DI ANTARA bencana lidah yang terutama ialah berbohong atau dusta. Yakni, menyampaikan suatu berita yang bertentangan dengan kejadian yang sebenarnya. Baik pengakuan atas berita yang tidak pernah terjadi misalnya dengan mengatakan, bahwa telah terjadi begini dan begini, padahal perkara itu tidak pernah terjadi. Atau, meniadakan, menghilangkan sesuatu yang pernah terjadi, misalnya dengan mengatakan, bahwa tidak pernah terjadi begini dan begini, padahal perkara itu benar-benar terjadi.
Seorang muslim tidak akan berbicara selain kebenaran dan kejujuran, dan tidak akan memberi kabar selain apa yang terjadi. Sebab dusta dalam berbicara merupakan salah satu tanda kemunafikan. Berdusta atau berbohong adalah perbuatan yang mendatangkan dosa besar, karena bertentangan dengan sifat iman. Lantaran itu, orang yang berdusta akan mendapat murka dan kutukan Allah Swt.
Allah Swt. telah berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-ngadakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl, 16:105). Dan dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran, 3:61).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya berkata benar itu dapat menunjukkan pada kebajikan dan kebajikan itu dapat menunjukkan jalan ke surga. Sesungguhnya seseorang berkata benar hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang benar. Dan sesungguhnya dusta itu dapat menunjukkan kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan itu dapat menunjukkan jalan ke neraka. Sesungguhnya orang berdusta hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).” (HR. Al-Bukhari).
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa, “Berlaku jujurlah kalian karena kejujuran itu menunjukkan ketakwaan, dan ketakwaan itu mengantar kalian ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan berusaha mencari kejujuran niscaya dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan waspadailah oleh kalian dusta, sebab dusta itu perbuatan durhaka, sedangkan durhaka mengantar kalian ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan mencari-cari kedustaan niscaya akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Biasakanlah berlaku jujur karena kejujuran dapat mengantarkan pelakunya kepada kebajikan, dan kebajikan itu akan menunjukkan pelakunya ke dalam surga. Demikianlah makna yang dikandung oleh bagian pertama dari hadits ini yang kesimpulannya ialah menganjurkan kepada kita agar selalu berlaku jujur. Apabila seseorang berlaku jujur terus menerus, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Alangkah beruntungnya orang yang mendapat prediket seperti ini.
Bagian kedua dari hadits ini memperingatkan kita agar menjauhi dusta, karena dusta dapat mengantarkan pelakunya kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menunjukkan pelakunya kepada neraka. Bilamana seseorang terus menerus berdusta maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta, alangkah celakanya jika sudah demikian karena bencana akan menyertainya. Pada kejujuran terdapat kelezatan rohani yang tidak akan dirasakan seorang pendusta. Sementara dusta—lawan dari jujur—sangat tercela, baik besar maupun kecil.
Dalam suatu riwayat disebutkan, “Sesungguhnya dusta itu akan menyeret pelakunya untuk melanggar perintah Allah, dan melanggar perintah akan menyebabkan pelakunya masuk neraka. Dan seorang hamba itu senantiasa berdusta dan suka menyampaikan berita-berita atau keterangan bohong, sehingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Maka, siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahanam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang taqwa.” (QS. 39: 32-33). Dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Katakanlah (hai Muhammad); sesungguhnya orang-orang yang membuat kebohongan terhadap Allah, mereka tidak akan beruntung.” (QS. 10:69).
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Seseorang hamba belum sempurna imannya sehingga ia meninggalkan dusta sekalipun dalam bergurau, dan meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar.” (HR. Ahmad). Iman seseorang masih belum sempurna sebelum ia meninggalkan dusta, sekalipun dalam bergurau; dan sebelum meninggalkan berdebat, sekalipun ia benar. Dapat disimpulkan dari hadits ini bahwa berdusta itu tidak diperbolehkan sekalipun dalam bergurau; dan juga berdebat, sekalipun orang yang bersangkutan benar.
Ali bin Abi Thalib as berkata, “Takutlah kamu dari dusta yang kecil maupun dusta yang besar, yang dilakukan dengan sungguh-sungguh ataupun dengan bercanda. Karena, jika seseorang berdusta kecil maka hal itu akan mendorongnya untuk berani berdusta besar.”
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Janganlah kalian berdusta, karena sesungguhnya perbuatan dusta itu berlawanan dengan iman.” (HR. Ahmad). Dalam hadits di atas telah disebutkan bahwa berdusta itu dapat menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan-perbuatan durhaka, dan perbuatan yang durhaka itu dapat menyeret pelakunya ke dalam neraka. Hal ini menunjukkan bahwa berdusta merupakan perbuatan yang berdosa, maka tidak heranlah apabila dalam hadits ini disebutkan bahwa berdusta itu bertentangan dengan iman. Pada prinsipnya semua perbuatan dosa bertentangan dengan iman.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Amal surga adalah jujur, apabila seorang hamba berbuat jujur berarti ia telah bertakwa, apabila ia bertakwa berarti ia beriman, dan apabila ia beriman berarti ia masuk surga. Amal neraka adalah dusta, apabila seorang hamba berdusta berarti ia telah berbuat durhaka, dan apabila ia berbuat durhaka berarti ia telah ingkar, dan apabila ia ingkar berarti ia masuk neraka.” (HR. Ahmad melalui Ibnu Umar ra.)
Dalam hadits terdahulu telah disebutkan bahwa jujur akan membawa pelakunya kepada ketakwaan, dan ketakwaan akan membawanya kepada iman, serta iman akan mengantarkannya ke dalam surga. Akan tetapi, dusta akan membawa pelakunya kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menyeret pelakunya kepada kekufuran, serta kekufuran, akan menjerumuskan ke dalam neraka. Karena itulah maka dalam hadis ini disebutkan bahwa jujur merupakan sikap ahli surga, sedangkan dusta merupakan sikap ahli neraka.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Jujurlah kalian, sesungguhnya jujur itu salah satu pintu surga, dan hati-hatilah kalian terhadap dusta karena dusta itu adalah salah satu pintu neraka.” (HR. Al-Khatib melalui Abu Bakrah). Disebutkan dalam hadits ini bahwa jujur merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu surga. Dan dusta dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, karena itu dalam riwayat ini dikatakan bahwa dusta merupakan salah satu dari pintu-pintu neraka.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memberi bahaya maka Allah menimpakan bahaya kepadanya, dan barang siapa yang memberi kesulitan maka Allah menimpakan kesulitan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah melalui Abu Shurmah).
Makna hadits ini bahwa balasan setimpal dengan perbuatan dalam kebaikan dan kejahatan, keburukan, ini merupakan bagian dari hikmah Allah yang patut disyukuri. Orang yang mengamalkan perbuatan yang dicintai Allah, dia mendapatkan cinta dari Allah. Sementara orang yang mengamalkan perbuatan yang di benci Allah, dia memperoleh kemurkaan dari Allah. Orang yang memberi kemudahan kepada seorang muslim, niscaya Allah akan memberi kemudahan kepadanya dalam perkara dunia dan akhirat. Orang yang memberi kelapangan kepada orang mukmin dari kesulitan dunianya, niscaya Allah akan memberi kelapangan kepadanya dari segala kesulitan di hari Kiamat. Allah senantiasa memenuhi hajat seorang hamba selama dia memenuhi hajat orang lain.
Sebaliknya orang yang memberi bahaya kepada seorang muslim, niscaya Allah akan menimpakan bahaya kepadanya. Orang yang berbuat tipu daya kepada orang lain, niscaya Allah akan menimpakan tipu daya kepadanya. Dan orang yang memberi kesulitan kepada saudaranya atau orang lain, niscaya Allah akan menimpakan kesulitan kepadanya.
Secara tersurat hadits ini menegaskan bahwa orang yang menimpakan bahaya dan memberatkan orang lain akan mendapatkan bahaya dan kesulitan dari Allah. Sedangkan secara tersirat hadits ini menegaskan bahwa orang yang menghilangkan bahaya dan kesulitan dari seorang muslim akan mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala dan dijauhkan dari bahaya dan kesulitan sebagai balasan yang setimpal.
Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, “termasuk bentuk memberi madlarat kepada orang lain adalah bertindak sewenang-wenang dalam memberikan hukum, bersaksi, membagi warisan, atau perkara lain dengan mendzalimi seseorang dan memihak kepada orang lain. Orang yang berbuat seperti ini berhak mendapatkan hukuman dan azab dari Allah. Dan yang lebih parah lagi dari itu yang terjadi di masyarakat, bahwa para pemimpin dan pejabat menghasung mereka dengan cara mengancam masyarakat dengan hukuman, mengintimidasi, atau mengambil harta, atau merampas hak mereka. Pelaku perbuatan ini sudah melampaui batas yang berhak mendapatkan hukuman dan azab dari Allah di dunia dan di akhirat.”
Dr. Habib Abdullah Haddad mengatakan, “merampas hak orang lain dengan cara bersaksi palsu adalah berdosa besar. Jika seseorang bersaksi dengan persaksian yang batil, sedang ia telah mengetahui dan menduga keadaan yang demikian itu, maka kedua-duanya, yakni orang yang bersaksi atau memberi keterangan dan yang mempersaksikan, sama-sama berdosa. Orang yang bersaksi menerima dosa yang sama, lantaran ia telah berani menjual akhiratnya dengan dunia untuk kepentingan orang lain.”
Persaksian palsu dianggap sebagai dosa besar berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah Saw, “Persaksian palsu menyamai dosa menyekutukan Allah”. Sabdanya lagi, “Kedua telapak kaki penyaksi palsu tidak akan bergerak, melainkan Allah sudah menetapkan tempatnya di neraka”. Sabdanya lagi, “Dosa-dosa besar itu ialah, menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan sumpah yang melemaskan (palsu).” Juga dalam hadits yang lain disebutkan, “Barang siapa merampas hak saudaranya yang Muslim dengan sumpah palsu, niscaya ia dipersilahkan memilih tempatnya di dalam neraka.”
Menipu, berbohong, dan berkhianat merupakan sifat-sifat buruk dan tercela. Dan seorang muslim tidak boleh menjadikan hal-hal yang tercela sebagai akhlak dan kepribadiannya dalam kondisi apa pun. Sebab, kesucian jiwa yang didapat dari keimanan dan amal saleh sangat bertentangan dengan akhlak tercela ini, yang tidak ada kebaikannya sama sekali. Orang muslim itu dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy mengatakan bahwa penipuan memiliki banyak bentuknya diantaranya: Sesorang menghiasi orang lain dengan keburukan, kejahatan, atau kerusakan agar orang tersebut terjerumus ke dalamnya; Memperlihatkan zahirnya yang baik dan menyembunyikan batinnya yang buruk dan rusak; Memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang disembunyikan dan dirahasiakannya sebagai bentuk penipuan; Sengaja hendak merusak hartanya, istrinya, anaknya, pembantunya ataupun temannya dengan cara memfitnah dan mengadu domba; Berjanji untuk menjaga harta, jiwa atau menyimpan rahasia, tapi kemudian ia mengkhianatinya.”
Oleh karena itu janganlah keteguhan kita dalam memegang akhlak Islam dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan diri dan kelompoknya, dengan cara menipu, mengelabui orang lain melalui tampilan akhlak yang baik. Akan tetapi, jadikanlah keteguhan kita dalam berpegang kepada nilai-nilai akhlak sebagai suatu kebiasaan yang tidak akan kita tinggalkan. Karena, cara hidup akan mengalir pada urat nadi kita, pada adat dan kebiasaan kita serta pada sifat-sifat kita. Bentuklah diri kita dengan akhlak yang mulia. Dan, berakhlaklah yang mulia demi berbuat kebajikan kepada hamba-hamba Allah, dan tentunya dengan tujuan memperoleh keridhaan Allah Swt. Ketahuilah bahwa menghadapi kedzaliman pun tujuan adalah untuk menempatkan akhlak mulia pada tempatnya.
Seorang muslim yang menjauhi penipuan, kebohongan, serta pengkhianatan, berarti ia mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sebab, ketiga sifat ini telah diharamkan dalam Kitabullah dan As-Sunnah. Merampas hak dan harta benda kaum Muslimin dengan sumpah dan saksi palsu adalah termasuk di antara dosa-dosa besar. Padanya terdapat ancaman-ancaman yang berat, dan sudah bukan rahasia lagi.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab, 33:58). Dalam firman-Nya yang lain, “… Maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri …” (QS. Al-Fath, 48:10). Dan juga Firman-Nya, “… Rencana jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri …” (QS. Fathir, 35: 43). Wallahu A’lam bish shawwab.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua Umum PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar