oleh

Wapang TNI Jenderal Tandyo Sidak Yonif Badak Sakti Pandeglang, Pastikan Pangkalan Militer Bawa Berkah Bagi Warga

​PANDEGLANG – Pertahanan sebuah negara tidak melulu soal moncong senapan atau tebalnya dinding benteng pertahanan. Di Pandeglang, Banten, Jumat (5/6/2026), TNI menunjukkan wajah  humanis: bahwa kedaulatan tertinggi sebuah bangsa justru bermula dari ketahanan dapur dan senyum di wajah rakyatnya.

Pesan mendalam itulah yang tersirat saat Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R, bersama Wakasad Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, berjalan di atas tanah merah pembangunan Batalyon Infanteri (Yonif) TP 842/Badak Sakti.

Mereka datang selain menginspeksi barak, juga memastikan kehadiran pangkalan militer baru ini menjadi berkah yang menghidupkan tanah para jawara tersebut.

Di sela-sela debu pembangunan markas, rombongan jenderal ini melangkah menuju Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Di sinilah denyut nadi jurnalisme humanis itu terasa. Koperasi ini bukan sekadar papan nama, tapi adalah wadah gotong royong modern yang dirancang TNI untuk membebaskan petani dan pedagang kecil dari jerat kemiskinan lokal.

“Negara ini tidak akan pernah kuat kalau rakyatnya masih kesusahan. Tugas kami menjaga mereka, baik dari ancaman luar maupun dari ancaman lapar,” bisik seorang perwira.

​Nyaris tanpa sekat, para petinggi TNI ini juga menyaksikan langsung keringat prajurit yang menyatu dengan semen dan kerikil dalam Karya Bakti. Jalan beton yang sedang dibangun bukan cuma soal infrastruktur fisik, melainkan “jalur sutra” baru yang akan mengantarkan anak-anak Pandeglang ke sekolah dengan sepatu yang tetap bersih, dan membawa hasil bumi petani ke pasar dengan lebih cepat.

Kunjungan kerja ini menyuarakan satu narasi besar tentang nasionalisme yang membumi. TNI sedang memperagakan integrasi total: membangun pertahanan, menghidupkan ekonomi, dan membentangkan konektivitas.

Apa yang terjadi di Pandeglang adalah bukti bahwa raga TNI boleh berada di barak militer, namun hati dan pengabdian mereka sepenuhnya tertanam di rumah-rumah rakyat. Di atas jalan beton dan di dalam ruang-ruang koperasi itulah, arti sejati dari bela negara sedang ditulis ulang dengan tinta kepedulian. (aga/in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *