oleh

Resmikan KRI Sriwijaya-100: Kasal Buka-bukaan Soal Hibah Italia, Retrofit hingga Peluang F-35B

JAKARTA — Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla. memimpin langsung upacara reflagging KRI Sriwijaya-100 di Jakarta.

Momen bersejarah ini ditandai dengan penurunan bendera Italia (striking colors) dan pengibaran bendera Merah Putih (hoisting colors), yang secara resmi mengukuhkan kapal induk helikopter tersebut ke dalam jajaran alutsista TNI AL sekaligus menetapkan komandan kapalnya. Usai prosesi, Kasal menegaskan bahwa kapal dalam kondisi sangat baik dan siap pertempuran maupun operasi setelah menempuh pelayaran selama 20 hari dari Italia menuju tanah air tanpa kendala teknis sedikit pun.

​Dalam sesi doorstop bersama awak media, Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan alasan di balik pemilihan nama Sriwijaya. Nama tersebut merujuk pada Kedatuan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim tertua di Nusantara—bahkan lebih tua dari Majapahit—yang diusung untuk menghidupkan kembali semangat keemasan dan kejayaan kemaritiman Indonesia di era modern.

Keputusan Pemerintah Italia menghibahkan kapal ini pun menjadi bukti nyata eratnya diplomasi militer serta kedekatan emosional antara TNI AL dan Marina Militare.

Rekam jejak panjang Indonesia dalam mengoperasikan berbagai alutsista buatan Italia, seperti helikopter, sistem persenjataan, hingga kapal jenis PPA/fregat, turut melapangkan Italia memercayakan raksasa laut tersebut ke pangkuan Indonesia.

​Pengoperasian KRI Sriwijaya-100 kini telah sepenuhnya dikendalikan oleh prajurit TNI AL. Sebanyak 400 personel disiapkan untuk mengawaki kapal secara penuh, diawali oleh 100 prajurit inti yang telah mengikuti pelatihan dan mentransfer ilmu serta keterampilannya kepada 300 prajurit lainnya demi penguasaan operasional teknis secara menyeluruh.

Guna menyelaraskan spesifikasi kapal dengan kebutuhan nasional, TNI AL berencana menggelar proses modifikasi (retrofit) secara kolaboratif antara PT PAL Indonesia, Fincantieri, dan mitra industri pendukung lainnya.

Langkah ini mencakup penggantian sistem komunikasi standar NATO milik Italia dengan sistem komunikasi mandiri versi Indonesia yang memakan waktu pengerjaan 4 hingga 5 bulan.

Pelaksanaan retrofit sendiri bersifat fleksibel; jika terdapat penugasan operasional mendesak dalam waktu dekat, pergerakan kapal akan didahulukan sebelum masuk ke dok pemeliharaan.
​
Secara fungsional, KRI Sriwijaya-100 dibekali fleksibilitas tinggi baik untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti kemanusiaan dan penanggulangan bencana, maupun operasi tempur. Geladak utamanya dirancang untuk mendukung operasional take-off dan landing seluruh jenis helikopter dari tiga matra (TNI AL, TNI AD, TNI AU) serta diproyeksikan untuk pengoperasian drone/UAV.

Menjawab rasa penasaran publik mengenai potensi pengoperasian pesawat tempur lepas landas pendek/vertikal (V/STOL), Kasal membenarkan bahwa desain geladak kapal ini aslinya memang dirancang untuk jet tempur Sea Harrier dan F-35B Lightning II.

Meski Angkatan Laut berkeinginan melengkapi kapal tersebut dengan jet tempur V/STOL, realisasinya sangat bergantung pada kondisi alokasi anggaran dan keputusan pemerintah. Seluruh skema pembiayaan pemeliharaan jangka panjang—mulai dari perawatan rutin tahunan hingga doking lima tahunan—telah disiapkan secara terstruktur bersama Kementerian Pertahanan RI demi menjamin kesiapan operasional KRI Sriwijaya-100 dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia. (aga)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *