Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si
SALAH satu yang mendapat perhatian khusus oleh Islam adalah keberadaan anak yatim. Anak yatim adalah anak-anak kecil yang belum baligh yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Padahal peran ayah sedemikian sentral dalam keluarga. Seorang ayah adalah pelindung keluarga yang melindungi dari segala hal yang membahayakan. Sosok ayah bagi seorang anak adalah seorang yang menanamkan nilai dan moral bagi anak-anaknya agar dapat tumbuh normal, memiliki masa depan yang cerah dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa.
Seorang ayah juga menjadi contoh utama bagi anak-anaknya, memberikan motivasi untuk memiliki cita-cita dan menjadi ‘jembatan’ untuk mewujudkan cita-cita anak-anaknya.
Alangkah sedih sekali seorang anak jika kehilangan sosok ayah yang begitu penting dalam hidupnya disebabkan karena kematian. Di sinilah diperlukan kepedulian umat Islam untuk memastikan anak-anak yatim yang ditinggal oleh ayahnya tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan memiliki masa depan yang cerah.
Kenapa kita harus peduli dengan anak yatim? Karena anak yatim masih sangat kecil dan tidak bisa mengatur pola hidupnya. Selain itu karena kesendiriannya dan tidak ada orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Peduli Anak Yatim suatu Keharusan
Allah swt telah mengingatkan dalam Firman-Nya: “hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka kawatir terhadapnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya.)” (QS An-Nisa: 9).
Ayat ini sangat berorientasi masa depan karena mengajarkan kepada setiap orang untuk tidak hanya memikirkan kehidupannya sendiri melainkan juga bagaimana nasib anak-anak keturunannya nanti saat orang tuanya telah tiada. Anak-anak yang harus kehilangan orang tua saat usia belum mandiri. Mereka terancam tidak terurus, lemah dan hidup dalam kemiskinan.
Hal ini sepatutnya tidak perlu terjadi dalam sebuah keluarga. Fenomena anak dengan gizi buruk, anak-anak dengan gangguan pertumbuhan (stunting) disebabkan asupan nutrisi yang kurang saat masa pertumbuhan, anak-anak jalanan, anak-anak korban trafficking dan masih banyak lagi kasus anak-anak yang kurang beruntung.
Terkait kepedulian dengan nasib anak yatim, secara lebih khusus Allah swt berfirman:
“Tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik. Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan padamu. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha bijaksana. (QS Al-Baqarah:220).
Kemudian Allah juga berfirman: “Tahukan kalian orang-orang yang mendustakan agama?
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim…” (QS Al Ma’un: 2).
Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa sebagian dari sifat-sifat orang yang mendustakan agama adalah orang-orang menolak dan membentak anak yatim yang datang kepadanya untuk memohon belas-kasihnya demi kebutuhan hidupnya. Penolakan itu sebagai penghinaan dan takabur terhadap anak-anak yatim itu. Itulah orang yang menghardik anak yatim, menyakiti hatinya, dan berbuat zalim kepadanya dengan menahan haknya. Mereka tidak peduli terhadap anak yang sudah kehilangan tumpuan hidupnya itu.
Kepedulian Rasulullah terhadap Anak Yatim
Dalam Kitab Duurratun Nasihin dikisahkan, adalah Rasulullah saw seorang yang kepeduliannya begitu tinggi terhadap anak yatim. Pernah terjadi suatu saat Rasulullah saw keluar rumah untuk melaksanakan idul fitri terdapat anak-anak kecil yang bermain gembira di jalanan. Namun di seberang jalan tampak seorang anak kecil yang duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian yang kurang layak, muka sedih, murung dan nangis tersedu-sedu.
Rasulullah menghampiri anak itu dan bertanya, “Nak kenapa menangis?” kamu tidak bermain bersama mereka?
Anak kecil yang yang tidak mengenali bahwa orang yang di hadapannya adalah Rasulullah saw, menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia berjihad bersama Rasulullah tetapi gugur gugur dalam medan perang tersebut.”
Anak itu juga cerita bahwa ibunya menikah lagi dan suami ibunya mengusir anak itu sehingga dirinya tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sedangkan di hari raya anak itu melihat anak-anak lain bermain dengan senang bersama ayah mereka. Itulah yang membuatnya menangis.
Mendengar penuturan anak kecil itu Rasulullah terenyuh hatinya. Apalagi anak ini adalah anak dari mujahid fi sabilillah yang gugur karena membela kebenaran. Lalu beliau berkata kepada anak itu: “maukah kamu jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” Tanya Rasulullah saw.
Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad saw. Akhirnya anak ini tersenyum dan merasa senang karena penderitaannya akan segera berakhir.
Rasulullah adalah tauladan kita yang tiada duanya. Karena itu sepatutnya kita teneladani beliau dari berbagai aspek kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah kepedulian terhadap nasib anak-anak yatim. Lebih dari itu, saat ini adalah Bulan Muharram, bulan mulia yang sangat dianjurkan untuk menyantuni anak-anak yatim.
Keutamaan Menyantuni Anak Yatim
Di antara keutamaan menyantuni anak yatim adalah sebagai berikut:
Pertama, memperoleh jaminan masuk surga bersama Nabi saw bahkan berdekatan dengan Nabi saw. Sebagaimana Sabda Beliau: “Aku bersama orang yang mengurus anak yatim di surga…” (HR. Bukhari Muslim).
Betapa indah balasan mereka yang mengurus anak yatim, baik dengan cara menyantuninya secara pribadi secara istiqamah, ataupun dengan mendirikan rumah-rumah yatim dan yayasan untuk menjamin masa depan anak-anak yatim.
Kedua, bagi mereka yang merasa memiliki kekerasan hati, kurang peka, egois, mau menang sendiri dan tidak bisa mengontrol diri sendiri bahkan tidak bisa dinasehati dan juga ingin segala kebutuhannya terpenuhi, pesan nabi saw, agar segeralah menyantuni anak yatim.
Dalam hadits Riwayat Thabrani dikisahkan ada seorang yang mengeluh tentang kekerasan hatinya. Nabi bersabda: “Sukakah kamu agar hatimu lunak dan kebutuhanmu terpenuhi?
Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya dan berilah makanan dan minumanmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.
Ketiga, bagi mereka yang menyayangi anak-anak yatim Allah akan menghilangkan kekusahannya pada hari kiamat. Sebagaimana Firman Allah swt: “mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Mereka berkata) sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah demi ridha Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan. Maka Allah lindungi mereka dari keburukan hari itu dan memberikan keceriaan dan kegembiraan kepada mereka.” (QS. Al-Insan: 8-11).
Ayat ini menjelaskan bahwa balasan bagi orang-orang baik adalah Allah swt memelihara mereka dari kesusahan hari kiamat dan memberikan kepada wajah mereka keceriaan wajah dan kegembiraan hati. Semuanya itu karena kebaikan dan kemurahan hati mereka yang tulus ikhlas dan takut akan hari akhirat menyantuni orang-orang yang kurang beruntung seperti anak-anak yatim dan orang miskin. (ta)
*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.






Komentar