oleh

Kini, Sambutlah Hari Raya Dengan Mengemakan Takbir dan Syukur

“Hendaklah kalian sempurnakan bilangan (puasa), dan besarkanlah Allah atas petunjuk-Nya padamu supaya kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185).

DENGAN ayat ini, Allah mengajarkan kepada kita bahwa setelah selesai menjalankan ibadah puasa, kita harus membesarkan Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Ayat ini juga menegaskan bahwa dalam kehidupan Muslim kita berjalan dari takbir ke tasyakkur.

Allahu Akbar, takbir artinya membesarkan Allah, dan mengecilkan segala sesuatu kecuali Allah Yang Maha Esa.

Dalam ibadah shaum (puasa), takbir kita cerminkan dengan mengecilkan pengaruh nafsu dan menghidupkan kebesaran Allah dalam hati kita.

Ketika kita membaca Al-Qur’an, kita mengecilkan seluruh pembicaraan manusia, dan hanya membesarkan Kalamullah.

Ketika kita berdiri shalat malam di bulan Ramadhan, kita kecilkan seluruh urusan dunia ini, dan hanya membesarkan perintah Allah SWT.

Seluruh ibadah kita adalah takbir. Seluruh ibadah kita dimaksudkan untuk mengecilkan segala sesuatu kecuali Allah Yang Maha Besar.

Pada bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita tundukkan hawa nafsu, karena tunduk kepada kebesaran Allah.

Kita isi setiap malam dengan qiyamullail, ruku` dan sujud di hadapan Allah SWT dan kita hadirkan Al-Qur’an setiap hari supaya hati kita disentuh kesucian wahyu.

Kita bersihkan kekayaan kita dengan mengeluarkan zakat mal dan zakat fitrah, adalah karena menunaikan perintah dan rasa syukur atas nikmat-Nya.

Kita perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang bernasib lebih malang dari kita.

Puasa adalah latihan membesarkan Allah. “Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa, dan besarkanlah Allah atas petunjuk-Nya kepadamu, dan mudah-mudahan kamu bersyukur”. (QS. Al Baqarah : 185).

Allahu Akbar, bila takbir sudah menghujam di dalam sanubari kita, maka kekayaan yang kita miliki, kekuasaan kita punya.

Dan keistimewaan yang ada pada kita, berubah dari ilah yang kita puja menjadi nikmat yang kita syukuri.

Allahu Akbar, dengan takbir, takabbur berubah menjadi tasyakkur. Dengan takbir, perasaan tinggi diri berubah menjadi rendah hati.

Allah SWT, telah mengaruniai Rasulullah SAW dengan berbagai kemenangan, dengan kecintaan umatnya, dan dengan ketinggian namanya.

Segala keistimewaan itu digunakannya untuk membesarkan Allah Yang Maha Kuasa.

Sampai suatu saat, istrinya melihat dia bangun tengah malam, berdiri di depan Allah, sehingga pecah dan bengkak-bengkak kedua telapak kakinya.

Ketika “Aisyah bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini padahal telah diampuni Allah dosamu yang lalu dan yang kemudian”.

Rasulullah SAW yang mulia menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada Rasulullah SAW memiliki kelebihan pribadi yang istimewa tetapi tidak menyebabkan beliau takabbur, tetapi sebaliknya malah menyuburkan tasyakkur

Marilah kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai tonggak sejarah yang menandai perubahan kita dari takabbur kepada tasyakkur.

Marilah kita akhiri dengan menghampar kehinaan di hadapan Allah Yang Mahabesar dan memohonkan karunia-Nya.

Allahu Akbar, Wahai Yang Menguasai alam semesta, Yang Menghidupkan dan Mematikan, saksikanlah, kami bersimpuh di hadapan-Mu.

Allahu Akbar, tiada Tuhan kecuali Engkau. Dengarlah puja dan sanjungan kami! Terimalah sembah dan pengabdian kami!. Aamiin.

Aswan Nasution

Aktifis Al Washliyah, tinggal di Lombok NTB

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.