oleh

Hakikat Manusia Hidup di Dunia

POSKOTA.CO-Saat ini banyak masyarakat yang mengalami kegalauan dan tidak tahu arah tujuan hidup sesungguhnya. Banyak yang mengejar materi, jabatan, namun seakan belum pernah tercukupkan dan tidak menemukan kebahagiaan. Di sisi lain, ada tukang becak yang tidur nyenyak dan temannya tertawa lepas bahagia. Dua sisi kehidupan yang berlawanan dan sering kita jumpai.

Di dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 berbunyi: “Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,”. Yang artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”.

Dari ayat di atas tersirat bahwa hakikat kita hidup di dunia adalah untuk beribadah. Ibadah tidak hanya  terbatas pada ibadah mahdhoh (yang ditentukan), tapi juga ghoiru mahdhoh. Jadi, dengan meniatkan hidup di dunia untuk beribadah maka akan mendapat keridhoan dari Allah SWT.

Tidak hanya sholat atau puasa saja yang dinilai ibadah dari Allah SWT. Bahkan, tersenyum yang merupakan hal sepele bagi sebagian orang juga merupakan ibadah. Sebagaimana sering kita dengar, “tabassamuka fi wajhi akhiika shodaqotun”. Artinya, senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah.

Pesan yang disampaikan dari tersenyum atau wajah berseri-seri adalah untuk menyenangkan orang lain. Sebab, Islam datang untuk membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana doa yang sering dilantunkan, “robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzabannar”. Islam mengajarkan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Tidak terlalu materialistik, namun juga tidak mementingkan akhirat saja.

Karena hakikat hidup di dunia adalah beribadah, maka semua aktivitas diniatkan untuk ibadah. Seperti saat bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga juga bagian dari ibadah. Tentu, saat bekerja dan memberikan nafkah maka akan mendapatkan pahala. Untuk itu, kenapa sejak kecil diajarkan agar berdoa dalam setiap menjalankan aktivitas dari bangun tidur hingga mau tidur. Salah satu tujuannya tidak lain adalah untuk mengingat Allah SWT.

Hanya saja, dalam kehidupan tidak selalu mulus sesuai keinginan. Ada saatnya berlimpah kenikmatan yang diliputi kebahagiaan, ada juga saat datangnya kesedihan ditimpa musibah. Menyikapi hal ini, kita hanya dianjurkan untuk bersyukur saat menerima kenikmatan dan bersabar pada waktu kesulitan. Semua akan berjalan dengan lancar manakala menyertakan  semua usaha dari dan untuk Allah SWT. Karena setelah menerima kesulitan maka akan datang kemudahan serta kebahagiaan. Wallahu a’lam bis showab. (anton)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.