oleh

Mengekang dan Mengendalikan Perkataan

POSKOTA.CO – Jika seseorang mengklaim bahwa kebenaran hanya menjadi miliknya dan tak mau mendengar pendapat orang lain, maka dia telah menipu dirinya sendiri dan Tuhan. Kitab Amsal 15:4 menyatakan, lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.

Sebuah kuda yang masih liar akan bisa mengamuk dan merusak jika tidak di jinakkan. Setelah di jinakkan, kuda akan di pasang tali kekang, ‎sehingga bisa di arahkan untuk membantu kehidupan manusia.

Ternyata lidah manusia pun demikian,‎ Jika kita tidak punya “pengendalian diri atas “perkataan lidah” kita, maka‎ dari perkataan kita akan banyak hal yang tidak menjadi berkat untuk orang lain. Bahkan‎ lebih dari itu, perkataan lidah yang penuh kesombongan, telah mendukakan hati Tuhan karena perkataan kita melahirkan dosa.

Membaca ayat firman Tuhan diatas, penulis menarik sebuah pendapat, jika tidak di kendalikan, ‎perkataan lidah ini sangat berbahaya.

“Mulut diberikan Tuhan untuk memuji nama-Nya dan bukan di pakai untuk membicarakan orang lain. Mulut bukan untuk mengutuk orang lain. Mulut bukan untuk berbohong. Mulut bukan juga untuk menjatuhkan orang lain. Bukan itu yang Tuhan kehendaki. Yang Tuhan kehendaki adalah menggunakan mulut kita untuk memuliakan Dia dan menjadi berkat untuk orang lain lewat perkataan,”demikian kata Yapy Melianton Doroh, Majelis Jemaat GPIB Zebaoth Bogor.

Kitab Yakobus 1:26 di kutip penulis yang sudah 23 tahun menggeluti dunia profesi jurnalist menjadi penegasan, agar ibadah yang kita lakukan, tidak sia-sia.

“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya,”pesan firman Tuhan dalam kitab
Yakobus 1:26.

Pertanyaannya, sudahkah setiap kita yang mengaku pengikut Kristus, mengekang dan mengendalikan perkataan kita sesuai dengan kehendak Tuhan?.

Mari kita semua intropeksi diri. Tidak ada manusia yang sempurna, namun upaya manusia terus berubah ke arah yang lebih baik, jauh lebih terhormat daripada terus berkutat pada kesombongan pribadi.

Untuk itu dan tidak ada salahnya, jika kita mau berubah. Jika masih suka menggunakan mulut kita dengan sembarangan, ‎mari kita ambil komitmen berubah. Jangan mudah menghujat sesama dan mengutuk orang lain. Gantilah kebiasaan yang menyakiti hati sesama ini dengan memberkati orang lain.

Yang suka membicarakan orang lain, berubahlah dengan lebih sering membicarakan betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita.
Yang suka berbohong, ‎biasakanlah hidup jujur, karena itu yang di kehendaki Tuhan. Yang suka berkata kasar dan kotor, ‎belajarlah untuk berkata-kata dengan baik dan membangun.

Mari kita mengekang dan mengendalikan perkataan kita, ‎supaya bisa menjadi berkat bagi banyak orang. “Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata,” kitab Amsal 12:19 dikutip penulis sebagai penutup. (#)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *