oleh

Benarkah Yahudi Bangsa Pilihan Tuhan?

Oleh: Karsidi Diningrat )*

BAIK Al-Qur’an maupun Taurat yang ada sekarang sama-sama menyebutkan secara jelas tentang prioritas dan keistimewaan ini. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakannya adalah sebagai berikut: “Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu).” (QS. Al-Baqarah, 2: 47). “Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 122).

Dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan sungguh! Kepada Bani Israil telah Kami berikan Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian, Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).” (QS. Al-Jasiyah, 45: 16) dan, “Dan sungguh! Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami) di atas semua bangsa (pada masa itu).” (QS. Ad-Dukhan, 44: 32). Dan dalam ayat yang lain disebutkan, “Dia (Musa) berkata, “Pantaskah aku mencari Tuhan untukmu selain Allah, padahal Dia yang telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu).” (QS. Al-A’raf, 7: 140).

Sedangkan teks-teks Taurat yang menyatakan tentang keutamaan tersebut diantaranya sebagai berikut: “Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan Tuhan berseru dari gunung itu kepadanya: “Beginilah kau katakan kepada keturunan Yakub dan kau beritakan kepada orang Israil: Kamu sendiri telah melihat apa yang Ku katakan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepadaKu. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israil.” (Keluaran, 19: 3-6) dalam Alkitab: Perjanjian Lama (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1976: 91).

Disebutkan juga dalam teks yang lain, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya.” (Ulangan, 7: 6), Ibid, hal. 221. “… Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, dan engkau dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayanganNya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi.” (Ulangan, 14: 2). Ibid , hal. 229. Dan, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain.” … “Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milikKu.” (Imamat, 20: 24 dan 26), Ibid, hal. 147.

Dari teks-teks Taurat ini jelaslah bahwa Allah SWT memang telah menjadikan Bani Israil sebagai umat pilihan dan memiliki keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat-umat lain. Akan tetapi, bagaimanakah sebetulnya prioritas, pilihan, dan keutamaan yang ada pada mereka ini? Apakah itu bersifat mutlak, tanpa syarat, atau sebaliknya?

 Anugerah itu Hanyalah Bersifat Terbatas dan Bersyarat

Dari teks-teks Taurat dan ayat-ayat Al-Qur’an, pasti akan menemukan jawabannya, bahwa semua anugerah itu hanyalah bersifat terbatas dan bersyarat, yang harus bisa mereka dapatkan setelah memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah beriman kepada Allah dan taat kepada-Nya, mematuhi segala perintah dan larangan-Nya, dan amanah menjaga perjanjian Allah yang telah Ia tetapkan atas mereka. Apabila mereka telah melengkapi semua persyaratan ini, maka benarlah bahwa mereka adalah bangsa pilihan dan yang terbaik. Akan tetapi, seandainya mereka melanggar salah satu saja darinya, maka hilanglah semua anugerah itu dari mereka.

Dalam Taurat disebutkan firman Allah kepada Nabi Musa: “Beginilah kau katakan kepada keturunan Ya’kub dan kau beritakan kepada orang Israil,”  ‘… Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.” (Keluaran, 19: 3 dan 5). Ibid, hal. 91). “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.” (Ulangan, 28: 1). Ibid, hal. 245.

Disebutkan juga dalam teks yang lain, “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan, 28: 13-14). Ibid, hal. 245.

“Tetapi jika engkau sama sekali melupakan Tuhan, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan Tuhan dihadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu.” (Ulangan, 8: 19-20). Ibid , hal. 223.

“Tetapi jika engkau tidak mendengar suara Tuhan, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang Kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau: Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang. Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu. Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Terkutuklah engkau pada waktu keluar. Tuhan akan mendatangkan kutuk, huru hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku. Tuhan akan melekatkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. Tuhan akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama, dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa. Juga langit yang di atas kepadamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawahnya menjadi besi. Tuhan akan menurunkan hujan abu dan debu ke atas negerimu; dari langit akan turun semuanya itu ke atasmu, sampai engkau punah. Tuhan akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu. Bersatu jalan engkau akan keluar menyerang mereka, tetapi bertujuh jalan engkau akan lari dari depan mereka, sehingga engkau menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. Mayatmu akan menjadi makanan segala burung di udara serta binatang-binatang di bumi, dengan tidak ada yang mengganggunya.” (Ulangan, 28: 15-26). Ibid_, hal.245-246).

Perjanjian Allah SWT Kepada Bani Israil

Adapun Al-Qur’an telah menegaskan dalam ayatnya bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan perjanjian kepada Bani Israil, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, “Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja.” (QS. Al-Baqarah, 2: 40). “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakan salat dan tunaikan zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (meningkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (QS. Al-Baqarah, 2: 83).

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu. Kemudian kamu berikrar dan bersaksi. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah, 2: 84-86).

Hamka dalam bukunya menjelaskan (2:40), “Dihadapkanlah seruan kepada mereka, karena patutlah mereka yang terlebih dahulu menerima kebenaran yang di bawa Muhammad s.a.w. mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Di antara bangsa-bangsa yang sezaman dengan mereka dahulunya, kepada merekalah dikhususkan Tuhan nikmat wahyu. Sampai mereka dilepaskan dari perbudakan Fir’aun dan diberi tanah istimewa pusaka nenek moyang mereka Ibrahim dan Ishak, dan berpuluh-puluh banyaknya Nabi dan Rasul dibangkitkan dalam kalangan mereka. Patutlah mereka mengingat nikmat itu dan dari sebab itu patut pulalah mereka yang dahulu sekali menyatakan percaya pada Muhammad SAW.

Di samping itu disuruh mereka mengingat kembali janji khusus mereka dengan Allah. Dan pokok pertama janji, dipusatkan kepada Tauhid, yang sampai sekarang masih terpancang dengan teguhnya dalam yang dinamai “Hukum Sepuluh.” Yang salah satunya yaitu mereka tidak akan mempersekutukan yang lain dengan Allah. Dan supaya beriman kepada Rasul-Rasul Allah yang datang menegakkan kepercayaan kepada Allah Yang Esa itu. Dan dijanjikan pula kelak kemudian hari akan diutus pula seorang Rasul dari antara saudara mereka, yaitu Bani Ismail. Itulah Nabi Muhammad Saw. Sekarang Nabi itu telah datang membawa ajaran persis ajaran yang telah mereka janjikan dengan Allah itu pula, yaitu Tauhid meng-Esa-kan Tuhan. Patutlah mereka ingat janji itu kembali. Dan Tuhan pun telah berjanji pula dengan mereka, akan memberi mereka kemuliaan di antara manusia dan bangsa-bangsa. Asal mereka tetap setia akan janji itu. Tuhanpun akan memenuhi janji-Nya pula. Dan kata Tuhan selanjutnya, kepada-Ku sajalah takut! Jangan takut kepada yang lain. Jangan segan menyatakan iman kepada Muhammad karena ancaman dari ketua-ketua mereka, rabbi-rabbi dan ahbar (pendeta-pendeta) mereka. Dan jangan segan menyatakan iman, karena takut akan kalah pengaruh.”

Lebih lanjut Hamka menjelaskan, “Wahai Bani Israil!”. Mereka dipanggil lagi dengan nama yang terhormat itu. Dengan menyebut nama nenek moyang mereka yang mulia itu, nama kehormatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ya’kub Amir Pahlawan Allah, moga-moga mereka sadar kembali. Memang Tuhan mengajarkan kepada Rasul-Nya agar memanggil orang dengan nama yang Dia senangi. Apatah lagi dengan memanggil mereka dengan nama itu, tercakuplah mereka jadi satu semua, tidak ada lagi bagi ini dan kabilah itu yang rasa tersisih.”

Diperingatkan hal ini, bahwa kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka itu, bukanlah karena darah keturunan mereka lebih tinggi dari darah keturunan yang lain. Sekali-kali tidaklah Tuhan mengajarkan perbedaan suku (ras), tinggi itu rendah ini. Mereka pernah dimuliakan melebihi bangsa dan suku yang lain, sebab merekalah penerima waris ajaran nenek moyang mereka Ibrahim, Ishak dan Ya’kub tentang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Selama Tauhid itu mereka pegang teguh, kemuliaan itu tidaklah akan dihilangkan atau dicabut dari mereka. Jadi mereka diberi kemuliaan ialah karena kemuliaan pendirian. Adapun kalau Tauhidnya telah hilang, dan yang mereka pertahankan telah tinggal kemegahan saja menyebut-nyebut kebesaran yang lampau, hinalah mereka dan bangsa lain yang menerima dan menjungjung Tauhid itu pulalah yang akan dimuliakan Allah.

Jadi, Bani Israil barulah menjadi umat terbaik dan umat pilihan jika mereka mampu melaksanakan semua syarat di atas. Pertanyaannya sekarang, apakah mereka telah melaksanakan semua syarat tersebut sehingga mereka memang layak mendakwakan diri sebagai umat pilihan?

Kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka justru durhaka dan membangkang kepada Allah, menyimpang dari jalan-Nya, meningalkan perintah-perintah-Nya, dan melanggar batasan-batasan-Nya, bahkan mempersekutukan-Nya dengan menyembah berhala-berhala. Wallahu a’lam bish-shawwab.

)* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *