oleh

Menjauhi Sifat Lalai untuk Meraih Kemuliaan dari Allah Swt

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si/ Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

SEBAGAIMANA yang disampaikan oleh Rasulullah saw, bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh umat Islam karena diapit antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Padahal ketiga bulan tersebut adalah merupakaian rangkaian tak terpisahkan dengan segala keutamaan masing-masing. Bulan Rajab saat untuk menanam, bulan Sya’ban saat untuk menyiram dan bulan Ramadhan saatnya untuk memetik hasilnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti lalai adalah kurang hati-hati, tidak mengindahkan kewajiban dan lengah. Jika seorang berkendara kurang hati-hati, kecepatan tinggi, dan lampu lalu lintas diterjang apa yang terjadi? Jika seorang karyawan tidak mengindahkan kewajibannya di kantornya, malas dan sering bolos kerja, apa yang terjadi? Begitu pula jika ada seorang perempuan, lengah tidak menutupi perhiasan yang dipakainya di tempat umum, apa yang akan terjadi?

Karena itu dapat dikatakan bahwa lalai terhadap sesuatu sangat berbahaya bagi setiap orang. Begitu pula lalai terhadap ajaran-ajaran agama akan sangat berbahaya bagi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Mengaku seorang muslim namun tidak membaca buku pedomannya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw, tidak mempelajarinya, apalagi mempraktikkannya, maka seorang muslim tersebut dapat dikatakan lalai, dan kelalaiannya itu sangat berbahaya bagi kehidupannya.

Macam-Macam Kelalaian

Macam-macam kelalaian Terdapat beberapa jenis lalai yang patut dijauhkan bagi seorang muslim. Antara lain: Pertama, lalai dengan adanya kehidupan akhirat.. Firman Allah: ”Mereka mengetahui yang lahir (tampak) saja dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai. ”(QS. Al Rum: 7). Menurut ulama tafsir ayat ini menggambarkan model kehidupan orang kafir yang memandang kehidupan itu menurut kegunaan dan manfaat yang nyata saja. Seperti bekerja, bercocok tanam, berdagang dan semua yang berhubungan dengan urusan dunia. Setelah itu kehidupan diakhiri dengan kematian. Pada praktiknya model kehidupan orang kafir ini juga telah banyak menjangkiti kehidupan orang muslim sehingga aktifitas hidupnya setiap saat hanya untuk mengumpulkan bekal di dunia berupa kekayaan yang berlimpah, kekuasaan, jabatan, status sosial, tak peduli bagaimana cara meraihnya. Orientasinya hanya dunia dengan segala kemegahannya.

Orang yang lalai dengan kehidupan diakhirat akan diancam oleh Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu. Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami mereka itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang mereka telah lakukan” (QS. Yunus: 7-8).

Kedua, lalai menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah swt. Diriwayatkan pernah terjadi saat ibadah jumat berlangsung dan Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbah. Tiba-tiba masuk ke kota Madinah para kafilah dagang yang membawa barang-barang. Para sahabat satu demi satu meninggalkan masjid menuju pedagang itu guna mendapatkan barang-barang yang amat mereka butuhkan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa sahabat yang tersisa dalam mendengarkan Nabi saw khutbah hanya dua belas orang.

Melihat kenyataan ini Rasulullah saw prihatin namun tetap melanjutkan khutbahnya, lalu turunlah firman Allah swt:”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jumat maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Dan apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ini; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumuah:9-10).

Menurut para ulama tafsir meski ayat di atas berkenaan dengan ibadah sholat jumat namun berlaku pula untuk waktu-waktu sholat yang lain. Dengan kata lain hendaklah saat azan diperdengarkan segeralah untuk menunaikan ibadah sholat tersebut. Ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jumat seperti disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda di atas mimbarnya: “Pasti akan ada segolongan orang yang meninggalkan sholat jum’at, lantas Allah swt kunci hati-hati mereka sehingga menjadi orang-orang yang lalai”. (HR Muslim).

Ketiga, lalai dalam menuntut ilmu agama. Ilmu agama di sini adalah ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim.. Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa manfaat ilmu agama bagi sesorang adalah untuk mengenali mana yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk untuk dijauhinya. Ilmu agama adalah ‘jembatan’ menuju ketakwaan yang akhirnya menjadi kemuliaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Pemahaman tentang Aqidah

Ilmu agama juga berkaitan dengan pemahaman tentang Aqidah untuk mengenal Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat dan kekuasaan-Nya, berkaitan dengan pemahaman tentang Syariah untuk mengetahui tata cara mengabdi kepada Allah swt,dalam wujud ibadah, dan juga pemahaman berkaitan dengan akhlak yaitu tata cara manusia melakukan interaksi dengan sesamanya agar tercipta hubungan harmonis, damai dan jauh dari sifat permusuhan. Dengan demikian ilmu agama adalah menjadi bekal yang penting untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Selain itu jika ilmu agama sudah dipelajari, dipahami dan kemudian diamalkan dengan sebaik-baiknya akan menjadikan pemiliknya memiliki sifat khusyu dalam hidup karena takut semata-mata kepada Allah swt. Dalam Surat Fatir ayat 28 Allah Swt berfirman:”…sesungguhnya yang takut hanya kepada Allah adalah ulama.” Ulama yang dimaksud disini adalah mereka yang memiliki ilmu dan mengamalkan ilmunya.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari masih terdapat mereka yang tidak begitu peduli dengan ilmu agama. Bagi mereka ilmu agama tidak realistis dan tidak menjanjikan hidup yang baik, terutama ditinjau dari segi ekonomi dan kemajuan. Katanya ilmu agama tidak menjamin hidup sejahtera dengan kekayaan dan kekuasaan yang melimpah. Akhirnya anak-anaknya dibekali dengan ilmu dunia, diikutkan kursus ketrampilan, di sekolahkan di sekolah pavorit, bahkan di luar negeri dengan harapan anaknya kelak memiliki kehidupan yang baik.

Tapi apa kenyataannya. Justru kita prihatin dengan keadaan anak remaja sekarang. Hanya bekali dengan ilmu dunia dan dimanjakan kemewahan harta benda orangtuanya namun berakhlak dan berprilaku seperti binatang buas. Lihatlah kasus kriminalitas di kalangan remaja yang tidak ada habisnya. Yang terakhir terkait kasus kekerasan sadis yang dilakukan oleh anak seorang petinggi. Bagaimana mungkin seorang remaja tega menyiksa teman sampai koma dengan cara yang sadis? Na’udzubillah.

Faktor Penyebab Terjadi Kelalaian

Factor-faktor penyebab kelalaian antara lain: Pertama, terlalu cinta dengan dunia. Sebenarnya agama tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk meninggalkan dunia dan hanya fokus untuk urusan akhirat. Firman Allah: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di akhirat…”(Al-Qashas:77).

Dalam ayat ini setiap orang dipersilahkan untuk tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian serta kesenangan lain, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dunia itu jembatan menuju akhirat. Jangan seperti seorang yang akan bepergian menuju suatu tempat. Dia beli unta yang mahal dan bagus. Dia rawat, beri makan, minum setiap saat sampai unta itu gemuk dan sehat.

Namun demikian unta itu hanya dinikmati keindahannya saja dan tidak sama sekali dipergunakan untuk pergi ke satu tujuan. Seperti itulah mereka yang berlimpah harta benda dan kekayaan hanya untuk semata-mata demi kesenangan di duniawi, menampilkan prestise, gaya hidup. Kekayaannya tidak sama sekali bermanfaat menuju akhirat, karena terlalu cinta dengan dunia menjadikan lalai dengan nasibnya di akhirat.

Kedua, lalai yang disebabkan karena godaan dan bisikan setan. Lalai,lengah dan lupa adalah manusiawi. Namun jika tidak waspada sifat ini dijadikan alat oleh setan untuk menyesatkan manusia, menjauhi agama dan selalu berbuat munkar. Seperti yang terjadi dengan kakek dan neneknya umat manusia, yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa. Mereka berdua lupa bahwa telah dilarang oleh Allah untuk mendekati pohon khuldi. Namun akhirnya karena bisikan setan menyebabkan keduanya diturunkan ke dunia yang fana ini.

Ketiga, lalai karena dorongan hawa nafsu yang menguasainya. Firman Allah swt:”…janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti nafsunya dan keadaannya melewati batas.”(Al-Kahfi: 28). Sedangkan lalai lainnya adalah terlalu panjang angan-angan karena terlalu banyak yang diinginkan, terutama terkait kesenangan hidup di dunia. Hal itu menyebabkan orang tersebut lalai beribadah dan beramal saleh untuk khidupan di akhirat nanti.

Kiat Menghindari Lalai dalam Menjalankan Ajaran Agama

Kiat untuk menghindari lalai adalah: Pertama, berdzikir kepada Allah.”Ingatlah kepada Tuhan-Mu ketika kamu lupa. Dan katakanlah: “mudah-mudahan Tuhan-Ku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”(QS Al-Kahfi:24);

Kedua, berguru dengan ahli ilmu agama seperti para ulama melalui pengajian-pengajian yang diselenggarakan, baik di masjid, musholla maupun majelis taklim. “…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43), dan kiat ketiga adalah pastikan memiliki teman-teman yang baik yang selalu mengajak kepada kebaikan dan takwa. Karena teman yang seperti ini tidak hanya menyelamatkan kita di dunia melainkan juga di akhirat nanti.

Aktiflah di kepengurusan masjid musholla, perkumpulan pengajian dan yang semacamnya karena sebagaimana Firman Allah: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Zukhruf: 67).

Semoga Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya untuk selalu taat kepada-Nya dan terhindar dari lalai menjalankan perintah dan menghindari segala larangan-Nya. Sehingga kita dapat hidup mulia di bawah naungan Ilahi. Amin ya robbal alamin. (ta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *