Oleh : Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si/ Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.
ALHAMDULILLAH kita telah berada di pertengahan bulan Ramadhan dan sudah lebih dari setengahnya dapat menjalankan ibadah puasa. Kita bersyukur masih bisa istiqomah menjalankannya dan berharap kiranya tetap diberi kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikannya sampai tiba Idul Fitri nanti.
Ibadah puasa yang kita jalankan selama satu bulan memang ada yang mengatakan cukup berat karena harus menahan lapar dan haus serta menahan untuk tidak berhubungan seks pada siang hari dan setiap hari selama bulan Ramadhan. Makanya ada orang kafir yang tidak senang dengan Islam mengatakan bahwa puasa adalah ibadah yang tidak realistis dan tidak manusiawi karena membebani kehidupan manusia. Di saat manusia harus makan tiga kali dalam sehari, Islam malah mewajibkan untuk tidak makan sama sekali pada siang hari. Benarkah demikian?
Semua Perintah Ibadah untuk kebaikan manusia Sebagai orang Islam dan orang beriman ketika datang perintah Allah swt apapun bentuk perintah tersebut, mau berat atau ringan, mau banyak atau sedikit bukan persoalan. Karena orang beriman hanya menjawab Sami’naa wa atha’naa, kami dengar perintah itu dan akan kami ta’ati. Orang beriman juga sangat yakin bahwa semua perintah Allah swt yang diwajibkan adalah semata-mata demi kebaikan hamba-Nya, dan sebaliknya, semua larangan-Nya akan membawa mudharat bagi hamba jika tetap dilakukan, sebagaimana pula jika berbuat baik akan kembali ke diri sendiri manfaatnya.
Firman Allah: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya. Ketika Allah Swt memerintahkan sholat maka sholat itu akan membawa kebaikan bagi manusia itu sendiri untuk menjaga hubungan kepada Sang Pencipta dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Ketika Allah memerintahkan menunaikan zakat, maka zakat akan membawa kebaikan bagi mereka, yaitu hartanya jadi suci dan berkah. Begitu pula ketika Allah Swt memerintahkan untuk menunaikan puasa Ramadhan sudah barang tentu puasa itu sangat bermanfaat bagi mereka yang melakukan, terutama untuk kesehatan jasmani maupun Rohani.
Allah Swt yang Maha Pengasih dan Penyayang sangat mustahil menzholimi hamba-Nya dengan segenap perintah dan larangannya, termasuk dalam hal ini adalah perintah ibadah puasa. Ibadah puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan ditujukan untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa adalah orang yang beriman yang menggunakan jasmani dan rohaninya seluruhnya untuk mengabdi kepada Allah swt. melalui aktifitas keseharian yang berwujud menjalankan segala yang diperintahkan Allah swt dan menjauhi hal yang dilarang-Nya, baik dalam bentuk ibadah maupun mu’amalah yang hiasi dengan akhlakul karimah.
Puasa untuk Kesehatan Jasmani
Sehat secara jasmani dan rohani adalah dambaan setiap orang. Membentuk pribadi yang sehat jasmani dan rohani ternyata adalah salah satu berkah menjalankan ibadah puasa. Nabi Muhammad saw bersabda: ”Berpuasalah kalian niscaya kalian akan sehat.” (HR.Thabrani). Apa yang disampaikan Rasulullah saw ini menjadi jaminan bagi kaum muslimin yang berpuasa agar tidak mengkawatirkan kesehatannya terrganggu jika berpuasa, tidak ada asupan makanan dan minuman selama dua belas jam setiap harinya selama bulan Ramadhan.
Meskipun Nabi Muhammad saw telah mengatakannya lebih dari 15 abad yang lalu, namun ternyata puasa justru menambah tingkat kesehatan jasmani dan rohani bagi yang berpuasa.
Terkait manfaat berpuasa bagi kesehatan jasmani mereka yang berpuasa ternyata didukung oleh pengetahuan secara ilmiah baik yang dilakukan melalui penelitian dan penemuan. Salah satu di antaranya adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Peraih Nobel 2016 bidang physiologi dan kedokteran yang berasal dari negeri Sakura Jepang, yaitu Ilmuwan Yoshinori Ohsumi.
Ilmuwan itu telah membuktikan bahwa ketika seseorang lapar (puasa) dalam jangka waktu tidak kurang dari 8 jam dan tidak lebih dari 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut autophagisom. Autophagisom sebagai suatu sapu raksasa yang mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan bisa membahayakan tubuh untuk dikeluarkan. Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel kanker dan sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit. Protein autophagisom tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya.
Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar. Sel-sel yang lapar ini akan memakan sel-sel dirinya yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak atau sel mati, agar tidak menjadi sampah dalam tubuh. Dengan demikian sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang bisa membahayakan tubuh.
Jadi, tubuh orang yang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri. Dokter Yoshinori Ohsumi ini menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (puasa) dua atau tiga kali dalam seminggu. Sebuah Jurnal dari Rusia menyebutkan nasihat salah seorang dokter yang menyatakan jika manusia di dunia ingin sehat maka laksanakanlah puasa sebanyk tiga puluh hari dalam setahun.
Selain itu banyak pula keterangan-keterangan ilmiah lainnya dalam dunia kedokteran yang menyatakan bahwa dengan berpuasa tubuh menjadi tambah sehat. Puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi kolesterol dalam darah, bermanfaat bagi kesehatan jantung, penurunan kadar kolesterol dalam darah, dan masih banyak manfaat kesehatan jasmani lainnya.
Berdasarkan informasi dunia kedokteran, manfaat puasa akan lebih optimal bagi kesehatan, jika kita melakukan puasa dengan benar, yaitu; tidak melupakan sahur, memperbanyak minum air delapan sampai sepuluh gelas setiap hari yang dapat kita lakukan mulai saat berbuka puasa sampai sahur. Berbuka puasa dengan minuman manis, buah kurma. Makan sahur dengan menu yang mengandung unsur buah-buahan dan sayur-sayuran agar tubuh tetap bugar saat seharian berpuasa dan mengandung lemak sebagai cadangan energi.
Berolahraga saat berpuasa dapat dilakukan agar tubuh tetap sehat dengan memilih olah raga yang ringan agar tidak menguras energi berlebihan, seperti jalan-jalan pagi.
Puasa untuk Kesehatan Rohani
Kemudian terkait berkah puasa untuk kesehatan rohani adalah bagaimana seorang mampu menjaga dan mengelola kecerdasan spiritual (ESQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan Intelektual yang telah dikaruniakan oleh Allah swt kepada manusia yang berbeda dengan makhluk yang lainnya. Kecerdasan spiritual adalah kesadaran seseorang bahwa dirinya merupakan mahkluk Tuhan sekaligus khalifahnya yang mewakili Allah swt untuk menciptakan ‘bayangan’ surga di dunia agar damai, makmur dan seluruh penduduknya beriman kepada-Nya.
Ibadah puasa membantu seseorang untuk senantiasa mengingat Allah swt dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang sebagaimana firmannya:” (yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS Al-Ra’du:28). Dengan menahan lapar dan haus kaum muslimin dapat belajar agar dalam hidup tidak terlalu condong ke makan, minum dan sahwat atau semua hal yang bersifat materi saja. Karena jika berlebihan dan tanpa control manusia akan lalai dari mengingat Allah swt. Puasa mengajarkan bahwa makan, minum, kebutuhan biologis seksual hanyalah media untuk menunjang peran manusia sebagai wakil Tuhan bukan tujuan kehidupan itu sendiri.
Ibadah puasa juga menyehatkan kecerdasan emosi seseorang yang menjalankannya. Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk dapat menilai, menerima, mengelola dan mengontrol emosi dirinya dan orang lain. Dengan rasa lapar dan haus yang dirasakan saat berpuasa diharapkan mampu mengurangi emosi-emosi negatif yang seringkali muncul. Ibadah puasa akan membentuk pribadi yang matang, luwes, tepo seliro, toleransi, dan semacamnya sehingga dalam bermu’amalah mengalami keberhasilan. Dengan berpuasa seseorang dapat melatih menahan amarah semata-mata karena Allah dan ingat pesan Nabi saw bahwa “bukanlah orang yang kuat adalah mereka yang menang dalam perkelahian melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. “(HR. Bukhari Muslim).
Ibadah puasa menjamin membantu mereka yang berpuasa untuk dapat memaksimalkan peran akalnya dalam kehidupan dan melejitkan kecerdasan intelektual seseorang sehingga dapat berfikir jernih, bertindak secara terarah dan tepat, dapat menguasai lingkungan dan sebagainya.
Orang yang berpuasa diajarkan untuk memiliki kemampuan menahan hawa nafsu yang selalu berbuat tanpa perhitungan matang, sesuka dan semaunya. Akibatnya bukan membawa manfaat malah menghasilkan mudarat.
Ibadah puasa membantu orang berakal melihat sesuatu secara jernih dan jauh ke depan baik di kemudian hari maupun hari kemudian. Ukurannya bukan hanya keuntungan, kepuasan dan kekuasaan melainkan bagaimana semua itu membawa manfaat dan kebaikan bagi dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar. Bagi orang yang berakal jika hanya mencari keuntungan, dan kebahagiaan di dunia hanyalah kerugian yang akan di dapat.
Orang berakal menginginkan kebaikan di dunia dan akhirat, serta selamat saat nanti menghadapi yaumil hisab pada hari kiamat. Mereka berpedoman kepada Firman Allah:” walal aakhirotu khoirullaka minal uula. Negeri akhirat itu lebih baik dari dunia.” (QS Ad-Dhuha:4). (Wallohu A’lam) (ta)






Komentar