oleh

Saat Runway Jadi Ruang Tamu, Warga dan TNI AU Halim Bersatu dalam Gemuruh Piala Dunia

​JAKARTA – Suasana di Ujung Runway 06 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur mendadak berubah menjadi stadion terbuka yang hangat pada Sabtu malam (4/7/2026). Di bawah langit Jakarta, puluhan warga RW 05 Kelurahan Halim Perdanakusuma duduk bersila berdampingan dengan prajurit TNI AU, mata mereka tertuju pada layar lebar yang menayangkan laga panas babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Maroko kontra Kanada.

​Acara bertajuk ‘Bola Gembira’ ini bukan sekadar ajang nonton bareng (nobar). Ini adalah wujud nyata bagaimana batas antara seragam militer dan warga sipil melebur menjadi satu ikatan persaudaraan.
​
Bukan Sekadar Nobar Sepak Bola
Bagi Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M., malam itu adalah tentang meruntuhkan sekat. Ia ingin pangkalan udara bukan hanya dipandang sebagai area militer yang eksklusif, melainkan sebagai ‘rumah’ yang terbuka bagi tetangga terdekatnya.

​”Sepak bola selalu punya cara ajaib untuk menyatukan kita. Malam ini, di sini, tidak ada pangkat, tidak ada jabatan. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan sebagai satu keluarga besar,” ujar Marsma TNI Ali Gusman, di sela-sela riuhnya sorakan penonton, sebagaimana dikutip, Minggu (5/7/2026).

​Merajut Kemanunggalan
Di tengah gemuruh dukungan untuk gol-gol yang tercipta, terselip pesan mendalam tentang kemanunggalan TNI dan rakyat. Kegiatan yang diinisiasi Lanud Halim bekerja sama dengan TVRI ini berhasil menciptakan suasana yang membumi. Warga dari RW 05 tampak akrab berbagi tawa dan obrolan dengan para prajurit, menciptakan pemandangan yang menyejukkan hati.

​Bagi warga setempat, kehadiran TNI AU di tengah mereka bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan sosial mereka. Ini adalah bukti bahwa nasionalisme tidak selalu harus diucapkan dalam upacara formal; terkadang, nasionalisme hadir dalam bentuk sederhana: duduk bersama, ngopbar (ngopi bareng) mendukung tim favorit, dan merayakan persatuan di tanah yang sama.

​Acara yang berakhir larut malam ini meninggalkan kesan mendalam. Lanud Halim Perdanakusuma membuktikan bahwa sinergi yang positif bisa dibangun melalui cara-cara kreatif dan humanis, menciptakan lingkungan yang kondusif, harmonis, dan tentunya, penuh rasa kekeluargaan. (*/aga)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *