Oleh : Karsidi Diningrat
MANUSIA di dunia ini diberi nikmat yang sangat banyak, sehingga kita manusia tidak akan pernah bisa menghitungnya, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Alllah).” (QS. Ibrahim [14]: 34). Nikmat yang banyak tersebut ada yang bersifat jasmaniah dan ada yang bersifat maknawiah, material dan spiritual.
Al-Qur’an menginformasikan kenikmatan tersebut berupa balasan kenikmatan yang bersifat material atau jasmaniah, seperti makanan, minuman, pakaian, perhiasan dan maknawiah, atau spiritual berupa dihilangkannya rasa sedih, rasa takut, dan dipenuhi karunia besar dan rida Allah, sebagaimana diperoleh di akhirat kelak. Hidup di akhirat adalah kehidupan yang serba maknawiah dan rohaniah, dan bukan lagi kehidupan jasmaniah. Karena itu, kesenangan surgawi dan kesengsaraan neraka adalah rohaniah pula.
Kesenangan surgawi yang diterangkan di atas tersebut berkaitan erat dengan ilustrasi tempat tinggal dengan segala macam keindahan dan kesenangan yang dianugerahkan kepada mereka yang berhak dan layak memasukinya. Maka ditambahkan pula kelengkapan yang lainnya sebagai anugerah yang amat tinggi dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Aku (Rasulullah Saw) bertemu (nabi) Ibrahim ketika Isra’. Dia berkata, “Ya Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahukan mereka: “Sesungguhnya surga itu baik lahannya, tawar airnya, lembah-lembahnya datar dan tanamannya “Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar.”
Makanan Penghuni Surga
Ketika seorang mukmin dan yang beramal saleh itu masuk surga, bukan hanya disambut dengan salaamun ‘alaikum, tetapi disuruh juga menyantap hidangan yang sudah disediakan, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.” (QS. At-Tuur [52]: 17-20). “ …berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air, dan buah-buahan yang mereka sukai…” (QS.al-Mursalat [77]: 41-42).
Dan di surga juga disebutkan ada macam-macam makanan yang berbeda, maka itu memang merupakan watak dari makanan dan minuman itu sendiri yang merupakan bagian dari sunnatullah. Namun, keindahan, kelezatan, kenikmatan apa pun bagi penghuni surga adalah lebih dari yang lainnya. Karena itu, Rasulullah menyebutkan kelebihan dari yang lainnya, “bahwa kenikmatan surga tak pernah mata melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan tidak pernah telintas dalam pikiran”. (Mutafaq ‘alaih).
Allah Swt berfirman, “…. bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa …” (QS. Al-Baqarah [2]: 25).
Ayat di atas menyebutkan makanan di surga yang serupa, tetapi berbeda rasa. M. Quraish Shihab ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan, ‘Mereka penghuni surga dianugerahi aneka rezeki, antara lain berupa buah-buahan yang setiap dihidangkan kepada mereka rezeki yang serupa buah-buahan mereka menduganya sama dengan buah duniawi atau sama dengan yang dihidangkan sebelumnya, sehingga mereka berkata, “Ini yang telah dianugerahkan kepada kita sebelum ini, yakni sebelum kami masuk ke surga, ketika kami masih hidup di dunia.”
Banyak ayat yang menerangkan tentang makanan dan minuman di surga sungguh memberikan suatu warna lain bagi mereka yang sedang diliputi kegembiraan luar biasa di tempat dan alam yang luar biasa indahnya, sebagai balasan atas prestasi iman, takwa dan amal saleh.
Minuman Penghuni Surga
Bagian dari pelayanan penghuni surga adalah minuman yang beraneka-ragam, yang kesemuanya tidak diambil sendiri, tetapi diedarkan oleh para pelayan di surga yang masih belia yang disebut wildaan, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 17-19).
Di ayat ini menerangkan tentang keberadaan pelayan yang muda-muda dan juga selalu mendampingi penghuni sebagaimana disebutkan di ayat lain. Mereka duduk-duduk di tempat atau kastil yang dihiasai dengan perhiasan serupa emas dan mutiara, sambil berbincang-bincang dengan pasangannya yang disebut huurin ‘ain (bidadari). Pada waktu itulah penduduk surga dikelilingi oleh anak-anak muda yang tidak akan pernah tua, sehingga tetap lucu dan menarik. Mereka membagikan gelas-gelas dan cawan-cawan serta piala yang diambil dari sumber air yang tak pernah putus.
Dalam ayat lain disebutkan, “Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal, kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka).” (QS. Al-Insaan [76]: 15-16). Pada ayat ini disebutkan bahwa wadah minuman itu adalah bejana-bejana yang terbuat dari perak dan piala-piala dan botol-botol yang terbuat dari gelas, sebagaimana layaknya gelas yang digunakan di dunia, walaupun pasti ada perbedaannya.
Perhiasan dan Pakaian Penghun Surga
Ragam perhiasan dan pakaian adalah merupakan bagian dari keindahan kehidupan manusia di dunia. Karena itu di akhirat kelak, penghuni surga disiapkan pakaian yang pernah mereka rasakan. Nostalgia dan kerinduan masa silam adalah fitrah kehidupan itu sendiri. Maka di surga disediakan segala macam, pakaian yang pernah mereka pakai atau hanya dilihat belaka.
Allah Swt. berfirman, “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. Mereka itulah yang memperoleh Surga “Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi perhiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al-Kahf [18]: 30-31).
Manusia-manusia unggul yang berhak menerima keunggulan ditempatkan ditempat yang unggul, yaitu surga-Nya, surga ‘Adn. Maka wajar bila mereka dalam memasuki dan mendiami tempat itu kesenangan lahiriah pun di anugerahkan, yaitu berupa perhiasan-perhiasan dari emas dan mutiara, yang merupakan lambang kemuliaan, karena “emas” menjadi istilah dan lambang tertinggi hadiah sebagaimana seseorang mendapat piala terbuat dari emas; pakaian-pakaian yang indah terbuat dari sutera halus tipis dan juga tebal.
Rasulullah saw. bersabda, “Sewaktu Allah Swt. menciptakan surga ‘Adn, maka Dia menciptakan di dalamnya hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Setelah itu Dia berfirman, “Berkatalah engkau.” Maka surga ‘Adn mengatakan, “Telah beruntung orang-orang yang beriman.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas r.a.).
Dalam surga banyak terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorang manusia pun. Hal itu selain dari kenikmatan-kenikmatan yang baru diciptakan oleh Allah swt., setelah semua penduduk surga masuk ke dalamnya karena sesungguhnya dari satu waktu ke waktu yang lain Allah Swt, selalu menciptakan yang baru bagi penghuni surga.
Rasulullah Saw. bersabda, “Thuba adalah sebuah pohon di dalam surga yang tingginya sama dengan perjalanan seratus tahun, pakaian-pakaian penduduk surga dikeluarkan dari dadaunan dan ranting-rantingnya.” (HR. Ibnu Hibban melalui Abu Sa’id r.a.). Beruntunglah orang yang masuk surga karena di dalam surga terdapat sebuah pohon yang naungannya sepanjang perjalanan seratus tahun; dari tangkai-tangkainya keluar pakaian yang indah-indah untuk semua penghuni surga.
Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda, “Thuba adalah sebuah pohon di dalam surga yang ditanam oleh kekuasaan Allah, dan Dia meniupkan ke dalamnya roh yang diciptakan-Nya. Sesungguhnya tangkai pohon surga tersebut dapat terlihat dari balik tembok surga; pohon itu menumbuhkan perhiasan-perhiasan, dan buah-buahannya merunduk dengan sendirinya ke mulut penduduk surga.” (HR. Ibnu Murdawaih melalui Ibnu Abbas r.a.). Pohon Thuba ini ditanam langsung (yakni diciptakan langsung) oleh Allah Swt. dengan kekuasaan-Nya; pohon tersebut berbuah berbagai macam perhiasan dan beraneka ragam buah-buahan yang mudah dipetik, untuk penghuni surga.
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka dari sutera.” (QS. Al-Hajj [22]: 23).
Pada dasarnya ayat-ayat ini menerangkan tentang ganjaran yang diterima oleh mereka yang sujud serta patuh kepada Allah dan tuntunan-Nya dalam hukum alam dan Syariat. Allah menjelaskan, sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman kepada-Nya yang Maha Esa dengan keimanan yang benar yang mencakup segala aspek keimanan dan membuktikan kebenaran imannya dengan mengerjakan amal-amal saleh, sesuai tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Allah memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya, yakni di bawah istana-istana dan pepohonannya mengalir sungai-sungai. Di sana mereka akan mendapatkan kenikmatan rohani dan jasmani. Untuk kenikmatan jasmani mereka dihiasi antara lain dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas mutiara, dan pakaian yang mereka pakai adalah sutera. Mereka juga mendapat kenikmatan rohani, diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik, yakni diilhami Allah untuk mengucapkan kalimat indah dan benar dan ditunjuki pula ke jalan Allah yang lebih lebar dan terpuji. Wallaahu a’lam bish-shawaab.
-Dosen Aqidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar