuah manis di masa mendatang. Lihatlah nabi Ibrahin beserta keluarganya.
Berangkat dari kehidupan yang prihatin berakhir kepada kehidupan yang tidak hanya bermanfaat pada masanya namun juga bermanfaat bagi generasi-generasi mendatang yang dapat mencontoh bagaimana keluarga Ibrahim dalam menjalani hidup.
Di akhir zaman ini siapa yang tidak kenal dengan nama Besar Nbi Ibrahim, Firman Allah swt: “Dan jadikanlah aku buah tutur kata yang baik bagi orang-orang yang akan datang kemudia.” QS Maryam: 50). (ta)
-Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.






Komentar